
Adrian merangkul Retha dan menepuk pelan bahu gadis yang sedang terdiam dengan sejuta kemungkinan terburuk.
“Udah tenang aja, nggak usah dipikirin. Gue pastiin Mama sama Papa nggak bakal ke rumah lo.”
“Beneran?”
“Ya, tenang aja sih. Wajah lo kalo lagi mikir serius nggak cocok, biasanya juga nggak pernah serius. Udah santai aja.” Adrian menepuk bahu Retha lagi.
“Santai! Santai tapi gagal mulu! Bang Ian tuh selalu bilang ini itu tapi ujung-ujungnya gagal.” Ucap Retha, cemberut.
“Kali ini nggak bakal gagal. Lo tinggal bilang aja bokap nyokap lagi nggak di rumah, ntar tinggal gue yakinin orang tua gue biar nggak ngebet ikut. Mama tuh orangnya gampang lah apalagi kalo lo yang bilang pasti nurut deh.”
“Gitu yah?”
“Iya. Udah nggak usah plonga plongo gitu, mending nikmatin aja kerja kelompok ini.”
“Kerja kelompok bohong yah Bang? Nambah dosa doang.” Ejek Retha.
“Nggak lah, kerja kelompok beneran. Kan tadi lo bilang ke nyokap kalo lagi kerja kelompok, ya udah sini gue ajarin aja, lo mau belajar apa? Kan gue guru lo.”
“Nggak mau belajar sama Bang Ian, ntar malah diajarin bohong. Gue mau bantuin Mama Mei masak aja.”
“Ya udah kalo nggak mau, sana masak yang enak yah calon mantunya Mama Mei.” Ledek Adrian. “Gue tunggu di ruang keluarga, ambilin jus jeruk yah.” Lanjutnya.
“Ogah, emangnya gue babu nya Bang Ian pake nyuruh-nyuruh seenaknya.” Tolak Retha.
“Kan calon istri, masa calon suaminya minta minum nggak dibikinin.” Ledeknya lagi.
“Hih amit-amit dah jadi istrinya Bang Ian. Nggak mau!” balasnya kemudian berlalu ke dapur. Meirani sudah sibuk dengan berbagai bahan makanan disana.
“Ma, jeruknya dimana? Bang Ian minta jus jeruk, mau Retha bikinin.” Tanyanya sambil mencari-cari keberadaan buah berwarna orange itu.
“Katanya nggak mau? tapi nyariin jeruk.” Rupanya Adrian mengikutinya ke dapur, dia membuka kulkas dan mengambil jus jeruk dari dalam sana, “kan gue bilangnya ambilin, bukan bikinin.” Ledeknya.
“Apaan sih Bang Ian kepedean, orang gue mau nyari jeruk buat mama kok.” Elaknya. “ Yah Kan Ma? Barusan Mama minta Retha ambilin jeruk?” lanjutnya pada Meirani.
“Iya.” Jawab Meirani sesuai kode kedipan yang diberikan Retha.
“Mama emang paling the best.” Bisik Retha. “Ma, Retha bantuin yah masaknya. Urusan potong memotong Retha jagonya.”
Retha membantu Meirani memotong aneka sayuran. Meski potongannya tak sesuai harapan tapi Meirani tetap menghargai hasil kerja keras Retha, gadis itu bahkan menangis saat mengiris bawang merah. Tak tega melihat calon mantunya bercucuran air mata, Meirani meminta Retha menemani Adrian saja di ruang keluarga.
“Ngapa lo mewek?”
“Bawangnya jahat, Bang.”
“Tau ah pedih banget ini mata, Bang. Gue merem bentar deh biar perihnya ilang.” Jawab Retha sambil menata bantal untuk rebahan. Tangan satunya terus mengucek mata yang berair.
Adrian memindahkan laptop di pangkuannya ke meja. “Baring sini aja, gue tiupin mata lo biar cepet ilang perihnya. Jangan dikucek gitu ntar iritasi.”
Dengan polosnya Retha menurut dan menjadikan pangkuan Adrian sebagai bantal. Ditiupnya perlahan mata Retha, hingga lama kelamaan gadis itu terlelap. “Malah mo lor ini bocah.” Gerutu Adrian.
“Cantik banget sih calon istri abal-abalnya gue.” Lanjutnya sambil mengelus pipi Retha.
“Retha, ada temen mama temuin yuk!” ucap Meirani yang baru datang ke ruang keluarga, “Eh Retha nya tidur yah?”
“Iya, udah merem dari tadi nih Ma. Harus aku bangunin?” tanya Adrian.
“Nggak usah, kasihan. Kamu aja ikut Mama temuin rekan bisnis Papa. Udah jauh-jauh datang kesini buat jenguk mama.”
“Ya, nanti aku ke depan Ma.” Jawab Adrian.
“Ya, jangan lama-lama.” Ucap Meirani kemudian berlalu ke depan.
Adrian mengambil bantal untuk menyangga kepala Retha tapi gadis itu malah terbangun. “Udahan bobo nya tuan putri?”
“Apaan sih Bang Ian! Gue ketiduran bentar doang.”
“Ya udah lo lanjut aja tidurnya, gue mau ke depan bentar.” Adrian beranjak pergi.
“Jangan ditinggalin ih! Ikut!” Retha yang masih setengah sadar menyusul Adrian dan menggandeng tangan lelaki itu. Sesekali kepalanya masih besandar ke bahu Adrian.
“Nah ini putra saya, sama calon istrinya juga.” Meirani menghampiri Adrian yang mematung sebelum sampai ke ruang tamu. Melihat dua orang yang duduk disana membuatnya kaku seketika.
Adrian melirik Retha yang masih santai bahkan satengah tidur bergelayut di lengannya.
“Kamu!” Arka beranjak menghampiri Adrian, berdiri di depannya sambil menatap keduanya dengan tajam.
“Loh Pak Arka kenal sama anak saya?” tanya Meirani.
“Retha, katanya kamu kerja kelompok. Kenapa ada disini?” tanya Freya yang ikut menghampiri keduanya.
Sayup-sayup mendengar suara yang sangat ia kenali membuat Retha membuka mata, lantas mengedipkannya berulang kali demi memastikan apakah dua orang di hadapannya benar-benar Mama dan Papa nya atau hanya sekedar mimpi belaka. “Mama sama Papa ngapain disini?”
“Harusnya Papa yang nanya! Kamu ngapain disini?!”
“Ini yang namanya kerja kelompok?” sentak Arka.
"Pa, Retha bisa jelasin semuanya." ucap Retha. "Bang Ian gimana ini?" rengeknya pada Adrian, untuk menatap wajah Papanya saja saat ini Retha tak berani.