Be My Wife

Be My Wife
Meninggal



Adrian mondar mandir di depan unit gawat darurat setelah sebelumnya diusir keluar karena terus panik tak terkontrol. Mendapati Retha tergeletak di tengah jalan dan hampir tertambrak mobil benar-bener membuatnya frustasi, beruntung Tanesha begitu sigap menarik sahabatnya ke pinggir. Bayangkan jika Tanesha justru melongo seperti di adegan sinetron-sinetron? Bisa dipastikan istri dan calon anaknya pasti sudah tamat detik itu pula.


“Pak Haidar tenang dulu nggak sih? Retha sama Tanesha pasti nggak apa-apa, mereka sadar kok.” Ucap Rae yang sejak tadi bersandar di dinding sambil melihat gurunya yang tak bisa tenang sama sekali.


“Gimana saya bisa tenang? Istri sama anak saya hampir mati di depan mata saya sendiri!”


“Tapi kan mereka nggak apa-apa, mereka selamat Pak. Toh Retha sama Tanesha juga dalam keadaan sadar, jadi bapak jangan panik.”


Adrian hanya menjambak rambutnya sendiri, frustasi. Tak habis pikir bisa-bisanya tahanan polisi berkeliaran dengan bebas seperti itu. Belum selesai ia bergelut dengan pikirannya sendiri, para orang tua sudah tiba dan langsung memberondongnya dengan aneka pertanyaan tanpa henti. Apalagi Mama Mei, wanita itu terang-terangan memarahi Adrian karena lalai menjaga istrinya.


“Ma, sudah jangan ribut disini. Malu.” Lerai Rangga. “Ian juga pasti nggak mau ada kejadian seperti ini, namanya juga musibah.”


Saat Retha dan Tanesha sudah selesai diperiksa, mereka diperbolehkan masuk dengan syarat tidak boleh ribut demi kenyamanan semua pasein yang ada disana.


“Ma….” Retha meregangkan kedua tangannya begitu Freya dan Meirani masuk. Kedua wanita itu langsung memeluk Retha dan menanyakan kondisinya.


“Aku nggak apa-apa, Ma. Decil juga nggak apa-apa.” Jawabnya sambil mengelus perut. “Kan Papa nya guru olahraga jadi anaknya kuat. Cuma kepala aku aja sakit dikit, dijambak-jambak. Tapi nggak apa-apa kok.” Lanjutnya.


“Syukur Alhamdulillah kalo begitu. Mama lega dengernya.” Mereka tak lupa mengucapkan terima kasih pada Tanesha. Gadis itu juga tak apa-apa, hanya lecet-lecet sewajarnya.


“Abang…” Panggil Retha pada Adrian yang berdiri di paling ujung, lelaki itu tampak beberapa kali menyeka air matanya. “Bang Ian nggak mau meluk aku? Decil pengen dipeluk Papa nya.”


Adrian menghela nafas dalam kemudian tersenyum dan menghampiri Retha, memeluk gadis itu erat-erat sambil menahan isakan. “Bang Ian nangis? Aku nggak apa-apa Bang.” Ucap Retha.


“Iya, untungnya kamu nggak apa-apa. Abang nggak bisa bayangin kalo tadi…” Adrian bahkan tak bisa meneruskan kalimatnya.


“Tidak perlu dibayangkan atau diungkit lagi, namanya musibah. Yang penting Retha sama calon cucu papa sekarang tidak apa-apa. Kamu tidak perlu merasa bersalah berlebihan.” Arka menepuk bahu menantunya.


“Iya, Pa. Maaf aku belum bisa jadi suami yang baik.” Jawab Adrian.


“Dari tadi tuh Bang Ian minta maaf terus deh! Padahal kan kita nggak lagi lebaran. Sampe bosen aku dengernya.” Sela Retha.


“Maaf sayang…”


“Tuh kan maaf lagi!”


“Iya-iya udah nggak minta maaf lagi. Tapi dimaafin kan?”


“Tau ah, kesel. Pengen pulang terus makan, lapar ini belum makan apa-apa.” Gerutu Retha.


“Abang!! Kata dokter nggak apa-apa udah diperiksa. Disini dokternya siapa sih? Heran deh. Pokoknya mau pulang.”


“Iya, kita pulang sekarang.”


Sebelum pulang ke rumah, Adrian dan Retha mengantarkan Tanesha lebih dulu. Bagi Adrian rasanya tak cukup hanya berterimakasih pada Tanesha saja, ia ingin menemui orangtua Tanesha untuk menjelakan kenapa Tanesha sampai lecet-lecet hingga mengucapkan terimakasih.


Tiba di rumah, Adrian menemani Retha sarapan lebih dulu. Biasalah, meski kandungannya sudah memasuki Trimester kedua tapi kebiasaan memakan makanan yang harus dicicipi olehnya masih melekat hingga kini.


“Mau apalagi? Pudding yang dari mommy Miya mau dimakan sekarang?” tawar Adrian.


Retha menggeleng, “buat ntar sore aja Bang, udah kenyang.”


“Oke ntar Abang siapin. Sekarang istirahat yah, Abang mau nyusul Agus dulu ke kantor polisi.” Pamit Adrian.


“Kamu tidak perlu ke kantor polisi, Ian. Barusan Agus udah ngasih kabar ke Papa, kamu ditelpon nggak diangkat-angkat.” Ucap Rangga yang baru saja menghampiri mereka.


“Iya, Pa. Gimana kata Agus? Apa Bu Astri udah diamanin? Aku perlu ketemu sama dia! Orang kayak gitu mesti kasih pelajaran lebih, aku mau nambah hukuman lewat kajadian hari ini.”


“Kita tidak bisa menuntut apa-apa Ian. Kita tidak bisa menghukum Astri.” Jawab Rangga lirih.


“Kenapa nggak bisa, Pa? dia udah bikin Retha celaka berulang kali. Pokoknya aku mau kantor polisi dan bikin tuntutan baru. Biar dia selamanya di penjara.”


“Astri sudah tidak ada, Ian.”


“Nggak ada? Maksudnya bu Astri kabur lagi gitu Pa?” sambung Retha. “Heran deh kenapa sih polisi kita tuh nggak kayak yang di drakor-drakor? Bisa-bisanya tahanan pada bebas berkeliaran.” Lanjutnya. Adrian mengangguk setuju dengan pendapat istrinya.


“Bukan kabur, tapi meninggal.” Ucap Rangga.


“Kabar terakhir dari Agus, Bu Astri itu tertabrak mobil saat berusaha kabur dari rumah sakit. Setelah insiden pagi tadi sama seperti kamu, dia juga dibawa ke rumah sakit.” Jelas Rangga.


“Kemarin dia bawa ke rumah sakit karena ribut dengan sesama tahanan dan berhasil kabur dari rumah sakit hingga akhirnya bikin kamu celaka.”


“Sebelumnya dia juga pernah pura-pura gila supaya bisa dapat keringanan hukuman, tapi ketahuan.”


“Mungkin sudah takdirnya harus seperti ini, karena sudah tak bisa dihukum oleh manusia maka Tuhan yang akan memberi dia hukuman secara langsung.” Pungkas Rangga.