Be My Wife

Be My Wife
Gimana?



“Bu Meirani, apakah ada penghulu yang rumahnya di sekitar sini? Saya butuh sekarang juga.” ucap Arka pada wanita yang sejak tadi tak mengerti akan apa yang sedang terjadi saat ini. Kenapa menjenguk dirinya yang sakit perlu penghulu segala.


“Ada tetangga depan, kerja di KUA Pak. Tapi untuk apa? Ini sebenernya ada apa? Kok Pak Arka tiba-tiba main sentak ke calon mantu saya?”


“Saya memang ingin segera menghalalkan Retha, tapi nggak sekarang. Rencananya nanti saya mau ikut nganter Retha pulang sekalian silaturahmi ke calon besan.” Jelas Meirani. Dia tadi memang sempat menceritakan sakitnya langsung sembuh begitu dikunjungi calon menantunya, hingga ia ingin mengenalkan Arka dan Freya pada calon istri putranya itu.


“Tidak perlu silaturahmi ke calon besan, Bu Mei. Langsung nikahin aja mereka sekarang.” Tegas Arka masih dengan tatapan penuh intimidasi pada Retha dan Adrian.


“Papa! Papa jangan gitu dong! Retha bisa jelasin semuanya Pa.” Ucap Retha.


“Bang Ian jangan diem terus dong!” Retha menepuk lengan guru olahraganya itu. “Bang Ian gimana sih! Tadi katanya suruh tenang! Tenang! Tapi jadinya kayak gini!” omel Retha. Kini ia beralih ke sisi Freya mencari perlindungan dari sang pemilik surganya.


“Mama... Retha bisa jelasin semuanya. Retha kesini demi kemanusiaan, Ma. Retha nggak mau nikah.”


“Kemanusiaan apa lagi? Tadi ijinnya kerja kelompok, sekarang ganti jadi demi kemanusiaan. Papa udah nggak ngerti lagi sama kamu! Katanya kemaren kapok kenapa sekarang malah lebih parah? Berani bohong sama orang tua malah main ke rumah laki-laki.” Sentak Arka.


“Om jangan galak-galak. Retha nggak salah, aku yang ngajakin Retha kesini.” Sela Adrian.


“Kamu juga! kan saya sudah bilang kalo suka sama anak saya tunggu dia lulus dulu. Saya bener-bener nggak habis pikir sama kalian berdua.” Sentaknya pada Adrian.


“Pak Arka kok jadi nyentak-nyentak anak saya juga?” protes Meirani. “Pak Arka tenang dulu, tunggu suami saya pulang sebentar lagi. Kita selesaikan masalah ini baik-baik.” Lanjutnya.


“Pa, jangan marah-marah di rumah orang, malu.” Ucap Freya mencoba menenangkan.


“Ck!” Arka berdecak keras kemudian menghembuskan nafas kasar. “Awas aja kalian! Harus nikah malam ini juga!” ucapnya kemudian kembali duduk.


“Mama, Retha nggak mau nikah.” Ucapnya pada Freya.


“Udah jangan nangis, ntar cantiknya jadi ilang. Lagian kamu bisa-bisanya bohong sama kita.” Freya mengusap pipi basah putrinya.


“Diajarin sama Bang Ian, Ma.” Retha menunjuk Adrian.


“Lah kok nyalahin gue! Kan udah kesepakatan kita berdua.” Bantah Adrian.


“Sudah-sudah! Kalian itu selalu ribut.” Lerai Meirani. “Sekarang saya ngerti, Pak Arka dan Bu Freya orang tuanya Retha?”


“Saya senang sekali bisa ketemu sama calon besan, nggak nyangka ternyata Retha putrinya Bapak sama Ibu. Soal nikah saya setuju mau diselenggarakan malam ini juga, sangat-sangat setuju.” Lanjutnya.


“Ma!” Teriak Adrian dan Retha bersamaan.


“Retha nggak mau nikah!”


“Aku juga nggak mau, Ma.” Sambung Adrian.


“Kenapa? Tadi aja kalian romantis banget, Retha tidur dipangkuan kamu aja dilihatin terus.” ucap Meirani.


Mendengar itu Arka kembali menatap tajam putrinya, “Retha, kamu!”


“Pa jangan kayak gini please... Retha masih sekolah, Pa. Lagian Bang Ian itu guru Retha di sekolah, masa Retha nikah sama guru sendiri Pa?”


“Oh jadi dia guru kamu? Pantesan akhir-akhir ini semangat banget sekolahnya. Sampe bawa bekal segala, ternyata di sekolah kamu pacaran bukan belajar.”


“Sering pulang sore karena kerja kelompok, ternyata kerja kelompok plus-plus.”


“Pa, Retha bohongnya baru sekarang. Yang dulu-dulu kerja kelompok beneran sama Tanesha, Pa.” Bantah Retha.


“Papa nggak mau denger alesan apa pun. Kalian nikah malam ini juga, setelah itu silahkan lanjutkan kerja kelompoknya sesuka hati!” pungkas Arka kemudian berlalu keluar untuk menelpon rekan bisnisnya supaya pulang membawa penghulu.


"Ma, bantuin Retha. Kasih tau Papa, Retha nggak mau nikah Ma." rengeknya pada Freya.


"Mama nggak bisa ngelakuin apa-apa, kamu tau sendiri Papa kayak gimana. Nggak bisa dibantah kalo urusan kayak gini."


Tak puas dengan jawabannya Freya, kini Retha beralih menghampiri Meirani. Wanita itu langsung memeluknya penuh sayang.


"Calon mantu Mama jangan nangis gini."


"Retha nggak mau nikah, Ma. Retha masih sekolah, kelas 12. Siswa kan nggak boleh nikah, Ma." ucapnya dengan alasan yang masuk akal.


"Kata siapa nggak boleh? boleh kok." jawab Meirani santai.


"Tapi di peraturan sekolah ada, Ma. Nggak boleh."


"Boleh aja asal nggak ada yang tau, sayang. Lagian sekolahnya juga punya Mama, jadi nggak masalah selama nggak ada yang tau."


"Ma..." rengek Retha.


"Jadi mas kawinnya mau berapa? masih tetep 10 M apa mau naik? Mama siapin cek nya sekarang, supaya pas Papa pulang sama penghulu semuanya udah siap." ucap Meirani.


Retha semakin terisak mendengarnya, ia melirik Adrian yang menjambak rambutnya sendiri, frus ta si.


"Bang Ian, ini gimana? kok jadi kayak gini?"


.


.


.


Gimana nih Bang Ian? tanggung jawab😛😛


biasalah, like komen kopi kembang sama favoritkan!!!