
Sepulang dari rumah sakit, Adrian kembali ke apartemennya bersama Retha. Mereka sudah memutuskan akan kembali ke rumah utama supaya Retha tak sendirian saat dirinya tidak ada di rumah. Alasan lainnya juga karena Mama Mei belum bisa percaya sepenuhnya pada pasangan mud aitu setelah insiden olahraga malam berlebih yang mengakibatkan perut Retha sakit. Awalnya Adrian menolak untuk kembali tinggal bersama kedua orang tuanya, namun setelah diberi penjelasan dan alasan jika semua demi kebaikan Retha, akhirnya ia mengalah dan menuruti keinginan sang mama. Barulah nanti setelah anak mereka cukup besar bisa kembali ke rumah mereka sendiri.
“Harusnya hari ini nggak usah sekolah, istirahat aja di rumah sayang. Ujian prakteknya kan bisa ikut susulan.” Ucap Adrian saat Retha tengah bersiap-siap.
“Apaan sih Bang Ian! Kata dokter juga nggak apa-apa, nih udah nggak sakit juga.” Jawab Retha.
“Takut Decil kenapa-kenapa, sayang.” Adrian memeluk gadis yang sedang memasukan peralatan sekolahnya kedalam tas dari belakang. Kedua tangannya mengelus si Decil yang belum bisa memberikan respon apa pun.
“Dia nggak bakal kenapa-kenapa Bang. Lagian semalem kan sakit gara-gara Abang, nggak bisa pelan-pelan mainnya.” Sindir Retha.
“Iya iya deh salah Abang. Besok-besok kalo main pelan deh.”
“Nggak boleh, libur Bang. Libur dulu tiga bulan! Bang Ian nggak denger kata dokter tadi apa!” ledek Retha.
“Kata dokter boleh kok asal pelan.”
“Pokoknya libur tiga bulan. Titik.” Retha tersenyum meledek dan berlalu keluar lebih dulu.
Keduanya tiba di sekolah cukup siang namun tak masalah karena jadwal ujian prakteknya dimulai pukul Sembilan. Sebelum turun Adrian memberikan tas bekal pada Retha, ia tak ingin anak dan istrinya sampai kelaparan hanya karena menunggu makanan diicip-icip dirinya dulu, sedang hari ini dipastikan ia masih akan sangat sibuk. Selain harus mengurus sekolah, ia juga harus pergi ke kantor polisi untuk menindaklanjuti kasus korupsi yang dilakukan kepala sekolah.
“Jangan sampe telat makan. Abang udah siapin semua soalnya nanti jam sepuluh mau ke kantor polisi. Kamu pulangnya kalo mau main sama Tanesha tinggal main aja terus kabarin jemput dimana-dimananya."
“Vitamin sama susu yang buat siang jangan lupa di minum.”
“Kalo ngerasa nggak enak badan atau butuh apa-apa bisa langsung telpon Abang.”
“Diem aja, ngerti nggak?” tanyanya.
“Ngerti Abang. Lagian Bang Ian jadi bawel banget sih. Pokoknya tenang aja semua aman terkendali. Ini makanan udah diicip semua kan?” Retha melihat isi tas bekalnya.
“Sip deh kalo gitu.” Retha mengulurkan tangannya untuk menyalami Adrian. “Aku sekolah dulu yah.” Pamitnya.
“Tunggu dulu!” Adrian menarik Retha yang hendak membuka pintu lantas mengecup kening gadis itu. “Ngapa-ngapainnya hati-hati, jangan kecapean, inget ada Decil.” Ucapnya sambil mengelus perut Retha.
“Siap Papa Ian.” Jawab Retha sambil tersipu. Ia lantas keluar dari berlari karena merasa sudah datang terlalu siang.
Dari dalam mobil Adrian menggelengkan kepalanya, “baru dibilangin buat hati-hati malah udah lari aja itu bocil.”
“Yang modelan kayak gitu udah mau jadi mama, gimana nasib anak gue ntar?” batinnya.
Ujian praktek hari ini lumayan menguras tenaga meskipun hanya membatik di kain ukuran satu meter. Nyatanya membatik tak semudah yang mereka kira, urusan gambar menggambar motif diserahkan sepenuhnya pada Retha. Tapi untuk pencantingan malam dan cuci celup benar-benar menguras energi. Kelas mereka bahkan berakhir hingga jam lima sore untuk menyelesaikannya.
“Mau bareng gue apa dijemput Pak Haidar?” tanya Rifki saat mereka sedang bersiap-siap untuk pulang.
“Dianterin Tanesha aja lah, bisa kan Nes?” jawab Retha.
Tanesha terlihat sedikit berfikir namun kemudian gadis itu mengangguk setelah mengirim pesan pada seseorang jika mereka tak jadi pulang bersama. “Iya, bisa. Yuk gue anterin.”
“Ya udah lo berdua gue anterin aja.” Rifki yang merasa sudah diberi kepercayaan oleh Adrian tak ingin membiarkan dua gadis itu berkeliaran begitu saja, ia takut terjadi hal yang tak inginkan saat dirinya tak ada. “Takut lo berdua kenapa-kenapa.” Imbuhnya.
“Justru kalo bareng lo Retha jadi kenapa-kenapa.” Sindir Windi yang baru saja melewati meja mereka. “Cewek mana yang mau cowoknya deket sama cewek lain?” lanjutnya.
“Maksud lo?” tanya Rifki, “jangan mentang-mentang kemaren udah bantuin Retha terus itu mulut bisa ngoceh seenaknya yah!”
“No comment lah. Lo tanya aja sama cewek lo. Kemaren si Retha diapain sampe pingsan gitu.” Pungkasnya lalu berlalu pergi. Bukan tanpa alasan, Windi yang sudah pernah dibuat malu karena menyebar gossip tanpa bukti kali ini untuk berjaga-jaga ia memeriksa CCTV sekolah dengan alasan mencari barang hilang yang tertinggal di toilet. Dan rekaman Nina keluar dari toilet sebelum dirinya datang membuatnya yakin jika gadis itu yang mencelakai Retha, ditambah lagi bahasan adik kelasnya yang tak sengaja ia dengar siang tadi tentang rencana mencelakai Retha jika masih berdekatan dengan Rifki. Benar saja, cinta memang bisa membutakan akal sehat. Windi sampai tak menyangka Nina yang terlihat lugu ternyata bisa membuat rencana segila itu.