
“Pokoknya kalo Retha sampe kenapa-kenapa lo harus tanggung jawab, Win!” Ucap Tanesha.
“Ish sorry aja, gue nggak tau apa-apa yah!”
“Nggak tau apa-apa gimana? Jelas-jelas temen gue terkapar gitu!” Tanesha menunjuk Retha yang sedang berusaha diangkat oleh Rifki. “Pokoknya kalo Retha kenapa-kenapa lo bakal masuk penjara!” aancamnya kemudian.
“Sebaliknya kalo Retha nggak kenapa-kenapa lo yang harus siap masuk penjara!” jawab Windi sambil memengangi kepala belakangnya yang terasa begitu sakit.
“Darah?” gadis itu tercengang melihat telapak tangannya berwarna merah. “Gue pastiin bakal nuntut lo, Nes. Pala gue sampe berdarah gini, padahal gue cuma mau nolongin temen lo. Gue juga nggak tau kenapa si Retha bisa terkapar gitu, pas gue datang udah kayak gitu.”
“Alah nggak bisa percaya gue sama lo, Win. Paling juga akal-akalan lo doang, gue tau kok sebenci apa lo ke Retha.” Tanesha tak mau kalah.
“Kalian berdua bisa diem nggak sih!” sentak Rifki pada keduanya. Lelaki itu bergegas menyusul ke toilet setelah sebelumnya di telepon Tanesha.
“Dari pada ribut mending bantu gue ngangkat Retha, ini anak jadi berat banget.”
“Kita bawa kemana nih? UKS?” tanya Tanesha.
“UKS kagak ada yang jaga, gurunya aja pada rapat semua. Bawa ke rumah sakit aja, sekalian gue mau visum kepala nih, biar bisa nuntut lo.” Ucap Windi.
“Nuntut, nuntut aja terus lo bahas! Kagak inget apa terakhir kali siapa yang malu sampe bawa-bawa pengacara segala hah?” sindir Tanesha.
“Terus lo, Miss pengacara tolong lo ambil barang-barang kita di kantin abis itu langsung ke depan. Kita ke rumah sakit bareng-bareng.” Lanjutnya pada Windi.
“Nggak nerima protes! Lakuin sekarang juga!” pungkasnya.
Meskipun kesal, Windi tetap menuruti perintah Rifki. Ia kembali ke kantin dan mengambil barang-barang mereka.
“Awas aja ntar kalo hasil visumnya udah keluar langsung gue tuntut si Tanesha.” Gerutu Windi.
Semenjak insiden ribut dengan Retha terakhir kali perkara kasus sugar baby membuatnya enggan berurusan dengan gadis itu lagi. Selain kemungkinan mendapatkan Rae sudah tak mungkin, ayahnya juga memarahinya habis-habisan dulu. Berakhir dengan nasehat supaya dirinya tak perlu ikut campur dalam kehidupan Retha. Background keluarga gadis itu tak main-main dan tidak bisa diimbangi oleh keluarganya. Tak kalah penting hal yang bisa ia pelajari dari masalah tersebut, yakni kita tak bisa selalu mendapatkan apapun yang kita inginkan. Terutama cinta, kita tak bisa memaksakan orang lain harus membalas perasaan yang kita miliki. Meskipun banyak cara dilakukan jika balasannya tak tulus, meski kita bisa menahan orang tersebut disisi kita bahkan memisahkannya dengan orang lain yang ia cintai tak akan membuat kita Bahagia. Rasanya hampa, seperti terus membodohi diri sendiri. Nyatanya ikhlas melepas justu membuat perasaan kita lebih tenang, meskipun sulit tapi semua akan terbiasa karena waktu. Dan Windi sudah melakukannya dengan baik sejauh ini. Memilih masa bodoh dengan kehidupan Retha dan menikmati dunianya sendiri. Tapi sial kejadian di toilet siang ini justru membuatnya kembali terseret masalah dengan gadis itu.
“Bener yah ternyata kalo kita pernah jahat selamanya di cap jahat. Padahal gue niat nolongin dan nggak tau apa-apa malah di dorong sampe berdarah gini. Nasib-nasib…” batin Windi. “Ternyata pengen jadi orang baik nggak mudah.” Ucapnya kemudian mengehala nafas Panjang.
.
.
.
Biasalah udah tau dong mesti gimana? Masa harus dikentongin mulu🙈🙈