Be My Wife

Be My Wife
Istrinya Pak Haidar



Hai kalian apa kabar?


Maaf baru bisa update, aku lagi sakit gaes.


sakit gigi ini begitu awet, padahal nggak diformalin😪😪


.


.


.


“Bang Ian!” Teriak Retha membuat Adrian yang baru beberapa menit terlelap seketika bangun.


“Ini tangannya apa-apaan woy!” Teriaknya lagi sambil berusaha melepaskan tangan Adrian yang memeluknya begitu erat.


“Elah ini tangan nakal banget dah! Awas Bang!”


Adrian masih mengerjapkan matanya, tidurnya malam ini begitu banyak ujian. Jika sebelumnya tingga tempel badan di kasur langsung merem kali ini malah harus berusaha merem mati-matian. Tidurnya tadi pun tak sengaja setelah cukup lama memandangi wajah imut yang meringkuk di sampingnya. Bukan tanpa alasan, sama halnya seperti Retha, ia tak bisa tidur tanpa memeluk guling. Dan yang ditakutkan kini terjadi, berhubung guling miliknya hanya satu dan dipeluk Retha, ia malah jadi tanpa sadar memeluk gadis itu.


Adrian menarik lengannya dari tubuh Retha, dan beralih memunggungi gadis itu. “Nggak usah teriak-teriak kan bisa. Pusing nih gue jadinya! Nggak tau orang baru tidur apa!”


“Kalo Bang Ian nggak peluk-peluk juga gue nggak bakalan teriak. Kan udah dikasih batas tadi, ngapa dilewatin sih!”


“Batasnya kan lo peluk.” Adrian kembali menghadap Retha. Muridnya itu, eh istri bawelnya itu sedang nyerocos panjang lebar hanya karena perkara pelukan yang tak disengaja. Adrian sampai heran, orang lain biasanya jika bangun tidur akan terdiam sejenak untuk mengumpulkan kesadaran, tapi bocah di hadapannya malah langsung nyerocos gas pol.


“Tapi kan Bang, Hmm...”


Adrian membungkam mulut Retha dengan telapak tangannya, “Jangan berisik! Liat noh masih jam dua.” Ucapnya seraya menunjuk jam di dinding kamarnya dengan lirikan mata.


“Yang barusan maaf deh, nggak sengaja. Lagian lo yang duluan meluk gue kok.” Lanjutnya beralasan.


“Masa sih? Gue kalo udah meluk guling nggak bakal nyari yang lain kok.”


“Lah lo kan merem, bocah! Mana sadar kalo tangan lo tuh nakal gre pe gre pe ke gue!”


“Ih masa sih?”


“Masa sih? Masa sih?” Ejek Adrian dengan menirukan ucapan Retha. “Udah nggak usah bawel, tidur lagi! Sekarang gue ngadep sini deh biar aman, lo ngadep sana jauh-jauh dari gue!” Adrian lantas meringkuk ke arah yang berlawanan.


“Bang!”


“Bang Ian!” Tak mendapat jawaban, Retha menoel punggung Adrian dengan jari telunjuknya.


Adrian meniupkan nafasnya kasar dan berbalik ke arah Retha. “Apalagi Aretha Rahardian? Huh susah banget dah pengen tidur doang!”


“Biasa aja dong, Bang. Jangan ngegas gitu.”


“Iya-iya buruan, sekarang apa lagi?” tanyanya, “udah jam tiga noh, gue pusing kalo kurang tidur!” lanjutnya.


“Pengen minum, Bang.”


“Ambil aja ke dapur. Lampu pada nyala semua kok, nggak usah alesan takut gelap.”


“Ambilin sama Bang Ian lah. Di rumah udah biasa suka ada air minum deket tempat tidur soalnya gue suka haus kalo tengah malam, bangun tidur juga harus langsung minum. Jadi Mama udah biasa nyediain air sebotol gede tiap hari.”


“Ya tapi kan itu di rumah lo, kalo disini kan-“ Adrian tak meneruskan kalimatnya, toh anak itu pasti tak mau kalah dan bisa-bisa berujung cek cok sampai pagi jika dilawan.


“Oke gue ambilin!” Adrian beranjak meninggalkan kamarnya.


“Besok gue pindahin galon ke kamar lah, biar nggak ribet.” Gerutunya. “Sekalian sama kulkas juga kayaknya perlu, kali aja dia tengah malam laper. Atau ranjang gue aja yang pindah ke dapur biar lebih gampang?” lanjutnya yang kemudian tergelak sendiri.


Adrian kembali ke kamar dan memberikan air yang ia bawa, “silahkan air minumnya istriku yang paling ribet.” Ucapnya penuh penekanan.


Sesuai perkiraan Adrian, setelah keinginannya dituruti gadis itu kembali tenang dan berubah manis. Dia terlelap sambil memeluk gulingnya lagi.


“Betah nih gue liatnya kalo lo mode merem gini. sekalinya bangun aja ini bibir minta disumpel mulu.” Adrian jadi gemas menyentuh bibir mungil Retha.


“Ya ampun sadar-sadar Ian!” gerutunya kemudian terlelap menyusul gadis itu.


Pagi hari, keduanya terbangun berkat ponsel Adrian yang berulang kali berdering. Bukan alarm tapi telepon masuk dari Agus.


“Bang Ian! Kan udah dibilangin jangan peluk Hmmm.” Adrian kembali membungkam bibir Retha dengan tangannya.


“Jangan ngomel! Jam enam, kita bisa telat ke sekolah.” Ucapnya seraya memperlihatkan layar ponselnya.


Setelah bersiap-siap super cepat, keduanya lantas ke ruang makan untuk berpamitan.


“Ma, kita udah telat. Nanti sarapan di sekolah aja.” Ucap Adrian setelah menyalami kedua orang tuanya. Retha juga melakukan hal yang sama.


“Udah tau istri masih sekolah masih tancap gas aja kamu tuh!” ucap Rangga.


“Iya, jadi telat kan. Padalah belah-belah kan bisa nanti malam aja, besok libur.” Sambung Meirani.


“Apaan sih Mama sama Papa tuh nggak jelas banget.” Ucap Adrian.


“Kamu tuh suka ngelak. Semalem Retha sampe teriak-teriak. Kamu nggak apa-apa kan sayang?” tanya Meirani pada Retha.


“Nggak, Ma.” Jawabnya jujur.


“Udah-udah nggak usah dilanjutin, kita berangkat!” Adrian menarik Retha supaya cepat mengikutinya.


Beruntung mereka tak terlambat sampai sekolah, meski datang lebih siang dari pada biasanya tapi bel sekolah belum berbunyi. Hanya saja kedatangannya bersama Retha menjadi sorotan banyak orang.


“Nanti makan di tempat biasa, biar gue yang bawa makanannya.” Ucap Adrian sebelum turun.


“Siap. Gue duluan yah, Bang.”


“Heh tunggu bentar!”


“Apalagi lagi, Bang?”


“Salim dulu!”


Retha menyalami tangan Adrian dan menempelkannya di pipi, “sekolah dulu yah suamiku.” Ucapnya sambil tergelak.


“Ya sana, yang pinter yah istriku terbawel.” Adrian balas mencubit gemas pipi Retha.


Retha turun dari mobil Adrian sambil senyam senyum tak jelas, bahkan sampai kelas pun ia masih tergelak sendiri.


“Kata anak-anak lo berangkat sama Pak Haidar, Ret?” Tanya Tanesha begitu ia tiba di kelas.


“Yoha...” Jawabnya santai.


“Gimana caranya? Kok bisa?”


“Bisa lah kan gue istri tercintanya Bapak Haidar.” Jawab Retha.


“Ampun dah!! nggak waras ini anak!” Ejek Tanesha seraya menoyor kepala sahabatnya.


like sama komennya jangan lupa gaes.


yang punya vote aku kuy kasih buat bang Ian sama Reret😘😘