Be My Wife

Be My Wife
Mohon maaf



“Mana Retha, kok pulang sendiri?” Baru melihat putranya turun dari mobil tanpa menantunya, Meirani langsung memberondong pertanyaan.


“Katanya tadi jalan-jalan sama Retha? Kok nggak ada?” lanjutnya seraya melirik mobil putranya, berharap Retha turun dari sana tapi tak ada.


“Iya mana anak Mama? Udah kangen banget semaleman nggak liat Retha. Rumah juga berasa sepi.” Sambung Freya. Jujur, semalaman ia nyaris tak bisa tidur karena berpisah dari putri manjanya.


“Retha lagi jalan sama temen-temennya, Tan. Tadi aku anterin sampe Mall, soalnya aku nggak bisa ikut jalan sama dia, ntar ketahuan anak-anak jadi ribet urusannya.” Adrian beralasan. Dia sama sekali tak tau keberadaan Retha saat ini. Tapi pikirnya, anak itu pasti akan pulang ke rumah. Dia bukan tipe gadis yang suka keluyuran, jelas-jelas anak rumahan.


“Oh gitu.” Freya mengangguk pelan, “Ya udah kamu masuk aja, tunggu di dalam. Tapi mobilnya masukin garasi dulu, takut nanti ada temen Retha. Soalnya mereka suka nganterin kesini kalo abis main.” Lanjutnya.


Adrian patuh dan memasukan mobilnya ke garasi. Ia lantas menunggu Retha di kamar gadis itu. Nuansa kamar yang seratus delapam puluh derajat berbeda dengan kamar miliknya, benar-benar girly dengan aneka hiasan yang menurut Adrian membuat mata sakit, karena sebagian sisi dindingnya penuh dengan foto bahkan poster lelaki pentolan salah satu boy band.


“Oh ini yang dibilang suami.” Cibir Adrian pada poster jumbo, “cakepan juga gue!” lanjutnya.


Room tour seorang diri di kamar Retha lumayan membuatnya bosan. Dia sudah rebahan sana sini hingga jarum jam sudah menunjuk angka lima tapi Retha belum juga pulang, Adrian sampai ketiduran karena terlalu lama menunggu.


Tak lama setelah itu Retha pulang diantar oleh Rifki. Lelaki itu ikut turun dari motornya dan menghampiri Arka yang baru saja pulang.


“Udah sana langsung pulang aja! Ngapain pake turun segala?” usir Retha.


“Bentar lah, mau nyapa calon mertua dulu.”


“Sore Om, baru pulang yah?” sapa Rifki. “Laporan Om, Retha abis jalan-jalan sama saya dan Tanesha. Semua aman terkendali.”


“Iya, makasih udah nganter Retha pulang.”


“Sama-sama, Om. Saya permisi.” Pamit Rifki. Hanya mendapat jawaban sederhana dari Arka saja sudah membuatnya begitu senang.


“Ret, gue pulang yah. Kalo besok mau jalan tinggal telpon aja, gue dua puluh empat jam ready.” Lanjutnya pada Retha.


Retha menyalami Papa nya dan menggandeng lengan pria itu dengan manja. “Kangen banget sama Papa. Papa kangen nggak sama Retha?”


“Nggak.”


“Ih Papa nyebelin! Masa nggak kangen sama Retha.”


“Nggak lah, ngapain kangen sama anak nakal yang nggak bisa diatur?” ledek Arka. “Katanya kemaren asik nikah bebas dari Papa. Kenapa sekarang pulang kesini? Pulang ke rumah suami kamu sana.”


“Papa nggak asik lah.” Retha balas cemberut. “Emang nggak boleh kalo Retha pulang kesini? Barang-barang Retha kan masih disini, Pa. Lagian Retha nggak mau pulang ke rumah Bang Ian, dia ngeselin. Masa Retha disuruh nyabutin rumput!” lanjutnya, curhat.


“Sayang akhirnya kamu pulang juga, dari tadi ditunguin-” ucap Freya yang baru saja melihat putri dan suaminya masuku ke dalam rumah.


“Ntar ceritanya, Ma. Retha mau mandi dulu, udah nggak nyaman.” Sela Retha yang menyalami Freya kemudian berlalu ke kamarnya.


Retha melepas dan meletakan tasnya di meja belajar kemudian mengeluarkan ponsel, hendak rebahan sebelum mandi sambil scroll scroll media sosial sebentar, tapi kini ia hanya bisa terdiam di dekat ranjang setelah melihat guru olahraganya tertidur pulas disana.


“Kok Bang Ian bisa ada disini?” gumamnya, namun tak pikir panjang ia lebih memilih mengurungkan niat rebahan dan pergi mandi. Karena ada Adrian di kamarnya, Retha membawa serta baju ganti ke kamar mandi.


Mendengar gemericik air membuat Adrian samar-samar membuka kelopak matanya. Tak lama kemudian sosok cantik keluar dari kamar mandi dengan rambut yang ditutupi handuk serta wangi stroberi yang mengguar.


“Udah pulang dari tadi?” Adrian beranjak bangun dan duduk di tepi ranjang, melihat Retha yang cuek-cuek saja seolah tak menganggapnya ada. Gadis itu hanya menatapnya sekilas lewat pantulan cermin.


“Retha...”


“Aretha Rahardian...”


“Retha, kalo suami ngajak ngomong tuh dijawab!” Tegas Adrian. “Lo kenapa sih tiba-tiba jadi aneh gini? PMS lo?” tebak Adrian.


“Kalo suami ngajak ngomong tuh dijawab.” Cibir Retha mengulang ucapan Adrian. “Suami kok malah nyuruh istrinya nyabutin rumput!”


“Suami ja hat!” Lanjutnya penuh penekanan.


“Oh jadi ceritanya istri gue lagi ngambek?” ledek Adrian seraya mencubit pipi Retha.


“Nggak usah pegang-pegang! Bang Ian ngeselin!” sentak Retha seraya menepis jauh tangan Adrian.


“Buset galak amat dah!” ledek Adrian.


“Duduk sini!” Adrian menarik Retha supaya duduk dipangkuannya.


“Kayak bocah aja dipangku. Lepasin, gue bisa duduk sendiri.” Retha berontak, berulang kali menabok lengan yang menahan tubuhnya.


“Diem! Emang lo kan masih bocah. Bocah kecilnya gue, eh istri gue.” Ucap Adrian.


“Buat yang tadi gue minta maaf yah? Gue juga nggak mau lo nyabutin rumput, tapi mau gimana lagi kalo di sekolah nggak bebas.” Jelasnya.


“Tapi Bang Ian jahat, bisa-bisanya makan sama bu Astri sambil ngeliatin gue nyabutin rumput.” Protesnya sambil manyun.


“Lo jealous?” tanya Adrian dengan wajah keduanya yang begitu dekat.


Ditatap sedekat itu membuat Retha sedikit gugup. “Nggak, cuma sebel aja!” Jawabnya seraya mengalihkan pandangan ke arah lain.


Adrian jadi gemas melihatnya, diraihnya wajah Retha supaya kembali menghadap dirinya. Bibir gadis itu masih saja manyun, Adrian lantas menyentuh bibir Retha dengan ibu jarinya dan membiarkannya lama disana.


“Manyun aja terus ini bibir.” Ucapnya kemudian mengecup ibu jarinya sendiri yang menempel di bibir Retha. Mata gadis itu membuat sempurna, terlalu tiba-tiba hingga membuatnya bingung.


“Gue minta maaf. Jangan cemberut lagi, gue nggak ada apa-apa sama bu Astri.” Ucap Adrian seraya mencubit pipi Retha. “Besok kita jalan-jalan deh, biar lo seneng.”


Retha hanya bisa mengangguk lemah. Sepertinya saat ini jantungnya sedang terlalu semang memompa aliran darah hingga rasanya jedag jedug tak jelas.


“Gu gue mau naro handuk dulu, Bang.” Ucapnya dengan gugup kemudian berlari ke kamar mandi sambil melepas liitan handuk di kepalanya.


“Dasar bocah. Lucu banget sih lo, Ret.” Adrian tergelak sendiri melihat tingkah menggemaskan Retha.


.


.


.


Udah panjang banget. Jangan lupa like, komen sama siram kopi plus kembang😘😘