
“Ayah nggak boleh gitu sama Pak Haidar. Ekskul olahraga jadi lebih hidup berkat Pak Haidar. Biar Astri aja yang ngobrolin aturan sekolah sama Pak Haidar, pasti lebih nyambung karena kita seumuran.” Ucap Bu Astri.
“Tapi kamu mesti ke toko komputer buat minta faktur tambahan.”
“Iya, ayah. Astri ke toko komputernya sama Pak Haidar saja.” Jawab Bu Astri. “Mari Pak Haidar Bapak nggak keberatan kan kalo mengantar saya ke toko komputer?.” Ajak bu Astri.
“Mobil Astri saya pakai karena tadi pulang rapat saya langsung kesini nggak bawa mobil. Setelah selesai dari toko komputer antar anak saya ke rumah. Anggap aja ini perjalanan dinas pertama kamu sebagai anggota panitia pengelola BOS.” Ucap Pak kepala pada Adrian.
“Baik, Pak. Saya permisi.” Jawab Adrian dengan sopan. Sungguh Adrian ingin menolak permintaan antar mengantar tak penting ini, maunya ia langsung pulang dan menemui Retha serta menghabiskan waktu menjaili bocil kesayangannya itu di rumah.
Bu Astri tersenyum senang bisa duduk di samping Adrian. “Mas, bagaimana kalo kita makan dulu?”
“Mas?” Adrian mengernyitkan kening mendengarnya.
“Kita kan Cuma berdua jadi nggak usah formal. Aku panggil Mas aja yah? Supaya lebih akrab, Mas Haidar bisa panggil nama aku aja langsung. Astri, nggak usah pake ibu.” Jawab Bu Astri.
“Soal yang gertakan Ayah di kantor tadi nggak usah diambil pusing. Iya-iyaian aja Mas, tos itu demi kebaikan sekolah. Aku tadi belum sempat makan, jadwal full banget jadi makan dulu sebentar yah.” Lanjutnya.
“Iya boleh.” Jawab Adrian singkat, mesti rasanya menggelikan sekali dipanggil seperti itu.
“Di Mall depan aja yah, Mas. Tempat langganan aku disana.” Ucap Bu Astri.
“Bukannya ke toko komputer?”
Bu Astri tersenyum simpul, “toko komputer bukan sembarangan toko, nanti Mas Haidar tau deh.”
Pukul sepuluh malam Adrian baru tiba di apartemennya. Sambil menekan PIN dia terus berdecak kesal, menghabiskan cukup banyak waktu dengan bu Astri demi mengorek menyelewengan dana sekolah sungguh membuatnya emosi.
Baru membuka pintu, Adrian melihat Retha berdiri sambil bersadar di dinding dekat rak sepatu. Rasa lelah dan kesalnya seketika hilang, ia buru-buru menutup pintu dan ingin segera memeluk Retha meski gadis itu sedang mode manyun. Bisa Adrian tebak pasti manyun gara-gara dirinya pulang terlalu malam, padahal tadi ia mengabari akan langsung pulang setelah rapat.
“Kesayangannya gue...” Adrian sudah bersiap mendekap Retha tapi gadis itu menepisnya dengan kasar.
“Ngambek gara-gara gue pulangnya telat?” tanya Adrian pelan. “Maaf tadi rapatnya lama, banyak yang dibahas. Terus juga mesti ke toko komputer buat ambil faktur.” Lanjutnya menjelaskan.
“Peluk sini... kangen banget sama kesayangan gue.” lagi-lagi Retha menepisnya dengan kasar.
“Ya udah kalo nggak mau peluk. Udah makan malam belum? Gue masakin sekarang yah?”
“Udah! Makan ati!” ketus Retha lantas berlalu meninggalkan Adrian.
“Kok ngegas sih Yang ngomongnya? Kan gue udah minta maaf, udah jelasin juga kenapa gue pulang telat.” Adrian menyusul Retha.
“Please jangan ngambek yah, gue pusing ini mikirin sekolah. Pulang tuh pengennya dapat vitamin D. Disayang-sayang, dipeluk, dipukpuk, eh lo malah manyun nggak jelas gini.” Lanjutnya.
“Vitamin D? Sana minta minta vitamin aja ke bu Astri. Seharian Bang Ian sama Bu Astri kan? Katanya Rapat? Terus apa? ngambil faktur komputer?” ucap Retha.
“Rapat kok di Mall? Sekalian aja rapat terus Bang nggak usah pulang!” Retha menutup pintu kamarnya dengan keras.
.
.
.
tahan gaes!!!
like sama komen dulu sebelum lanjut😘😘