Be My Wife

Be My Wife
Party



“Bang Ian! Bang Ian!” Retha memanggil suaminya yang sibuk menepon di balkon kamar. Gadis yang kini berada di kamar hotel sedang berulang kali mencocokan baju di badannya. Sepulang sekolah tadi ia dan Adrian langung menuju hotel yang telah ditentukan oleh Agus dan Tanesha beberapa hari lalu. Malam ini pesta perayaan kelulusan mereka akan digelar dan esok harinya langsung disambung dengan acara resepsi pernikahan di hotel yang berbeda, pilihan Meirani.


“Yang ini kayaknya terlalu ketat.”


“Yang ini pendek banget nih pasti nggak dibolehin.” Entah sudah berapa gaun yang Retha lemparkan ke ranjang begitu saja.


“Nah yang ini cocok nih.” Retha tersenyum puas melihat gaun berwarna mocca yang membuatnya nampak anggun namun tetap seksi. “Dada nya rada kebuka sih, tapi masih oke lah. Kan emang harus ada salah satu yang jadi focus. Masa iya ntar gue tampil biasa aja, pasti anak-anak yang lain pada heboh.” Gumamnya.


“Bang yang ini bagus nggak? Menurut Abang gimana?” teriaknya lagi karena Adrian masih saja anteng dengan telponnya.


Kesal karena Adrian terlihat tak menghiraukannya, Retha keluar dan menghampirinya. “Nelpon siapa sih sampe istri teriak-teriak aja dikacangin!” sindirnya.


“Siapkan yang paling istimewa di hotel ini.” Ucap Adrian sebelum mengakhiri panggilannya. “Tanggung barusan sayang. Kamu nanya apa emang hm?”


“Nanya apa! Nanya apa!” Retha cemberut. “Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?” lanjutnya. “ngeselin banget emang. Nggak di rumah nggak di sini, sekarang Bang Ian telponan mulu. Udah bosen apa sama aku? Mentang-mentang badan aku sekarang mulai gendut yah? Makanya Bang Ian tuh udah nggak sayang, udah nggak mau nyentuh aku lagi, padahal dulu tiap malem." cerocosnya jadi ngawur kemana-mana. Retha merasa semenjak mulai mengurus perusahaan Adrian jadi lebih sibuk dan sering menjawab telpon, tak seperti dulu yang waktunya full untuk dirinya.


“Peluk sini peluk sayangnya Abang…” Adrian mendekap gadis mungil yang kini badannya lebih berisi. “Maaf yah kalo Abang telponan mulu, kan abis resepsi besok Abang mau cuti kerja jadi banyak urusan yang harus dihandle sayang. Supaya nanti pas Abang cuti bisa full waktunya buat kamu sama Decil. Nggak enak kan kalo misal nanti kita lagi liburan Abang ngurusin kerjaan mulu hm?”


Adrian membelai sayang kepala Retha, “tadi mau nanya apa?”


“Baju, Bang. Aku bagusnya pake gaun yang mana?”


“Yang mana aja bebas, sayang. Istri Abang pake baju apa pun tetep bagus kok, yang penting kamu nya nyaman aja.


“Vitaminnya udah diminum belum? Kalo belum mau Abang siapin.” Lanjutnya bertanya. Sebelum ke hotel tadi Adrian menyempatkan membawa Retha ke dokter kandungan langganan mereka, memeriksa keadaan ibu dan calon buah hati.


“Udah aku minum, Bang.”


“Anak pinter.” Puji Adrian.


“Sekarang aku siap-siap dulu yah, Bang. Bentar lagi Tanesha kesini, lagi otw katanya. Ntar aku ke tempat pestanya bareng Tanesha aja, boleh?”


“Boleh, sayang.” Jawab Adrian, “Abang nemuin Papa sama Mama dulu yah.” Lanjutnya.


“Papa Mama kesini?”


“Iya, sayang. Acaranya sedikit berubah, Papa pengen guru sama staff sekolah juga diundang. Jadi nggak apa-apa yah jadi semua siswa sama guru pada hadir.”


“Ya nggak apa-apa sih Bang, makin rame malahan.” Jawab Retha.


“Seksi gimana? Ini baju solehah gini kok.” Retha mengibaskan gaunnya yang Panjang.


“Bawah solehah atas solehot woy. Tapi gue suka, seksi guys.” Puji Tanesha dengan mengacungkan kedua jempol. “Emang nggak dimarahin Pak Haidar lo pake baju itu?”


“Pak Haidar nggak tau sih, dia tadi udah pergi duluan. Tapi katanya nggak apa-apa gue pake baju yang kayak gimana juga, yang penting nyaman.” Jawab Retha.


Keduanya lantas menuju aula dimana pesta berlangsung. Kedatangan keduanya tak mendapat perhatian dari satu pun teman, padahal tadinya Retha sudah berharap mereka akan terpukau dengan penampilannya. Tapi keadaan di dalam aula justru sebaliknya, semua diam seperti orang bingung campur terkejut ditambah tatapan yang focus ke depan dimana papa mertuanya sedang memberikan sambutan.


“Nah itu menantu saya, Retha sini sayang.” Panggil Rangga dari depan sana. Semua tamu yang hadir langsung menoleh pada Retha dan Tanesha yang masih berdiri di depan pintu. Diantara mereka terutama kalangan siswi banyak yang menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Kebenaran guru kesayangan mereka sudah menikah saja sudah membuat mereka patah hati, kini harus menerima jika istrinya adalah Retha, salah satu siswa yang menurut mereka suka mengarang bebas soal pasangan.


Retha tersenyum anggun dan langsung berjalan ke depan bersama Adrian yang menghampirinya dan langsung membuka jas serta mengenakannya pada Retha dengan terbalik supaya bagian depannya benar-benar tertutup. “Bang Ian apa-apaan sih!” gerutu Retha saat Adrian memakaikan jas nya.


“Abang kan nyuruh kamu pakai baju yang nyaman, bukan baju kurang bahan kayak gini!”


“Ini Panjang kok.”


“Panjang, tapi atasnya kurang bahan. Udah nurut aja! Kalo nggak nurut nanti Abang hukum!”


“Udah bukan siswa Bang Ian! masa mau dihukum terus.”


“Sst!” Adrian meletakan jari telunjuknya di bibir Retha, membuat para siswi yang melihatnya ketar ketir gigit jari.


Usai sambutan ketua Yayasan dan kepala sekolah seharusnya pesta berlangsung seru khusus para siswa dan calon alumni karena para guru sudah berlalu ke ruangan lain untuk perjamuan special dari ketua Yayasan, namun nyatanya yang seru hanya alunan music dan siswa laki-laki sementara para siswi duduk rapi di meja masing-masing dengan lesu.


“Joged dong joged bestiee pada diem-diem aja.” Ledek Retha, “Sini joged santai sama istrinya pak Haidar." Lanjutnya dengan full senyum meski menggunakan jas yang bagian depannya justru dikancingkan di belakang.


.


.


.


Like sama komen dulu sebelum lanjut bestieeee


jangan lupa follow author supaya dapat notif kalo aku bikin karya baru😘😘