
Adrian tersenyum dan mengecup singkat kening Retha, “bener-bener cape yah? Cepet banget udah tidur aja.” Ucapnya yang kemudian ikut terlelap sambil mendekap Retha.
Keduanya baru bangun sekitar jam empat sore itu pun karena dering ponsel Adrian yang begitu nyaring.
“Siapa, Bang?” tanya Retha.
“Mama kamu, Yang.” Jawab Adrian seraya menggeser ikon telepon hijau di layarnya.
“Halo, Ma… apa? Oh begitu… Iya, Ma. Kami segera kesana.” Adrian segera turun dari ranjang dan mengambilkan baju untuk Retha.
“Ganti baju kamu Yang, kita ke rumah Mama Freya sekarang.”
“Mama kenapa emang, Bang?” Retha jadi panik sendiri melihat Adrian yang super sat set menyiapkan semuanya.
“Mama nggak apa-apa, sayang. Tapi temen-temen kamu mau ke rumah, barusan mama telpon katanya mereka udah otw.”
“Apa!!” Retha sontak terkejut, ia langsung mencari ponselnya. Benar saja ada puluhan panggilan tak terjawab dan banyak chat masuk.
“Kita mesti cepet, Bang. Jangan sampe mereka udah di rumah mama eh aku nya nggak ada.”
Yang ditakutkan tenyata terjadi, teman-teman Retha lebih dulu tiba disana. Terlihat mobil Tanesha dan motor Rifki sudah terparkir dengan apik.
“Gimana ini, Bang? Tanesha sama Rifki udah sampe duluan tuh.”
“Udah tenang aja, biar Abang yang handle. Yuk turun biar Abang gendong kalo jalannya masih sakit.”
“Bang Ian mau ikut masuk? Bukannya nganterin aja terus pulang? Katanya nggak boleh keliatan ada hubungan antara guru sama siswa?”
“Itu kan kalo di sekolah, ini di rumah.” Jawab Adrian. Ia ingin Rifki tau jika Retha miliknya, tidak bisa diganggu gugat.
“Aku jalan aja, Bang.” Retha menolak di gendong, ia memilih berjalan sambil berpegangan pada suaminya.
Mereka berjalan begitu lambat, Adrian dengan sabar memapah Retha. “sakit banget yah, Yang?” tanyanya.
“Hm lumayan, Bang.”
“Mesti sering biar nggak sakit, Yang. Ntar malem lagi yah?” ledek Adrian.
Melihat Retha yang baru saja masuk Tanesha langsung menghampirinya, “Ya ampun Ret, lo sampe susah jalan gara-gara dihukum kemaren?”
“Pak Haidar? Kok bapak sama Retha?”
“Saya abis nganter Retha dari dokter.” Jawab Adrian. “Ngobrolnya nanti dulu yah, Tanesha. Biar Retha duduk dulu.”
Setelah Retha duduk, Tanesha langsung duduk di sampingnya dan memeriksa suhu badan sahabatnya. “Lo sakit apa, Ret? Tapi nggak panas.”
Sementara Rifki langsung berjongkok di hadapan Retha hendak memijit lagi kaki gadis itu. “Gue pijitin lagi biar cepet sembuh deh.”
Sebelum Rifki menyentuh kaki Retha, tangan Adrian lebih dulu menepisnya jauh-jauh. “Kata dokter nggak perlu dipijit Rifki.”
“Biar cepet sembuh, Pak.”
“Nggak boleh! Duduk aja disana. Nggak boleh pegang-pegang tunangan saya, kalo pun perlu dipijit biar saya yang mijitin.”
“Tunangan?” Rifki tertawa mendengarnya, “Tante masa Pak Haidar ngaku-ngaku tunangannya Retha.” Ucapnya pada Freya yang datang dengan nampan berisi minuman untuk mereka.
“Beneran lo udah tunangan sama Pak Haidar, Ret?” suara Rae membuat Retha menoleh ke ujung, lelaki yang baru saja Kembali dari toilet dan berdiri di belakang Freya itu menatapnya dengan lekat.
“Kok Rae disini?” Retha justru bertanya pada sahabatnya, Tanesha.
“Iya, kesini bareng gue. Tadi maksa.” Jawab Tanesha.
“Kenapa jadi pada tegang gini sih? Duduk dulu, nih icip-icip camilan buatan Tante.” Freya meletakan satu persatu makanan ke meja.
“Retha sama Adrian emang udah tunangan beberapa minggu yang lalu.” Ucap Freya yang hanya mengikuti scenario dadakan menantunya.
Seketika keadaan ruang tamu jadi hening, hanya saling tatap dalam diam. Ucapan Freya membuat Rifki patah hati untuk kesekian kalinya, begitu pun Rae yang harapannya untuk Kembali pupus begitu saja. Hanya Tanesha yang tetap tersenyum meski hatinya menahan sesak.
“Hm kalo gitu kita cabut aja yah, Ret? Kan udah di temenin sama Pak Haidar. Kita kesini bawain tugas pengganti ulangan dari bu Lia nih, besok senin langsung lo kumpulin aja.” Ucap Tanesha.
“Titip temen saya yah, Pak.” Lanjutnya pada Adrian.
“Lo berdua mau ikut balik apa ma uterus jadi patung disitu?” tanyanya pada Rifki dan Rae.
“Balik lah.” Jawab keduanya kompak.
Ketiganya berjalan dengan wajah lesu hingga ke depan.
“Gue duluan yah, mau nyamperin si Nina. Dia ngambek gara-gara gue lebih milih jengukin Retha dari pada nemenin dia jalan.” Pamit Rifki.
“Ya kan lo tau dari awal gue jadian sama dia gimana kesepakatannya? Dia udah oke aja meskipun tau gue masih demen sama Retha. Gue kira masih ada kesempatan eh ternyata… udahlah!” Rifki berlalu menaiki sepeda motornya. Harapannya untuk bersama Retha berakhir, guru olahraganya ternyata bukan sekedar pacar tapi tunangan.
“Lo juga udah End, Rae. Jangan ngarepin Retha lagi!” ketusnya sebelum pergi.
“Yuk pulang, Sha! Mana kuncinya biar gue yang bawa mobil lo.” Rae menadahkan tangan. Tanesha langsung memberikan kunci mobilnya pada Rae.
Sepanjang jalan Tanesha menghela nafasnya dalam, ternyata selama berada di sisi Rae dan menerima setiap curhatannya terkait Retha membuat hatinya berdebar, berharap bisa memiliki sosok yang sedang focus dibalik kemudi. Dulu ia membencinya karena menyakiti Retha, tapi alasan dibalik semuanya sungguh membuatnya terpesona, meski cara melindungi yang dulu diambil lelaki itu salah.
Berbeda dengan tiga siswa berseragam pramuka yang sedang galau dengan pikiran masing-masing, Adrian sedang menyuapi si pasien korban malam pertama. Gadis itu menerima suapan demi suapan potongan buah melon dari Adrian sambil mengerjakan tugas matematikanya.
“Yang, masih lama?”
“Dikit lagi Bang, kenapa emang?”
"Kita pulang aja yuk? Ntar lanjut ngerjain tugasnya di rumah aja."
"Nginep sini aja lah Bang, kan besok libur."
"Di rumah aja lah, ntar Abang izinin kamu nambah poster Kimkim lagi deh."
"Serius?" Tanpa ba bi bu Retha langsung mengakhiri tugasnya yang belum selesai. Keduanya lantas pamit pulang.
Sepanjang perjalanan Retha sangat senang, ia bahkan langsung mengunjungi official merchandise boyband kesayangannya di toko online. Sampai mereka tiba di parkiran apartemen pun senyum Retha tak luntur sama sekali.
"Bang kalo beli dua boleh nggak?" Tanyanya sambil menunjukan pilihan gambar yang sudah ia masukan ke dalam keranjang.
"Yang ini terbaru banget loh Bang, aku mau yang ini. Tapi yang ini juga bagus jadi mau dua-duanya." Lanjut Retha.
"Hm..." Adrian menghembuskan nafasnya pelan, berusaha bersabar saat istrinya memuji-muji gambar laki-laki lain.
"Sabar.... Sabar Ian... Supaya jatah lancar jaya." Batinnya.
"Gimana Bang, boleh dua-duanya?" Tanya Retha.
"Boleh tapi harus dua ronde!"
"Apaan Bang?"
Adrian menaikan kedua alisnya penuh maksud, "mantap-mantap lah."
"Abang ih! Kan aku udah bilang nggak mau, takut hamil!"
"Kalo nggak hamil mau?"
"Emang bisa?"
"Bisa lah, sayang." Adrian mengecup singkat kening Retha. "Udah kamu tungguin di rumah aja, Abang keindoapril depan dulu beli fiesta."
"Apa hubungannnya fiesta sama mantap-mantap Bang?"
"Biar kamu nggak hamil." Jawab Adrian seraya mencubit pipi Retha.
"Oh gitu yah, Bang? Kalo gitu aku aja yang belu fiesta nya, sekalian aku beli jajan. Mau berapa fiesta nya Bang?"
"Lo tau fiesta?" Tanya Adrian.
"Tau lah, Bang. Mau berapa biar aku beliin, itung-itung balas jasa kan minggu lalu Bang Ian udah bantuin aku beli pembalut."
"Ya udah beli lima aja." Jawab Adrian.
"Siap laksanakan, Bang." Jawab Retha yang kemudian berlalu ke indoapril depan.
Selang sepuluh menit, Retha masuk ke apartemen dengan menenteng keresek putih lumayan besar. Adrian yang sedang main ponsel seketika berhenti saat Retha duduk di sampingnya.
"Jajan apa aja sampe satu kresek gini, Yang?"
"Nggak jadi jajan aku, Bang. Cuma beli es krim yang sekarang lagi dimakan nih." Jawab Retha.
"Itu satu kresek fiesta doang, aku beli berbagai varian loh. Bang Ian goreng dulu deh fiesta nya." Lanjutnya.
"Goreng?" Adrian mulai merasa ada yang tak beres saat ini. Ia pun melihat isi kantong kresek yang Retha bawa. Isinya sontak membuat Adrian menghela nafas dalam.
"Iya goreng dulu Bang. Aku mau yang nugget yah, ntar dicocol pake mayonaise sama saos pedas. Uh mantep deh." Jawab Retha.
"Bang Ian kenapa? Kalo Abang nggak suka yang nugget tinggal pilih varian lain aja, itu kan aku beli lima. Bang ian pilih yang Abang suka aja." Lanjutnya karena Adrian hanya menatapnya setengah menahan emosi.