Be My Wife

Be My Wife
Panggilan



“Ngapa lo udah manyun aja jam segini?” Tanya Tanesha begitu Retha menghampirinya. Keduanya lantas berjalan santai menuju kelas.


“Kesel gue. Pak Haidar pai-pagi udah gila.” Jawabnya lirih.


Tanesha menengok ke belakang, melihat sekilas guru olahraga idaman para siswi SMA Turangga, seperti biasa lelaki jangkung itu digerumuti para fans dengan aneka alasan. “Masa sih, Ret? Gila gimana sih? Waras gitu kok, kayak biasanya tetep super ganteng.”


“Nggak waras lah pagi-pagi ngajak bikin dedek kecil. Gila sumpah hih!” Retha bergidig geli mengingat bagaimana Adrian mengusap perutnya tadi. Ia jadi ikut-ikutan mengelus perutnya sendiri sambil senyum-senyum.


“Wah gue rasa lo sih yang nggak waras, Ret.” Ejek Tanesha kemudian buru-buru berjalan lebih dulu sebelum kena tabok Retha.


“Nesha! Awas aja lo kalo kena!” teriak Retha seraya mengejar sahabatnya. Ia mendadak berhenti saat hampir saja menabrak Rae yang tiba-tiba muncul di depannya setelah belokan.


“Huh hampir aja.” Gumam Retha lirih, kemudian melewati Rae begitu saja. “Lain kali jangan nongol tiba-tiba, bikin jantungan aja.” Ucapnya sebelum pergi.


Rae memegang tangan Retha, menahan gadis itu supaya tak berlalu lebih dulu. “Oke sorry...” Rae melepaskan pegangannya saat Retha menatapnya dengan begitu dingin.


“Gue pengen kita ngobrol bentar.” Lanjutnya.


“Bentar lagi masuk, gue bisa telat ke kelas.” Jawab Retha.


“Kenapa lo jadi dingin gini ke gue sih, Ret? Meskipun kita udah putus, gue pengen hubungan kita baik-baik aja kayak dulu, sebagai teman. Apa nggak bisa? Dulu kita mulai semuanya dengan baik.”


Retha tersenyum kecil, “Kita emang mulai semuanya dengan baik tapi lo udah ngakhirin semuanya dengan nggak baik, Rae.”


“Tapi lo tau Ret, semuanya cuma salah paham.”


“Kalo lo cuma mau bahas masa lalu gue nggak ada waktu Rae. Gue duluan!”


“Lo segitu bencinya sama gue, Ret? Apa temenan aja nggak bisa?” Rae kembali meraih tangan Retha supaya tak kemana-mana. Sikapnya lumayan menyita perhatian para siswa yang kebetulan lewat.


“Jelas nggak bisa lah. Berteman sama mantan hukumnya haram!” sela Rifki yang kebetulan lewat bersama pacar barunya, Nina. Si imut adik kelasnya itu menggandeng tangan Rifki dengan manja.


“Ini tangan nggak usah pegang-pegang!” dilepaskannya tangan Rae dari Retha. “Ngapain sih pake ngeladenin sampah kayak dia, Ret?” ejeknya seraya menatap jijik pada Rae.


“Eh nggak jadi lah, gue ke kelas aja sama lo, takut lo digangguin Rae lagi. Na, lo nggak apa-apa kan kelas sendiri? Ntar istirahat gue ke kelas lo deh.” Ucap Rifki.


Nina tampak kecewa, lelaki yang begitu ia cintai masih saja lebih memperhatikan Retha dari pada dirinya. Meskipun sejak awal ia tau jika Retha spesial bagi Rifki, namun tetap saja rasanya menyakitkan saat Rifki dengan terang-terangan menunjukan perhatiannya untuk Retha. Bahkan mengutamakan gadis itu dari pada dirinya yang statusnya sebagai pacar.


“Iya nggak apa-apa, lagian kelasnya udah deket. Ntar juga kita bisa ketemu lagi. Kalo gitu gue duluan Kak.” Pamit Nina, “mari Kak Retha...” lanjutnya pada Retha dengan sopan.


“Sip, ntar gue ke kelas lo.” Balas Rifki yang lantas merangkul Retha, “cewek gue manis banget kan, Ret? Lo kagak cemburu gitu gue jalan sama Nina?”


“Nggak sama sekali. Ini lepas lah tangannya! Kebiasaan banget tangannya main rangkul-rangkul aja!” ketus Retha kemudian pergi ke kelas lebih dulu.


Saat jam istirahat tiba Retha dan Tanesha tak pergi ke kantin, keduanya malah berdiri di tepi lapang basket bersama dengan siswi lain. Bukan tanpa alasan, mereka sedang menonton Adrian dan beberapa siswa yang bermain di bawah terik matahari.


“Pak Haidar kalo keringetan makin ganteng.”


“Sumpah sih keren banget.”


Retha sedikit tak ikhlas melihat suaminya jadi tontonan gratis para siswi, hingga saat pertandingan berakhir saja dirinya kesulitan memberikan air minum karena suaminya lebih dulu di kerumuni siswi lain. Bahkan sampai bel tanda istirahat telah berakhir berbunyi Retha tak bisa berbincang dengan Adrian karena lelaki itu terus sibuk dengan tim basket. Keduanya hanya bisa saling tatap dari jarak yang tak dekat. Terakhir Adrian melambaikan tangannya pada Retha, tak khayal para siswa yang berdiri di sekitar Retha ikut melehoy berjamaah, seolah-olah Adrian melambaikan tangannya pada mereka.


Pulang sekolah hari ini Retha kembali nebeng pada Tanesha karena Adrian mengiriminya pesan supaya pulang lebih dulu, dirinya harus menemui kepala sekolah yang memintanya datang ke ruangan.


“Pak Haidar dipanggil Pak kepala yah?” tanya Pak Samsul sebelum pulang, “hati-hati lo Pak, firasat saya nggak enak.”


“Kalo nggak enak yah dikasih masako aja biar jadi gurih, kalo gurih kan enak.” Jawab Adrian sambil tergelak dan berlalu ke ruang kepala dengan santai.


“Pak Haidar, saya dengar Bapak pacaran dengan salah satu siswi di sekolah ini? Apakah Bapak tau jika pacaran antara guru dan siswanya itu dilarang?”


Dan tenyata firasat pak Samsul benar adanya. Kepala sekolah terus membicarakan segala hal yang berkaitan dengan kode etik guru hingga peraturan-peraturan sekolah. Adrian hanya menghela nafas dalam, mendengarnya saja sudah membuatnya merasa buang-buang waktu.


“Tau gini gue nggak usah dateng kesini. Ternyata cuma bocil kesayangan gue yang ngoceh-ngoceh ngeselin bikin gemes. Kalo si botak yang ngoceh-ngoceh kayak gini bikin gue enek, udah kayak si paling benar aja kalo ngomong.” Batin Adrian.