
Gara-gara keramaian di ruang guru siswa-siswi yang sedang ujian praktek olahraga di lapangan pun ikut berhambur ke depan ruang guru, padahal sebelum pergi tadi Pak Samsul sudah memberitahu siswa siswinya untuk beristirahat sebentar sementara dirinya memastikan apa yang terjadi di ruang. Tapi dasar para remaja yang sedang pada tahap kepo-keponya malah mengikuti Pak Samsul sambil kasak kusuk tak jelas di belakang.
Tak hanya itu beberapa siswa langsung mengeluarkan ponselnya, mengabadikan moment. Bahkan ada yang live dadakan. Mereka masa bodoh dengan kebenaran yang sedang dibahas para orang dewasa, yang penting konten paling utama.
“Ada apaan sih? Itu kok pak kepala malah rebahan kayak gitu?”
“Live langsung dari TKP, SMA Turangga. Sekolah kami saat ini sedang heboh entah karena apa, yang jelas kepala sekolah terlihat tergeletak di lantai. Di sampingnya yang sedang menangis adalah guru kesenian yang paling disayang siswa-siswa, juga merupakan anak dari bapak kepala sekolah. Bisa sama-sama kita lihat juga dua orang petugas polisi yang sedang berusaha memindahkan kepala sekolah ke tandu gawat darurat yang biasa kami gunakan jika ada yang pingsan saat upacara. Sementara itu Pria tinggi yang sedang menatap satu-persatu orang-orang yang ada disana adalah mantan guru olahraga di sekolah kami yang terlibat kasus korupsi dana sekolah.” Salah seorang siswa yang mengikuti ekskul bulletin langsung siaran layaknya mereka sedang membawakan berita ekslusif.
“Sebagai berita tambahan saya akan mewawancara langsung teman kita semua, Aretha. Dia ini mantan pacar guru olahraga yang desas sesusnya terlibat kasus korupsi. Mohon tanggapannya, Ret.” Wisnu langsung mengarahkan microfon bluethoot nya pada Retha.
Ck! Retha berdecak kesal. “Apaan sih kayak bocah banget lo! Lagi kayak gini malah main siar-siaran. Minggir-minggir dah gue mau liat si botak lewat tuh.”
“Sebagai mantan gimana reaksi lo pas tau Pak Haidar ternyata kesandung kasus korupsi, Ret?”
“Kesandung pala lo! Buat apa Pak Haidar korupsi di sekolahannya sendiri? Kurang kerjaan banget. Duit dia aja numpuk sampe bingung mau dibuat apa.” Jawab Retha.
“Udahan, jangan bikin berita nggak mutu. Mau dituntut pencemaran nama baik lo?” ancam Retha. “Yuk Nes kita rada ke depan biar jelas liat wajah ganteng laki gue.” Lanjutnya seraya menarik Tanesha membelah kerumuman.
Baru juga Tanesha dan Retha berada di barisan paling depan eh Pak Samsul sudah langsung membubarkan mereka dengan meniup peluitnya beberapa kali kemudian mengumpulkan semua siswa di lapangan. Alhasil dari mulai siswa kelas sepuluh hingga dua belas berhampuran ke lapangan. Pak Samsul mengumumkan kegiatan belajar mengajar hari ini dilanjutkan di rumah masing-masih karena hal mendesak yang perlu dibahas oleh para guru dan Yayasan. Selain itu Pak Samsul juga memberikan pengertian kepada para siswa supaya tidak menyebar luaskan kejadian hari di media seosial karena terkait nama baik sekolah. Bagi yang sudah mempublish diharapkan untuk menghapusnya.
Tanesha, Rifki dan Nina masih berada di depan perpus saat siswa lain sudah pulang karena Retha ingin pulang bersama Adrian, jadilah mereka tertahan disana menemani Retha.
“Gue pengen pulang sama Pak Haidar, Nina kalo mau jalan sama Rifki duluan aja nggak apa-apa. Gue masih ada Tanesha kok.” Jawab Retha yang seketika membuat Nina tersenyum, ternyata kakak kelasnya ini lumayan peka dan paham sikon.
“Tuh kan Bebs kata Kak Retha juga nggak apa-apa masih ada Kak Tanesha, kita jalan sekarang yuk? Kan kakak udah janji dari kemaren pulang sekolah mau jalan bareng gue.” Nina mengandeng manja lengan Rifki.
“Ntar aja, Bebs. Kita temenin Retha dulu.” Tolak Rifki.
“Ya udahlah aku jalan sendiri aja!” balas Nina sambil melepas pegangannya pada Rifki dengan kasar kemudian berlalu pergi.
“Retha, Retha dan selalu Retha! Kayaknya Retha harus mati dulu biar Rifki bisa bener-bener jadi milik gue!” umpat Nina.
.
.
.
Tahan bentar para kesayangannya Bang Ian… utamakan komen, like sama vote dulu sebelum lanjut!