
Malam pun tiba, tamu dan kerabat yang datang pun berangsur sepi hanya tinggal beberapa tamu dan kerabat dari irfan. Elsa yang merasa lelah mulai menguasai tubuh nya menoleh ke arah suami nya.
"Mas aku lelah, bisakah kita istirahat sekarang?" Bisik elsa. Irham yang berdiri di samping elsa hanya menganggukan kepala kemudian menarik elsa bertemu orang tua nya.
"Ma Pa irham mau istirahat dulu." Pamit irham pada orang tua nya. Irfan tersenyum "Pergilah ke kamar mu. Biar papa yang mengurus tamu." Jawab irfan lembut. Siska melihat anak tunggal nya lalu menganggukkan kepala sambil tersenyum, namun senyuman nya seketika hilang ketika dia melihat elsa berdiri di samping anak tunggal nya sambil menggenggam tangan kiri irham.
Siska langsung bergegas meninggalkan mereka dan berjalan menuju kamar nya. Irfan yang melihat itu hanya menggeleng melihat kelakuan istri nya.
"Tidak usah difikirkan elsa, mama memang seperti itu." Ucap irfan "Lebih baik kalian sekarang masuk ke kamar kalian dan istirahat." Sambung irfan mencoba mengalihkan pembicaraan. Elsa mencoba tersenyum sambil mengangguk. Irham menarik elsa dan berjalan menuju kamar nya, dia membiarkan elsa menggenggam tangan nya.
Sementara itu irfan menyusul istrinya ke dalam kamar. "Mama kenapa sih ma?" Tegur irfan pada istrinya.
"Kenapa? Papa masih tanya mama kenapa?" Marah siska pada irfan suami nya. "Papa tau kan kalau mama tidak sudi punya menantu seperti dia? Mereka itu miskin pa, tidak selevel sama keluarga kita." Irfan yang memang telah mengetahui penyebab istri nya marah hanya bisa bersabar dengan kelakuan istrinya.
"Sudahlah ma terima saja, lagi pula mereka sekarang sudah sah menjadi suami istri. Kita bersdoa saja supaya mereka bisa hidup bahagia." Irfan mencoba bersabar dengan sikap istri nya, karena irfan tidak pernah melihat orang hanya dari status sosial belaka. Menurut irfan hanya ketaatan pada-Nya lah yang menjadi pembeda.
"Mama tidak sudi menerima wanita miskin itu sebagai menantu mama. Mama akan meminta irham menceraikan wanita miskin itu dan menikah lagi. Mama tidak akan pernah merestui hubungan mereka." Tegas siska dengan amarah yang kian membara.
"Cukup ma. Mama sudah kelewatan." Irfan yang sedari tadi mencoba bersabar kini mulai meninggikan suara nya. "Papa selama ini hanya diam dengan semua perlakuan mama, tapi kalau mama kelewatan kali ini papa tidak akan segan-segan menghukum mama." Sambung irfan menatap tajam mata istri nya dengan nafas yang memburu karena menahan amarah nya.
"Lihat, papa sekarang bahkan sudah berani mengancam mama. Apa istimewa nya sih perempuan itu sampai papa membela nya segala?" Siska seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan suami nya. Mengapa suami nya begitu membela perempuan itu.
"Apa jangan-jangan papa terkena guna-guna?" Siska menatap suami nya dengan tatapan curiga
"HENTIKAN MA!!!" Marah irfan pada siska. "Selama aku masih hidup, aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak rumah tangga putra ku. Termasuk kamu. Walaupun kamu ibu dari putra ku aku tidak akan membiarkan mu merusak rumah tangga anak ku!!!" Sambung irfan dengan tegas nya lalu bergegas meninggalkan istri nya.
Siska hanya dapat mengekori kepergian suami nya dengan mata nya. Seketika tubuh nya terasa sangat lemah hingga akhirnya ia terduduk di samping tempat tidur nya.
Tubuh siska serasa bergetar mengingat ancaman yang baru saja diucapkan suami nya. Irfan sebenarnya sosok yang sangat hangat dan ramah, namun bila ada yang menentang kehendak nya dia berubah menjadi sosok tegas dan tanpa belas kasih.
Dia bisa melakukan apa saja agar semua berjalan seperti yang dia inginkan. Air mata siska menetes mengingat kejadian yang baru saja di alami nya.
Sementara itu irham yang sudah sampai di depan pintu kamar membuka nya perlahan. Elsa melepaskan tangan nya yang sedari tadi menggenggam tangan suami nya itu, dia berdiri di ambang pintu mengagumi kemegahan kamar suami nya yang kini telah disulap menjadi kamar pengantin.
"Masuklah." Ucap irham sekenanya tanpa melihat ke arah elsa. Karena elsa tidak menjawab nya irham pun mendengus kesal.
"Hei mau masuk gak lo? Kalo gak mau masuk keluar sana, gua capek mau istirahat." Pekik irham dengan ketus nya.
Elsa yang sedari tadi melamun terkejut mendengar pekikan irham. Elsa pun masuk ke kamar lalu menutup pintu nya kembali.
Irham mengeluarkan handuk dari dalam lemari nya lalu masuk ke dalam kamar mandi karena badan nya sudah terasa lengket.
Elsa kembali memandangi kamar pengantin sambil berdecak kagum dengan kemewahan nya. Matanya sayu menatap tempat tidur yang ditaburi ratusan kelopak mawar. Elsa membayangkan kehidupan nya setelah menikah. 'Bahagia kah aku? Maukah dia menganggap aku sebagai istri nya? Aku sendiri tidak pasti, tapi aku harus mencoba ikhlas menerima nya sebagi suami ku.' Berbagai spekulasi bermunculan di pikiran elsa.
Lamunan elsa terhenti ketika handuk yang di pakai irham kini sudah mendarat di kepala nya. "Mandi sana lo, bau badan lo bikin gua puyeng. Pake minyak apaan sih lo bau nya kayak udah 1 tahun gak mandi." Soal irham sambil berlalu mengunci pintu kamar. Elsa mengambil handuk di kepala nya."Mana baju gua?" Soal irham lagi. Elsa menatap irham bingung. Irham yang menyadari elsa menatap nya kembali bersuara. "Ambilin baju gua dalem lemari." Perintah irham.
Elsa hanya menghela nafas lalu mengambil nya dan meletakkan di tempat tidur. Elsa melihat sekeliling kamar mencari koper pakaian milik nya namun tidak menemukan nya. "Maaf mas, apa mas lihat koper pakaian ku?" Elsa bertanya karena tidak menemukan koper milik nya.
"Pakaian mu ada di lemari sebelah." Jawab irham santai sambil mengenakan pakaian nya. Elsa beranjak ke lemari sebelah nya mengambil pakaian yang akan dia pakai tidur.
Ketika hendak masuk ke kamar mandi, irham melempar kimono yang dia pakai tepat ke kepala elsa. Elsa yang menyadari ada sesuatu yang mendarat di kepala nya segera mengambil nya. Dia menoleh ke arah irham cuek lalu memilih masuk ke kamar mandi. Tubuh nya terlalu letih jika harus berdebat dengan suami nya.
Elsa muncul kembali ke dalam kamar setelah berpakaian lengkap, karena dia merasa malu jika harus berpakaina di hadapan suami nya.
Elsa melihat irham sudah terbaring di tempat tidur, dia mengambil hp nya lalu menelfon seseorang.
"Assalamualaikum. Lisa kamu lagi apa?" Tanya elsa setelah telfon nya tejawab.
"Waalaikumsalam. Baru mau tidur. Kenapa el?" Jawab lisa
"Enggak ada apa-apa kok. Maaf ya lisa aku belum bisa bantu di toko, aku masih ada urusan disini." Irham yang mendengar elsa menelfon, seketika bangun dari tempat tidur dan langsung merampas hp elsa.
"Apa-apaan sih kamu?" tanya elsa dengan nada yang hampir meninggi.
Dilihat nya nama lisa di layar hp elsa irham langsung memutuskan telfon tersebut.
Irham merenung wajah elsa, dia merasa risih dengan jilbab yang di pakai elsa.
"Buka aja jilbab mu itu. Emang orang tidur pake jilbab?" Sergap irham. Elsa memegang ujung jilbabnya,namun elsa tau bahwa itu adalah perintah suami nya.
Pelan elsa melepaskan jilbab nya. Dia coba mengikhlaskan hati nya.
Irham terkejut melihat poni elsa yang berjuntai di dahi nya, ramput elsa yang lurus dan hitam membuat irham terkagum. Elsa melambaikan tangan nya di wajah irham, irham sadar kalau diri nya langsung beranjak kembali ke tempat tidur. Belum sampai irham di tempat tidur, elsa menarik baju tidur irham.
"Balikin hp aku." Pinta elsa mengulurkan tangan nya.
"Jangan telfon orang jam segini, orang lain juga mau istirahat." Pesan irham saat mengembalikan hp elsa.
Sebelum irham merebahkan tubuh nya irham ssmpat berpesan. "Tidur dilantai." Irham melempar bantal dan selimut nya ke lantai.
Elsa hanya diam. Dia mengambil selimut dan membentang nya di lantai di samping tempat tidur. Karena lelah tidak butuh waktu lama elsa pun sudah berlabuh di alam mimpi.
Terima kasih sudah mau membaca novel saya.
Jangan lupa baca juga DENDAM CINTA novel kedua saya
Terima kasih