
“Bang Ian kalo udah selesei urusan di sekolah jemput aku di Mall tempat biasa.” Adrian membaca pesan masuk dari istrinya. Ia lantas membereskan sisa pekerjaannya dan memutuskan melanjutkannya di rumah nanti karena sudah seharian tak melihat Retha sama sekali, dari pagi ia yang seharusnya menjadi pengawas di salah satu ruangan ujian justru dialihkan pada guru lain karena kepala sekolah yang mengadakan rapat intern khusus pengelola dana secara dadakan.
Saat selesai ujian tadi ia ingin sekali menemui Retha meskipun hanya bisa melihat dari jauh supaya tak ada yang curiga jika mereka masih menjalin hubungan, namun nyatanya hanya sebatas keinginan tanpa realisasi. Hari ini kepala sekolah terang-terangan membuka soal dana gelap yang mereka bentuk demi keuntungan pribadi dari dana bantuan operasional sekolah maupun dana sumbangan komite yang mereka pungut dari wali murid.
Adrian tak mengira jika besarnya dana yang mereka kumpulkan begitu banyak, sekitar tiga puluh persen dari total rencana anggaran dan kegiatan sekolah. Cara yang mereka lakukan begitu apik, dari mulai bekerja sama dengan pihak pengadaan barang supaya meninggikan nilai faktur pembelian, membuat nota-nota palsu dengan cap dan tanda tangan sendiri, hingga membuat PT kosongan hingga mereka bebas membuat bukti transaksi sendiri tanpa pengadaan barang yang sesuai aturan. Demi kelancaran misi, Adrian menurut saja dan mengiyakan semua yang diucapkan kepala sekolah, dia bahkan memberikan nomor rekening yang nantinya akan digunakan untuk transfer komisi atas Kerjasama penggelapan dana.
“Ingat Pak Haidar ini hanya untuk kalangan intern saja. Cuma saya, Bapak, Astri dan Pak Eko. Jika sampai masalah ini bocor keluar tentu Bapak akan mendapat masalah.” Ucap Kepala sekolah.
“Saya rasa Pak Haidar cukup cerdas untuk menentukan pilihan. Tetap dipihak kita dan lanjutkan bisnis menguntungkan ini. Saya akan bantu Bapak supaya jadi tenaga pendidik tetap di Yayasan Turangga. Double bonus bukan? Jadi guru tetap dan bisnis menguntungkan tanpa pusing-pusing.” Lanjutnya.
“Iya bener loh Pak Haidar, saya yang ikutan baru satu tahun aja udah bisa beli rumah sama mobil yang lumayan mewah. Pokoknya untung banget deh asal kita main rapi.” Sambung Pak Eko, “apalagi kalo Pak Haidar mau sama Bu Astri makin-makin deh bonusnya bukan Cuma double tapi triple deh.”
“Pak Eko bisa aja. Saya permisi pulang duluan. Untuk tugas-tugas ini akan saya lanjutkan di rumah. Soal bisnis pengggelapan dana tentu saya sangat-sangat ingin berpartisipasi, Pak.” Jawab Adrian. “saya beruntung sekali bisa diajak Kerjasama disini, kalo Cuma ngandelin gaji guru magang kayaknya saya nggak bisa beli rumah yah?” Adrian tertawa miris.
“Bisa-bisa jadi anak kontrakan berkepanjangan saya.” Lanjutnya.
“Jadi Pak Haidar masih ngontrak? Tapi kok itu mobilnya bagus?” tanya Bu Astri.
“Iya saya ngontrak Bu. Mobil bagus yang biasa saya pake itu punya pemilik kontrakan. Saya kan merangkap jadi supirnya anak ibu kontrakan. Mereka itu udah terlalu sultan, jadi setelah nganter anaknya itu mobil boleh saya pakai. Lumayan buat gaya-gayaan.” Ucap Adrian.
“Sekarangkan musimnya yang penting gaya elit, nggak peduli ekonomi sulit juga haha…” lanjutnya.
“Ayah bilang juga apa? Pak Haidar itu madesu, masa depan suram.” Ucap Pak Kepala.
“Udah kamu mending stop deh ngarepin dia, siap-siap jadi calon istri anaknya Pak Rangga aja yang udah jelas masa depannya terang benderang. Lulusan S2 luar negeri, kaya dan Pewaris tunggal. Dari pada Pak Haidar Cuma guru magang, rumah masih ngontrak, lulusan universitas terbuka pula.”
“Emang kenapa kalo Pak Haidar lulusan universitas terbuka, Yah? Buktinya dia cerdas, liat laporan yang dia bikin bahkan lebih sempurna dari buatan aku. Bukannya kuliah dimana pun sama? Tergantung orangnya aja.”
“Kamu kok malah belain Haidar sih!”
“Ya kan emang gitu, Ayah. Pokoknya aku nggak mau mundur buat dapetin Pak Haidar. Apalagi akhir-akhir ini kita sering ngerjain laporan bareng, lambat laun juga Pak Haidar pasti suka sama aku. Apalagi lihat kemampuan aku yang luar biasa. Siapa sih yang nggak suka sama cewek cantik plus smart?” ucapnya membanggakan diri sendiri.
.
.
.
anu gimana yah hm
mungkin bu Astri lupa kalo percaya diri itu penting, tapi sadar diri jauh lebih penting🤭🤭