
Sampai di rumah sakit Retha langsung di bawa ke unit gawat darurat. Tanesha begitu panik karena selama menjadi sahabat Retha, baru kali ini gadis itu sampai tak sadarkan diri.
“Sus, cepetan dong panggil dokternya. Takut temen aku kenapa-kenapa.” Serunya pada suster.
“Rif, lo telpon tante Freya. Tapi bilangnya pelan-pelan aja, takut tante panik.” Lanjutnya pada Rifki.
“Telpon Pak Haidar juga.” Imbuhnya lagi.
“Haduh bisa mam pus kita kalo sampe Retha kenapa-kenapa.”
“Heh Win Win! lo ngapa diem doang kayak patung? Panggilin dokternya gih biar cepet. Kalo perlu bilang mereka bisa dituntut kalo nggak langsung nanganin Retha.” Tanesha sudah panik sendiri mode emak-emak yang anaknya kena step.
Karena terus ribut alhasil mereka bertiga di usir dari UGD karena menganggu ketenangan. Barulah setelah Retha sadar ketiganya diperbolehkan masuk dengan syarat tidak membuat gaduh.
“Ret, ini berapa?” Rifki menunjukan dua jarinya.
“Si gebleg lo kira temen kita abis operasi apa!” cibir Tanesha. “Ret, lo udah sadar? Bagian mana yang sakit? Bilang sama gue, lo diapain sama si Windi sampe pingsan di toilet?” cerocosnya bertanya tanpa akhir.
“Windi?” ucap Retha. Yang dia ingat dirinya sama sekali tak bertemu Windi di toilet tadi. Ia hanya mendadak tak kuat menopang diri saat Nina mendorong dirinya. Setelah itu entah apa yang terjadi tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
“Dibilangin gue nggak ngapa-ngapain Retha, nggak pada percaya. Siap-siap gue tuntut lo pada.” Ucap Windi. “Gue cabut lah, siap-siap dituntut yah.” Ledeknya pada Tanesha.
“Cepet sembuh. Lain kali kalo praktek olahraga makan dulu biar nggak pingsan.” Ucapnya pada Retha sebelum berlalu pergi.
“Cepet sembuh yah…” Tanesha mengulang kata-kata Windi, “salah minum obat kali tuh anak bisa so baik gitu.” Lanjutnya.
“Tapi bener lo ribut sama Windi, Ret?” tanyanya kemudian.
“Kagak, gue tuh tadi malah ribut sama-“ belum selesai Retha berucap Adrian sudah tiba dengan wajah super khawatir.
Adrian langsung bergegas ke rumah sakit saat membaca rentetan pesan masuk dari Rifki. Ia sangat menyesal mengapa mengabaikan ponselnya sejak tadi. Rapat dadakan yang berjalan hari ini benar-benar menyita fokusnya. Menghadapi guru-guru yang awalnya tak percaya jika ia pemilik yayasan hingga akhirnya berbuah saling mencari perhatian dan berkata manis. Adrian mengabaikan setiap kalimat manis yang terlontar dari para guru, ia langsung pada poin penting guna memperbaiki struktur sekolah yang mulai bo brok. Bu Astri yang dulu selalu membanggakan diri bahkan berkata jika dirinya bisa membantu Adrian menjadi guru tetap seketika bungkam, memikirkan nasibnya di masa yang akan datang setelah ayahnya tetap dibawa ke kantor polisi bahkan saat sedang tak sadarkan diri. "Saya akhiri pertemuan hari ini sampai disini. Setiap orang yang terlibat merugikan sekolah maupun yayasan akan segera saya proses lebih lanjut. Hari ini baru pak kepala, tak menutup kemungkinan Bu Astri atau Pak Eko bisa segera menyusul." Pungkasnya sambil menatap satu persatu guru dengan tegas. Bu Astri dan Pak Eko hanya bisa menunduk lesu tanpa ekspresi berbeda dengan guru-guru lain yang tetap santai meski sempat terkejut sebelumnya.
“Sayang, kamu nggak apa-apa kan? Mana yang sakit? Bilang sama Abang!” lelaki yang masih mengenakan stelan jas rapi itu merengkuh Retha dengan erat, tak peduli kedua anak didiknya masih ada disana.
“Lepasin Abang! Aku nggak apa-apa, susah nafas nih.” Protes Retha.
“Tau nih Pak Haidar masih ada kita disini udah main peluk-peluk aja.” Sindir Tanesha. “Kita pulang aja yuk, Rif! Dari pada jadi mahluk tak terlihat disini.” Lanjutnya.
“Maaf, bapak kelewat panik. Makasih yah udah nganterin Retha kesini.” Ucap Adrian.
Setelah Rifki dan Tanesha pergi, Retha masih tertahan disana menunggu hasil pemeriksaan dokter. Gadis itu duduk bersandar pada bantal yang ditumpuk sambil menikmati suapan demi suapan makanan dari suaminya.
"Lapar apa doyan sih ini kesayangannya Abang hm?”
“Dua-duanya, Bang. Tadi tuh perut aku sakit banget Bang, seumur-umur baru sekarang deh aku ngalamin pingsan. Tiba-tiba semuanya gelap.” Ucap Retha.
“Hm, iya kali Bang. Aaa lagi Bang.” Jawabnya.
Tepat setelah Retha selesai makan, seorang Wanita cantik berjas putih mendatangi tempat tidurnya. “Sudah enakan sekarang, cantik?” tanya bu dokter.
“Iya, udah enakan bu. Kayaknya aku kelaparan tadi sampe pingsan.” Jawab Retha, si dokter hanya tersenyum ramah.
Wanita itu menoleh menatap Adrian dengan wajah sedikit bingung, “Kakaknya?”
“Suaminya, Dok.” Jawab Adrian singkat.
“Oh syukurlah, saya lega mendengarnya. Saya kira tadi kakaknya, soalnya dia masih mengenakan seragam sekolah.”
“Ah biasa ini dok, istri saya memang suka cosplay jadi anak OSIS katanya masih pantes, imut-imut.” Jawab Adrian sekenanya. Tidak mungkin kan mengatakan Retha memang masih seorang siswi?
Bu dokter mengangguk sambil tersenyum ramah. “syukurlah.” Lagi-lagi Wanita berjas putih itu terlihat lega. “saya kira dia siswi yang hamil di luar nikah.” Lanjutnya.
“Apa!!” seru Adrian dan Retha begitu kompak.
“Ya ampun kalian kompak banget, lucu. Maaf yah karena sebelumnya saya sudah salah paham. Tapi tenang saja, kondisi janinnya baik-baik saja. Untuk lebih memastikan lagi bisa cek ke dokter kandungan.”
“Hah?” Adrian dan Retha hanya bisa tercengang dalam diam. Keduanya menatap lekat Dokter yang baru saja membahas janin.
“Kenapa kalian jadi tegang gitu? Tenang saja, calon anak kalian baik-baik saja. Saya jamin seratus persen baik-baik saja. Habis ini langsung ke dokter kandungan saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Jelas bu dokter pelan-pelan karena wajah keduanya begitu terlihat shock.
“Saya tinggal dulu yah. Tidak perlu khawatir berlebihan, saya do’akan ibu sama calon bayinya sehat dan diberi kelancaran saat persalinan nanti.” Sampai Wanita berjas putih itu menghilang dari ruang UGD, Adrian dan Retha masih terpaku dalam diam. Keduanya tak mampu berkata apa-apa, ucapan dokter barusan seperti sambaran petir ditengah hari yang cerah tanpa hujan setetes pun.
"Bang Ian!!" Retha menatap suaminya dengan kesal. "Abang bilang aman, nggak akan hamil! Kenapa dokter bilang aku hamil!!!" Teriaknya yang kemudian terisak. Tak cukup sampai disana, gadis itu juga memukul Adrian dengan bantal.
"Bang Ian jahat!!"
"Yang, sumpah Abang nggak tau apa-apa ini. Kok bisa kamu hamil?" Lelaki itu mematung dengan banyak pikiran, pukulan bantal yang dilayangkan istrinya saja sampai tak terasa.
"Nggak tau apa-apa! Kok bisa!" Retha mengulangi kata-kata Adrian dengan miris, "Bang Ian kira tiap malem kita ngadonin kue apa gimana!"
"Bukan itu maksud Abang, sayang. Kan kamu minum pil KB selama ini."
"Bo do amat pokoknya aku benci sama Bang Ian!" Ia melempar bantal keras-keras pada Adrian. "Bang Ian minggir! Aku mau pulang!" Ucapnya dengan galak.
"Jangan ngikutin aku!!" Teriak Retha saat Adrian menyusulnya.
Adrian hanya menghela nafas dalam. Dia mengangguk pada orang-orang yang ia lewati karena tak enak sudah membuat keributan di UGD. Dia tetap mengikuti Retha meski gadis itu misuh-misuh tiada henti.
"Kok bisa yah hamil?" batinnya yang masih tak habis pikir.