Be My Wife

Be My Wife
Pil KB



Sejak bangun tadi si bocil kesayangannya itu misuh-misuh bak beo yang kelaparan hingga tak berhenti berbunyi hanya gara-gara dirinya kebablasan keluar di dalam. Padahal kan bukan murni salahnya, namanya juga lagi enak ya wajar kalo gagal kontrol, toh tadi Retha tak protes tapi selalu saja setelah selesai gadis itu misuh-misuh. Disaat seperti itu ada untungnya juga punya istri gila boy band, dibujuk-bujuk dikit yang bau-bau korea langsung adem si bocil.


Meskipun kali ini Retha bisa dibujuk tapi tak menjamin kedepannya ia tidak mengulangi kesalahan yang sama. Untuk menanggulangi hal itu Adrian menghabiskan waktu satu jam untuk mencari info terkait pencegah kehamilan yang paling memungkinkan digunakan Retha. Adrian memilih pil KB yang menurutnya simple dan efektif, ia pun lansung memesannya secara online.


“Yang, minum ini nih biar nggak hamil.” Ucap Adrian seraya menghampiri istrinya yang sedang nyemil nugget sambil menonton vidio klarifikasi agensi suami halunya terkait isu-isu pacaran kemarin. Adrian harus rela TV super lebar yang biasa ia gunakan untuk menonton siaran bola kini dikuasai si kesayangan yang mulai pagi tadi tak mau lagi menonton suami halunya lewat ponsel, katanya kalo gambarnya lebih lebar lebih mantap.


“Bang ternyata suami aku nggak punya pacar. Ah yang kemaren hoax, sia-sia deh aku udah nangis-nangis. Emang Kim Taehyung tuh the best lah.” Bukannya menjawab Retha justru senang tanpa dosa membanggakan laki-laki lain di depan suaminya.


“Ya iya dia the best lah. Mana ganteng banget yah.” Puji Adrian, sumpah ia ingin muntah mengucapkannya.


“Iya, Bang. Banget...” Retha dengan lebay beranjak dari duduknya dan memeluk TV.


CK! Adrian berdecak lirih melihatnya. Ia hanya duduk sambil melihat tingkah konyol Retha. “punya bni gini amat modelannya. Untung gue sayang.” Batinnya.


“Aku seneng banget loh Bang Ian bisa nerima Taehyung. Jadi makin cinta sama Abang...” Adrian sedikit terkejut kala Retha tiba-tiba memeluknya dengan erat.


“sayang Bang Ian banyak-banyak. Muah...muah...” ia bahkan dapat bonus cium pipi kiri kanan dari si bocil yang sedang girang bukan main.


“Ya ampun gemesnya....” Adrian balas memeluk Retha tak kalah erat. “punya istri bocil pengen disayang-sayang mesti ngasih puja puji dulu suami halunya.” Batin Adrian.


“Yang, ini kalo peluk-peluk mulu bisa lanjut ngamer lagi kita. Apa mau coba disini aja?”


Retha langsung melepaskan diri dan memukul pelan dada suaminya, “modus mulu, ogah! Ntar keluar di dalem lagi!”


“Tenang Yang, sekarang mau keluar di dalem juga aman asal minum ini rutin sehari sekali.” Adrian memberikan pil KB pada Retha.


“Ini apaan Bang?” Retha menatap selebar kumpulan beberapa pil yang terdapat tulisan angka beserta panah-panah yang tak ia pahami.


“Pil KB. Ini minumnya nggak sembarangan Yang. Mesti itung tanggal haid kamu kemarin berapa? Terus minum sesuai petunjuk.” Adrian menjelaskan aturan minum pil tersebut. Ia bahkan mempelajarinya dulu sebelum memesan tadi.


“Nah berarti hari ini minum yang ini nih.” Adrian membuka satu pil dan memberikannya pada Retha.


“Abang udah baca-baca dari sekian banyak pil KB, ini paling oke nih. Paling mahal dan bagus buat kulit, katanya bisa jadi makin cerah.” Imbuhnya.


“Oh gitu...” Retha tak mau ambil pusing, ia segera meminumnya.


“Oke siap, Bang.” Retha beranjak pergi ke kamar dan meletakan pilnya di atas nakas dekat ranjang.


“Bang Ian ngapain nyusul kesini? Lanjut nonton berita aja yuk, lagi seru tadi.”


“Lanjut mantap-mantap aja lah Yang, mumpung libur. Kan sekarang aman, nggak bakal hamil terus nggak pake fiesta juga.”


“Nggak mau ah, ntar malem aja Bang. Sekarang mending jalan-jalan, katanya mau beliin poster yang baru, jadi nggak?”


“Jadi lah, ayo! Apa sih yang nggak buat kesayangannya Abang.”


Keduanya lantas bersiap-siap untuk pergi. Baru saja mereka hendak naik mobil, Retha mendapati mertuanya datang dengan banyak bawaan.


“Anak mama katanya kamu sakit?” tanya Meirani.


“Kamu ini gimana, Ian? Istri sakit kok nggak ngabarin mama sih?” lanjutnya pada Adrian.


“Retha nggak apa-apa kok, Ma. Kemaren cuma pegel-pegel abis dihukum. Tapi udah sembuh, ini mau jalan-jalan sama Bang Ian. Mama mau ikut sekalian? Kita jalan-jalan bareng kayaknya seru.” Ucap Retha.


“Kalian mau jalan? Kalo gitu Mama mau nyimpen ini aja, stok makanan. Terus mama lanjut main ke rumah mama kamu aja. Kalo ikut kalian takut ganggu.” Jawab Meirani.


Meirani masuk ke apartemen putranya setelah mendapatkan PIN, sementara Retha dan Adrian pergi jalan-jalan. Seperti ibu pada umumnya, Meirani langsung memeriksa tempat tinggal putranya, bukan apa-apa ia hanya tak ingin menantu kesayangannya kekurangan suatu apa pun atau merasa tak nyaman.


Dari mulai area ruang tamu, dapur, hingga terakhir kamar tak luput dari perhatiannya. Setelah selesai memasukan stok makanan yang ia bawa ke dalam kulkas wanita anggun itu beranjak ke kamar.


Meirani menggelengkan kepala melihat keadaan kamar utama, penuh dengan poster. Tapi yang paling menyita perhatiannya adalah keadaan ranjang yang masih berantakan. “Dasar pengantin baru.” Ucapnya tanpa menyentuh sedikit pun ranjang putranya, ia tak mau jika putra dan menantunya tau dirinya masuk ke dalam kamar.


Melihat kulkas mini di samping ranjang membuat Meirani mendekat ke ranjang dan ingin memastikan apakah isi kulkas tersebut ada yang perlu ia lengkapi, namun belum sempat membuka pintu kulkas senyumnya seketika hilang kala melihat selembar pil KB di atas nakas.


“Dasar anak nakal. Pasti Ian yang nyuruh nih!” gerutunya. Ia lantas mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.


“Saya butuh secepatnya, buat semirip mungkin. Saya kirim gambar kemasannya sekarang juga.”