Be My Wife

Be My Wife
Strategi



“Susul jangan? Susul jangan?” Retha menghitung kancing baju seragamnya.


“Hm gimana yah? Tapi gue belum pernah pergi jauh sendirian. Di depan belok kanan aja Pak, ke Turangga Group.” Alih-alih pergi ke Jakarta untuk menyusul Adrian Retha malah berakhir di lobi Turangga Grup. Dia yang biasa langsung masuk ke ruangan ayah maupun daddy nya jika main ke kantor nyatanya tak bisa menerobos lobi begitu saja. Setiap orang yang akan masuk meski menempelkan id card mereka maka jalan akan terbuka, sedang yang tak memiliki id card tentu harus berurusan dengan bagian front office terlebih dulu.


“Ada yang bisa saya bantu, Dek?” tanya salah satu petugas front office. Tiga orang yang ada di meja itu terlihat mempesona dengan tampilan cantik dan sopan.


“Ini Mba, saya mau ketemu sama Papa Rangga.” Jawab Retha. Ketiga petugas itu lantas saling tatap, setahu mereka pimpinan tak memiliki anak perempuan. Hanya satu anak laki-laki yang selalu sopan dan murah senyum tapi tak bisa digapai, Adrian Haidar. Putra sematawayang pimpinan yang saat ini sedang menempuh Pendidikan di luar negri.


“Mau ketemu Om Rangga.” Ralat Retha.


“Pak Rangga maksudnya.” Ralatnya lagi, karena saat dirinya menyebut Om ketiga petugas malah meliriknya dari ujung kaki hingga kepala.


“Dikiranya gue sugar baby apa?” batin Retha.


Karena para petugas tak juga memenuhi keinginannya, Retha kembali bertanya. “jadi gimana bisa nggak saya ketemu Pak Rangga?”


“Maaf, apakah sebelumnya sudah membuat janji?” tanya petugas yang berdiri di tengah.


“Belum.”


“Kalo begitu tulis dulu nama sama keperluannya saja, Dek. Nanti saya masukan list tamu supaya ditinjau oleh sekretaris Pak Rangga. Tinggalkan juga nomor yang bisa dihubungi supaya nanti kami bisa menghubungi adek jika sudah mendapat jadwal temu.” Jelas petugas dengan ramah. Berbeda jauh dengan petugas front office di sinetron yang biasanya langsung mengusir orang yang tak dikenal atau bersikap tidak ramah.


“Emang mesti kayak gitu yah, Mba? Bilang aja ada menantunya gitu, pasti langsung dibolehin masuk deh.”


“Menantu?” tanya petugas, sementara petugas lainnya terlihat menahan tawa. “Tinggalin nama sama no telepon saja yah, sesuai prosedur.” Sambung yang lainnya.


“Ish ribet banget dah!” Retha mulai tak sabar.


Retha berdiri di depan front office sambil menunggu mama mertuanya menjawab telepon, namun belum sampai dijawab Retha sudah mematikannya begitu melihat seseorang yang ia kenal berjalan bersama dua orang wanita cantik.


“Kak Suga!” Teriak Retha kemudian menghampiri Agus. “Beneran kak Suga ternyata.”


“Kalian duluan aja, ada adek gue.” Agus meminta dua pegawai yang bersama dirinya untuk pergi lebih dulu.


“Ngaku-ngaku ih! Adek ketemu gede mba!” ucap Retha pada dua Wanita yang hanya menatapnya tak suka dan pergi begitu saja.


“Gitu banget liatnya. Pacar kakak?” tanya Retha begitu dua Wanita tadi menjauh.


“Kecil-kecil kepo, bukan urusan lo.” Jawab Agus. “masih pake baju sekolah ngapain kesini? Laki lo kagak ada disini.” Lanjutnya.


“Iya tau Bang Ian nggak disini, kan lagi tugas luar.”


“Terus ngapain kesini?”


“Mau ketemu Papa Rangga.”


“Ngapain? Mertua lo bentar lagi ada rapat penting.”


“Ini juga penting, pokoknya mau ketemu papa. Bang Ian nakal tau, Kak. Katanya bimtek tugas luar tapi liat nih!” Retha menunjukan postingan bu Astri.


“Heh bocil ngeyel! Dengerin yah! Kata Ian lo udah tau kalo dia ada misi, masa Cuma kayak gini aja lo amuk-amukan? Lagian kan yang posting tuh cewek bukan laki lo.” Jelas Agus.


“Iya emang bukan Bang Ian yang post tapi sampe sekarang Bang Ian belum ngasih kabar, padahal udah janji selalu nelpon. Pasti gara-gara deket sama Bu Astri makanya lupa sama aku. Pokoknya kesel, pengen ketemu Papa mau lapor biar Bang Ian dihukum.”


Agus bersusah payah menahan Retha supaya tak menemui Rangga. Bukan apa-apa, ia hanya kasihan jika sampai si bocil ngadu maka sahabatnya otomatis akan kena ceramah lagi. Sedang lelaki itu kemaren sudah curhat Panjang lebar perkara telat laporan. Adrian bahkan meminta bantuannya supaya bisa menyelesaikan misi dengan cepat. Namun bukannya berhasil membujuk Retha, Agus malah berakhir mengantar gadis itu ke hotel tempat bimtek diadakan. Gadis itu beralasan menginap di rumah Tanesha pada kedua orang tuanya.


“Udah gue anterin ntar mesti nurut, gue dulu yang nemuin Ian.”


“Siap Kak.”


Mereka tiba di hotel pukul setengah sebelas malam. Agus meminta Retha untuk menunggu di mobil tapi gadis itu lebih dulu keluar dan langsung menerobos masuk dan langsung menghampiri Adrian yang kebetulan duduk sendiri di lobi.


“Bang Ian!” Adrian langsung beranjak berdiri melihat Retha menghampirinya. Ia mengucek matanya berulang kali, memastikan ia tak salah lihat.


“Sayang…”


“Sayang! Sayang!” Retha menabok lengan Adrian dengan keras. “Katanya tugas dari sekolah tapi malah mojok terus sama bu Astri.” Lanjutnya.


“Katanya mau nelpon tiap hari taunya bohong, dari kemaren nggak ngabarin!”


“Yang, kamu ke kamar Abang dulu aja yah. Ini kuncinya, ntar Abang jelasin!” Adrian buru-buru memberikan kartu akses masuk kamar pada Retha kemudian mendorong gadis itu supaya segera pergi karena Astri dan ayahnya terlihat masuk ke lobi bersama Agus. Mereka bertiga terlihat berbincang dengan lumayan akrab.


“Pak Haidar kenalin ini Pak Agus, sekretaris Pak Rangga yang punya Yayasan sekolah kita.” Ucap kepala sekolah begitu tiba di dekatnya. “Sepertinya ada urusan penting sampai malam-malam ada disini.”


“Hai Bapak Adrian.” Ucap Agus sambil tersenyum meledek.


“Biasanya juga manggil Ian, pake bapak segala.” Jawab Adrian santai. Hanya dengan melihat Agus saja ia bisa menyimpulkan jika lelaki itu yang mengantarkan bocil kesayangannya.


“Kalian sudah saling kenal?” tanya kepala sekolah.


“Kenal lah, Pak. Adrian ini temen SMA saya.” Jawab Agus.


“Oh begitu. Ternyata temen SMA tapi beda nasib yah. Pak Agus sudah jadi sekretaris pimpinan Turangga Group eh temennya malah jadi guru magang.” Ucap Pak Kepsek dengan senyum merendahkan Adrian. “Barangkali Pak Agus mau berbincang-bincang sama Pak Haidar, saya tinggal dulu.” Lanjutnya.


“Pak Haidar jangan lupa tugasnya yang hari ini langsung diupload nanti.” Ucapnya pada Adrian sebelum pergi. Ia juga menarik Astri supaya mengikutinya, “kamu tuh kalo cari pacar minimal kayak Agus tuh yang udah jelas masa depannya. Bukan malah ngejar Haidar yang Cuma guru magang.”


“Tapi Pak Haidar tipe aku banget, Ayah.”


“Tipe kamu tapi masa depan suram. Ayah harap kedepannya kamu nggak usah deketin Haidar lagi, diam mau Ayah jadikan tumbal kalo sampai dana gelap yang kita ambil dari sekolah ketahuan.”


“Ayah jangan gitu lah, yang lain aja. Pak Eko misalnya.” Rengek Bu Astri.


“Kamu jangan gila! Pak Eko itu orang kepercayaan Ayah, udah lama kita bareng-bareng. Pokoknya kamu lupain Haidar. Pak Rangga, pemilik sekolah sekaligus Pimpinan Turangga Group punya putra tunggal yang sekarang ada di luar negri, Ayah mau kamu deketin putranya.”


“Pihak Turangga Group sepertinya sedang melakuan audit secara diam-diam. Jika terdesak nanti, kamu ungkapkan dana gelap sekolah yang kita ambil alihkan semua kesalahan pada Haidar. Dengan begitu kamu akan terlihat menonjol dan mendapat perhatian lebih dari Pak Rangga. Mulai dari sana, dekati orang tuanya kemudian putranya.”


“Dana gelap aman, kita aman, kamu terlihat berprestasi dan kita punya peluang buat jadi pemilik Yayasan Turangga, bahkan lebih dari itu semua asset Turangga Group bisa jadi milik kamu. Ngerti?”