
“Makan dulu gih! Udah gue bawain nih!” Ucap Adrian pada gadis yang tiduran miring sambil menatap layar ponsel.
“Simpen dulu HP nya, makan!” karena tak digubris, Adrian mengambil ponsel Retha dan memasukan benda itu ke sakunya.
“Nggak asik banget sih Bang Ian!” gumam Retha. “Abang ngapain coba masih disini? Nggak pulang? Udah malem.” Lanjutnya.
“Emang lo mau balik ke rumah bokap gue?”
“Nggak mau lah. Pengen bobo di sini, kasihan kan suami gue kemaren bobo sendiri.”
“Lah kemaren kan lo tidur bareng gue. Gimana sih? Gitu doang lupa!”
“Ya makanya gara-gara gue tidur sama Bang Ian, suami gue jadi tidur sendiri. Kasihan kan dia kesepian.” Ucapnya seraya menunjuk poster besar di dinding.
Adrian berdecak lirik melihatnya, “dasar bocah edan!”
“Suami lo tuh gue, bukan dia!”
“Stop nggak usah dibahas!” Sela Adrian sebelum Retha bicara.
“Lo makan aja dulu, jangan bawel. Gue cape.” Lanjutnya seraya merebahkan diri di ranjang.
Retha beranjak bangun dan memakan makanan yang dibawakan Adrian, sementara lelaki itu sibuk dengan ponsel Retha yang ia ambil tadi. Adrian melihat isi ponsel istrinya yang tak terkunci sama sekali. Tak ada yang aneh-aneh, isi galerinya dipenuhi oleh vidio unduhan dari aplikasi tok tok yang mayoritas tentang gambar yang sama seperti poster di kamar itu.
“Tujuh ratus vidio isinya cuma satu orang. Dasar bocah!” batin Adrian.
Tak hanya sampai disana, Adrian juga memeriksa isi chat gadis itu. Dipenuhi grup bernamakan A R M Y, ada kontak dirinya yang belum diberi nama dan satu pesan yang senasib sama dengan dirinya, tak pernah dibalas.
“Mantan gagal move on nih kayaknya.”
Sisanya hanya pesan-pesan biasa dari Tanesha dan segala bujuk rayu dari pengikut setianya, Rifki.
“Tenyata banyak yang ngincer bocil gue.” Ucapnya.
Selesai makan, Retha menghampiri Adrian dan merebut kembali ponselnya, tapi laki-laki itu menahannya.
“Bang Ian ngeselin! Itu kan privasi gue, Bang.” Protes Retha.
“Suami istri kagak ada privasi-privasian, bareng-bareng semuanya. lo kan istri gue jadi mesti gue jagaian, takut ada yang aneh-aneh di HP lo.”
“Mana ada yang aneh-aneh, nggak ada. Siniin!” Retha berhasil merebutnya. “Semuanya bareng-bareng tapi tadi siang gue nyabutin rumput sendiri. Gue juga nggak main buka HP Bang Ian.”
“Lah urusan rumput dibahas lagi, kan gue udah minta maaf tadi. Mau lihat isi HP gue? Nih ambil.” Adrian memberikan ponselnya.
“Nggak lah, males. Kurang kerjaan banget, gue mau bobo.”
“Ya udah selamat bobo bocil gue. Bobo yang nyenyak besok kita pindah rumah.”
“Apa? pindah rumah?” mata Retha yang mulai terpejam langsung terbuka bahkan dia langsung duduk bersandar pada kepala ranjang.
“Tinggal di rumah Bang Ian terus gitu maksudnya?”
“Nggak mau, nggak adil!”
“Enak banget Bang Ian tinggal bareng orang tua sedangkan gue mesti jauh dari papa mama.” Protes Retha.
“Gue belum selesai ngomong lo udah nyerocos aja, kebiasaan.”
“Dengerin dulu! Maksud gue kita pindah rumah ke rumah sendiri. Besok kita beli rumah, lo tinggal pilih mau yang kayak gimana dan dimana.”
“Kalo tinggal di rumah bokap gue nggak nyaman. Lo enak disana dimanja terus kayak anak kandung, lah gue disini? Papa lo galak banget mana ngancam mulu.”
“Kita tinggal di rumah sendiri aja yah, biar bebas. Adil kan?”
“Bebas? Nggak mau ntar gue diapa-apain gimana?” Retha menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Bukan ngeres Bang, tapi jaga-jaga! Kemaren aja Bang Ian tidurnya peluk-peluk, itu tuh di rumah ada orang tua. Apa jadinya kalo kita cuma berdua? Bisa-bisa gue abis sama Bang Ian.”
“Otak bocil emang beda!” Ucap Adrian, “kemaren kan nggak sengaja.”
“Nih yah dengerin! Kalo kita pisah rumah sendiri bakal bebas dari pengawasan. Lo bisa tidur di kamar sendiri, gue juga. Kita nggak usah satu kamar. Lo mau main, mau ini itu gue turutin.”
“Beneran bisa kayak gitu, Bang?” Mata Retha berbinar senang.
“Iya.” Jawab Ardian.
“Sama satu lagi, gue nggak bakal nyuruh lo nyabutin rumput.” Imbuhnya.
“Kalo gitu gue setuju pake banget Bang. Mau pindahan sekarang juga ayo gas lah!”
“Besok lah. Rumahnya aja belum dapet. Udah tidur dulu sana, katanya tadi mau tidur?” Adrian membenarkan bantal Retha dan menyuruh gadis itu kembali berbaring.
“Iya-iya Bang.” Jawab Retha, “selimutnya tolong Bang.”
Adrian menarik selimut dan menyelimuti si bawel yang mendadak bersikap manis.
“Bang Ian nggak pake selimut? Masuk aja Bang nggak apa-apa, barengan.” Tawar Retha yang kini meringkuk ke hadapan Adrian sambil memeluk gulingnya, sementara lelaki itu ter len tang menatap langit-langit.
“Nggak, lo aja yang selimutan. Gue gerah.”
“Hm ya udah deh.” Retha mengangguk pelan mesti Adrian tak melihat ke arahnya.
“Bang, kalo besok pindahan gue bawa semua poster-poster suami gue boleh?”
“Boleh.”
“Kalo nanti gue minta beliin printilan-printilan boy band kesayangan gue boleh nggak?”
“Boleh. Lo mau apa aja pokoknya boleh asal nggak neko-neko.” Jawab Adrian.
“Beneran Bang?”
“Iya. Apa aja buat bocil gue ini boleh, asal lo seneng aja.” Balas Adrian seraya menatap gadis yang wajahnya terenyum senang.
“Wah asik. Makasih Bang Ian.” Terlampau senang Retha reflek memeluk Adrian, “jadi pengen buru-buru besok.” Ucapnya lirih.
“Lo yang mulai yah bukan gue.” Ucap Adrian sambil balas memeluk Retha, gadis itu tersadar akan yang ia lakukan dan ingin melepaskan diri.
“Bang gue nggak...”
“Udah malem jangan berisik. Bobo bobo.” Sela Adrian yang kemudian mengecup kening Retha hingga gadis itu terbelalak dibuatnya.
“Bobo! Malah nggak ngedip. Mau lagi?” ledeknya.
“Nggak, Bang. Iya gue bobo nih.” Jawab Retha gugup, tangannya justru kian memeluk Adrian dengan erat.
“Katanya dilarang meluk tapi malah lo yang meluk terus.” Sindir Adrian.
“Maaf maaf Bang, Reflek. Gue kira bantal guling.” Retha berusaha melepaskan pelukannya.
“Udah nggak usah dilepas, gue ikhlas jadi guling lo malam ini. Bobo bobo...” Adrian menepuk pelan punggung Retha.
"Makasih Bang." ucap Retha yang sudah tak tau harus berkata apa, rasa kantuknya berujung hilang malah berganti dengan perasaan nyaman campur aneh yang tak bisa ia definisikan.
"Sama-sama." Jawab Adrian yang masih terus menepuk pelan punggung Retha.
"Lucu banget sih bocahnya gue." batinnya yang kian gemas.