Be My Wife

Be My Wife
Panen



Di kantor polisi sambil menunggu Adrian di buatkan BAP, Retha bersama kedua sahabatnya justru asik makan dipojokan setelah sebelumnya diusir oleh petugas karena ngotot Adrian tak bersalah padahal barang bukti sudah ditangan polisi dan foto tersebut asli adanya. Mereka makan sambil menonton guru olahraga dan guru seni yang sedang menjalani pemeriksaan, masih di ruang yang sama dengan petugas yang berbeda.


“Bu Astri nggak usah ngeliatin suami aku terus deh.” Ucap Retha cukup keras hingga orang yang dimaksud menatap kesal padanya. “Mending siap-siap hukuman ibu bakalan ditambah, karena selain korupsi juga udah fitnah. Eh apa namanya Nes yang suka di film-film itu?”


“Pencemaran nama baik.” Jawab Tanesha.


“Nah iya itu.” Ucap Retha.


“Kalian bertiga kalo masih berisik saya masukin penjara sekalian.” Sela petugas BAP.


“Nggak, Pa. Maaf. Kami tenang deh sekarang, nggak bakal berisik.” Ucap Rifki selaku yang paling waras diantara mereka. “Diem ngapa lo berdua. Mau bobo di sel?” lanjutnya pada Retha dan Tanesha.


“Ogah, lo aja sono.” Balas Retha sambil melahap kuenya.


Setelah hampir dua jam berlalu, Agus datang bersama dengan pengacara Turangga Group. Retha langsung berdiri dan menghampiri Agus.


“Lama banget sih Kak Suga. Aku sampe cape nelponinnya, Kakak tuh di kantor kerja apa tidur sih sampe ngangkat telpon aja lama.” Cerocos Retha.


“Tidur gue. Kenapa? Nggak boleh? Udah ngerjain bikin cilok juga.” Jawab Agus yang masih lumayan kesal pada istri bocil sahabatnya.


“Ih kok marahnya sama aku? Aku kan nggak nyuruh. Tuh Bang Ian aja salahin.” Ucap Retha yang tak mau di salahkan. “Skip dulu marahnya deh kak, itu bebasin dulu Bang Ian nya.”


Adrian menghampiri bu Astri yang masih dihujani berbagai pertanyaan. Guru seni itu masih enggan mengakui kesalahannya.


"Sebaiknya Bu Astri akui saja kasus korupsi tanpa berbelit-belit karena semua bukti sudah jelas. Semakin ibu berrbelit makna hukumannya akan bertambah. Bisa-bisa selamanya di penjara. Kasus korupsi terus saya tambahin juga sama pencemaran nama baik karena sudah melaporkan saya atas tuduhan pelecehan seksual, padahal Retha ini istri saya loh.” Ucap Adrian.


“Tambahan Bu As, sekedar informasi di perut aku ini udah ada dede kecilnya Pak Haidar.” Sambung Retha. “Coba tadi Bu As nggak neko-neko pake laporin Pak Haidar segala, pasti sekarang hukumannya nggak tambah banyak. Duh kasihan mana bu Astri belum nikah, padahal Bu Astri cantik loh tapi sayang kelakuannya nggak cantik.”


“Kamu kecil-kecil berani!” sentak Bu Astri yang benar-benar geram.


“Jangan bentak-bentak istri saya, atau saya tuntut lebih banyak lagi!” sela Adrian. “Sebaiknya ibu siapkan mental karena Pak Eko juga akan menuntut ibu karena pasal ancaman.”


“Jangan kira saya tidak tau jika Pak Eko selama ini bungkam dan menerima semua hukuman yang seharunya dipikul bersama karena ibu mengancam akan menyetop biaya perawatan anaknya yang koma di rumah sakit.”


“Mulai sekarang silahkan nikmati hukuman atas semua kejahatan yang sudah ibu lakukan dan saat keluar nanti saya harap ibu bisa menjadi manusia yang layak disebut manusia.” Pungkas Adrian. “Kita pulang sekarang, sayang.” Lanjutnya seraya merangkul Retha.


“Yuk, Bang.” Jawab Retha.


“Selamat panen ya ibu guru seniku. Semoga ibu suka sama hasil yang udah ibu tanam. Katanya kan apa yang kita tanam, itu yang akan kita tuai. So Bu Astri jangan ngarep panen bunga yang wangi kalo yang ibu tanam selama ini aja bunga bangkai.” Ucap Retha kemudian berlalu pergi.


Bu Astri tersenyum getir menatap Retha dan Adrian yang berjalan begitu mesra. “Panen yah? Kita lihat apa yang bisa kamu panen nanti Retha.” Batinnya yang seketika terdiam, kemudian menangis dan berakhir tertawa. Polisi yang menanganinya sampe meminta petugas untuk membawa Bu Astri langsung ke sel karena wanita itu sudah tidak bisa diajak komunikasi dengan baik, hanya tertawa dan menangis sambil mengepalkan tangannya.