
Retha duduk bersandar di sofa dengan tubuh berbalut selimut sementara Adrian sedang membereskan tempat tidur sebelum mengendong istrinya yang dalam mode manyun ke ranjang.
“Bang Ian tuh nggak kira-kira banget sampe aku kedinginan kayak gini.” Seperti bangun tidur tadi Retha selalu misuh-misuh setelah mereka selesai melakukan olahraga dadakan di kamar mandi.
“Ya maaf Yang, kebablasan.”
“Alesan!” ketus Retha.
“Hih gemesnya jadi pengen ngajak enak-enak lagi.” Ledek Adrian.
“Bang Ian!”
“Iya-iya maaf sayangnya Abang. Lagian tadi kan kamu yang minta terus, terus, ya jadilah digas terus.” Jawabnya.
“Bang Ian ih!”
“Bercanda, Yang. Abang ambilin kamu baju dulu, mau pakai baju yang mana?” Adrian langsung berhenti meledek gadis itu, takut-takut nanti dia tak bisa mantap-mantap lagi kalo Retha ngambek.
“Terserah Bang Ian aja. Ambilin baju yang nyaman, terus ambilin makan juga laper nih.”
“Siap laksanakan tuan putri.” Jawab Adrian kemudian berlalu ke dapur untuk menghangatkan makanan yang sudah ia masak tadi. Mereka terlalu lama menghabiskan waktu di kamar mandi hingga sarapannya menjadi dingin.
“Mau disuapin sama Abang apa makan sendiri hm?” tanya Adrian begitu menghampiri Retha yang duduk santai di ranjang. Gadis itu sedang menelpon Mama Freya supaya menghubungi wali kelasnya bahwa hari ini dirinya tak bisa masuk sekolah karena sakit. Wanita di seberang sana cukup panik mendengar putrinya sakit, tapi Retha berhasil menenangkan mamanya jika dirinya hanya sedikit demam karena kemarin dihukum ditambah telat makan.
“Mau makan sendiri aja. Nih Bang Ian ngomong sama mama dulu.” Retha mengambil nampan yang dibawa Adrian sambil memberikan ponselnya.
Lumayan lama Adrian mengobrol dengan mertuanya, dari A hingga Z Wanita itu menceramahinya karena Retha sampai dihukum dan telat makan hingga sakit. Perkara dihukum di sekolah sudah biasa, tapi baru kali ini anak gadisnya sampai sakit. Freya menasehati menantunya supaya memastikan Retha makan dengan teratur.
“Iya baik, Ma.” Adrian menghela nafas Panjang seraya meletakan ponsel Retha.
“Ngomong apa sama Mama Freya? Kelaparan? Telat makan? Hm?” tanya Adrian pada gadis yang melahap sarapannya yang kesiangan dengan lahap.
“Bisa-bisanya ngadu yang aneh-aneh, padahal tiap hari Abang nyiapin makanan buat kamu.” Adrian mencubit gemas pipi Retha.
“Ya udah tiduran aja ntar Abang pijitin biar nggak pusing.”
“Nggak mau ah.” Tolak Retha. “trauma aku nya, Bang. Lagian emang Bang Ian nggak ke sekolah?” lanjutnya seraya merebahkan diri dan menarik selimut setelah meletakan piring ke nakas samping ranjang.
“Nggak, nemenin kamu aja di rumah. Mau disayang-sayang biar cepet sembuh pusingnya.” Adrian ikut merebahkan diri di samping Retha. Ia mengirim pesan pada kepala sekolah karena tak bisa masuk kerja hari ini berhubung ada kepentingan keluarga.
“Kalo Bang Ian mau ke sekolah nggak apa-apa kok aku di rumah sendiri juga.” Retha meringkuk membelakangi Adrian.
Adrian memeluk erat istrinya, “Abang mau nemenin kamu aja kayak gini.” Ucapnya pelan.
“Bang Ian jangan modus lah, masih lemes ini pengen tidur.”
“Otak kamu tuh sekarang isinya mantap-mantap terus yah? Sampe Abang peluk aja mikirnya udah kejauhan.” Ledek Adrian.
“Apaan sih Bang! Otak Abang kali yang isinya mantap-mantap terus, buktinya udah jelas tiap bilang mau mijitin, mau nemenin ujung-ujungnya sampe masuk.”
“Sekarang nggak, Yang. Cuma bobo peluk kayak gini aja. Janji deh.” Adrian semakin mendekapnya erat. “bobo….” Tangannya dengan lembut menepuk-nepuk punggung Retha.
“Bang…” Retha mendongak menatap Adrian lekat-lekat.
“Hm, katanya mau bobo?”
“Takut, Bang.”
“Takut apa? Kan sama Abang disini.” Jawab Adrian.
“Aku serius, Bang. Kalo aku hamil gimana?”
“Ntar aku dikeluarin dari sekolah?”
“Masa depan aku gimana? Ancur dong Bang. Semua gara-gara Abang!” Retha mulai terisak pelan.