Be My Wife

Be My Wife
Pemanggilan



Adrian memutuskan berkeliling sekolah dulu untuk melihat kondisi belajar mengajar pagi ini. Memastikan apakah semua guru yang memiliki jam pertama sudah masuk kelas atau belum. Tak bisa dipungkiri sebelumnya ia mendapati beberapa guru yang selalu telat lima sampai sepuluh menit Ketika masuk kelas maupun saat pergantian jam pelajaran. Meski hanya sebentar dan terlihat sepele nyatanya hal itu berefek buru pada tingkat kedisiplinan siswa. Adrian tak ingin kedepannya sampai ada istilah guru datang terlambat tak dihukum tapi jika siswa yang terlambat auto kena hukum, sangat tak adil.


Setelah selesai berkeliling barulah Adrian menuju ruangannya. Tiba depan ruang guru ia sudah dibuat penasaran dengan keberadaan trio main yang kurang satu personil. Hanya ada Tanesha dan Rifki disana, sementara Retha tidak kelihatan. “Ngapain disini? Kok nggak ke masjid? Bukannya sekarang jadwal praktek shalat jenazah?” tanya Adrian.


“Iya, Pak. Kelas kita lagi praktek shalat jenazah tapi Retha dari tadi di panggil Bu Astri sampe sekarang belum balik-balik. Makanya kita susulin ke sini.” Jawab Rifki.


“Tapi kata bu Lia, Retha malah dibawa ke ruang kepala sekolah. Kita jadi kepo makanya nunggu disini Pak.” sambung Tanesha.


“Kalian balik ke masjid aja sana. Biar Retha bapak yang urus.” Ucap Adrian yang berlalu masuk tanpa menunggu respon kedua siswanya. Begitu pun dengan Tanesha dan Rifki yang malah tetap stay di depan ruang guru meski sudah diusir.


“Gue jadi kepo ini Retha kena kasus apalagi sekarang?” gumam Tanesha.


“Sama gue juga.”


“Semoga kali ini nggak ada sangkut pautnya sama cewek lo yah, Rif. Kesel gue sama Nina, udah dibaikin malah ngelunjak. Padahal kan Retha nggak salah apa-apa, lo sih jadi cowok nggak peka.” Sentak Tanesha yang mendadak emosi mengetahui kebenaran Nina yang mencelakai Retha. Selain karena rekaman CCTV dari Windi, Rifki juga sudah memarahi gadis itu habis-habisan hingga mengaku.


“Iya salah gue, udah jangan dibahas terus. Lagian Nina juga udah gue sidang, bakal gue putusin kalo nggak mau minta maaf sama Retha. Gue kasih waktu satu minggu buat dia introspeksi diri. Lo tau kan, dia aslinya baik. Dia udah ngakuin semua kok meski sambil marah-marah ke gue.” Jelas Rifki.


“Tau lah kesel gue sama lo. Jadi cowok kok be go banget. Ke be go an lo tuh bikin temen kita cilaka tau.” Cerocos Tanesha.


Sementara Rifki masih menerima siraman rohani dari Tanesha, di dalam sana Adrian baru saja masuk ruang kepala sekolah. Retha sedang dicecar habis-habisan oleh Bu Astri, sedangkan Pak Soleh selaku guru senior yang kini menjabat sebagai kepala sekolah sementara terlihat mendengarkan dengan bijaksana.


“Nah kebetulan nih pelakunya datang, Pak. Meskipun dia anak pemilik Yayasan tetap saja harus ditindak sesuai hukum kalo ingin sekolah ini tetap hits. Kita tidak butuh guru yang suka melecehkan siswanya. Hari ini Retha, besok-besok pasti siswi yang lain Pak.” Ucap Bu Astri berapi-api.


“Pak Haidar silahkan duduk di sebelah saya.” Ucapnya pada Adrian.


“Retha, kamu harus jawab pertanyaan bapak dengan jujur. Benar yang difoto ini adalah kamu?” Pak Soleh menunjukan foto dirinya bersama Adrian.


Retha tak menjawab. Ia malah mengamati foto itu berlama-lama, yang ada diotaknya saat ini adalah kapan Adrian mengambil fotonya.


“Kamu diancam apa sampai mau foto tanpa busana seperti ini?” dari bahu yang terekspos Pak Soleh bisa menyimpulkan jika keduanya hanya menutupi tubuh mereka dengan selimut.


“Pak Haidar, saya kecewa dengan Bapak. Pak Rangga juga pasti kecewa.” Ucap Pak Soleh sambil menatap Adrian. “Jika ada yang ingin Pak Haidar jelaskan silahkan.” Lanjutnya.


“Jelasin apalagi sih, Pak? Semuanya udah jelas, langsung panggil polisi aja. Kemaren-kemaren ayah saya langsung dibui meskipun sakit. Masa sekarang Pak Haidar dibiarin gitu aja, nggak adil dong!” sela Bu Astri.


.


.


.


like komen dulu sebelum lanjut gaes😘😘