
“Pak Haidar, anda dengar saya bicara tidak?”
“Dengar, Pak.”
“Kalo dari tadi dengar kenapa diam terus tidak ada tanggapan?” kepala sekolah mulai kesal. Dia tau betul dari tadi Adrian hanya mengangguk tapi pikirannyan entah kemana. Jelas beda ekspresi orang yang memperhatikan dengan yang tidak. Otaknya sudah lumayan pusing mempersiapkan akreditasi sekolah yang sudah di depan mata. Banyak hal yang harus dipersiapkan untuk menyukseskan penilaian rutin sekolah setiap lima tahun sekali itu. semuanya harus dipersiapkan sesempurna mungkin supaya nilai akreditasi sebelumnya bisa bertahan, terutama masalah pengelolaan keuangan juga harus direka sebagus mungkin, tidak boleh terlalu sempurna tapi tak boleh juga terdapat cela. Disaat ia kembali untuk mempersiapkan semuanya dimulia dengan penyusunan panitia hingga penanggungjawab setiap standar pendidikan, putrinya justru mengadu jika dirinya menyukai Adrian tapi sayang lelaki itu malah sudah ramai dibicarakan menjalin hubungan dengan salah satu siswi.
“Saya mendengarkan semuanya dengan baik Pak. Saya juga paham betul akan semua kode etik guru serta tata tertib sekolah yang sudah bapak bicarakan tadi.” Jawab Adrian dengan sopan. Jujur, ia sama sekali tak hafal kode etik guru sama sekali. Ia hanya pernah membacanya sekilas sebelum bergabung dengan SMA Turangga dan seingatnya tak ada satu pun kode etik yang melarang guru berhubungan dengan siswanya.
“Bagus. Kalo begitu mulai besok saya tidak mau dengar lagi ada bahasan soal guru yang pacaran dengan siswa. Dilarang!” tegas Pak Kepala.
“Mohon maaf Pak, tapi dalam kode etik tidak ada larangan guru berpacaran dengan siswa.”
“Pak Haidar! Bapak mau melawan saya?”
“Bukan melawan, Pak. Tapi dalam kode etik memang tak tertuang.”
“Tidak tertuang atau tertulis secara langsung bukan berarti tidak ada Pak Haidar!” Ucap kepala sekolah.
“Hubungan guru dan siswa hanya sebatas guru dan siswa saja, tidak boleh lebih. Guru boleh memperhatikan siswanya hanya sebatas demi kepentingan pendidikan. Jika anda pacaran dengan siswa maka dimungkinkan akan ada interaksi-interaksi yang diluar batas, bahkan perlakuan istimewa pada siswa tertentu yang membuat kecemburuan sosial siswa lain, dalam hal penilaian pun bisa jadi tidak objektif.”
“selain itu bagaimana jika orang tua siswa yang bersangkutan tau? Apakah mereka masih akan mempercayakan anaknya sekolah disini? Pokoknya hubungan siswa dan guru dilarang demi kebaikan bersama.” Jelas pak kepala panjang lebar.
“Tapi saya tidak memberikan keistimewaan apa pun pada siswa yang dekat dengan saya, Pak. Dia bahkan siswa yang paling sering saya hukum. Kalo bapak tidak percaya bapak bisa tanya yang lain.” Jawab Adrian.
Kepala sekolah tak menggubris ucapan Adrian. Begitu pun Bu Astri yang hanya tersnyum semanis mungkin pada Adrian karena tak tau obrolan keduanya.
“Pak Haidar, anda itu hanya guru pengganti disini, bukan guru tetap jadi jangan buat masalah. Ikuti saya keputusan saya jika ingin bertahan lama. Sekiranya Pak Haidar tidak bisa mengikuti keputusan saya silahkan tinggalkan sekolah ini, masih banyak guru lain yang ingin mengabdi di sekolah ini.” Pungkas kepala sekolah.
“Ayah!” Bu Astri sedikit kaget dibuatnya. Ia tentu tak ingin Adrian keluar dari sekolah. Ia hanya meminta ayahnya untuk mendekatkan dirinya dengan Adrian, bukan mendepak lelaki itu dari sekolah.
“Si botak si a lan otoriter banget.” Batin Adrian.
.
.
.
Hi para kesayangannya Bang Ian apa kabar?
Maafin yah aku baru nongol, abis sakit nih.
Berhubung aku nggak bisa kemana-mana soalnya lemes, jadi aku kasih up banyak deh. Tinggalin jejak kalian yah, like sama komennya jangan lupa!