Be My Wife

Be My Wife
Ancaman



“Woy ngomong yang jelas lo! Jangan malah nuduh cewek gue.” Teriak Rifki namun Windi tak menoleh sama sekali.


“Emang lo diapain sama Nina, Ret? Kemaren lo ketemu Nina di toilet?” lanjutnya pada Retha.


“Iya ketemu Nina di toilet. Tapi dia nggak ngapa-ngapain gue kok, Cuma nyapa terus pulang duluan.” Jawab Retha.


“Serius?” tanya Rifki.


“Hm, iya.” Jawab Retha, berbohong. “Kita duluan yah. Yuk, Nes!” pamitnya. Meskipun kemarin Nina sempat kasar padanya, tapi Retha tak ingin membuat hubungan Rifki dan Nina berantakan. Jika dirinya di posisi Nina mungkin akan melakukan hal yang sama. Ia yakin bahkan saat Nina mendorongnya hingga pingsan pun pasti tak sengaja.


“Ret, gue jadi penasaran yang dibilang sama Windi tadi. Nina nggak macem-macem kan sama lo?” tanya Tanesha.


“Nggak. Kayak nggak tau aja itu bocah lugu gitu.” Jawab Retha kembali berbohong. Bisa bahaya kalo sampai Tanesha tau. Bisa dipastikan gadis itu akan habis ditangan Tanesha.


“Syukur deh kalo gitu. Gue Cuma ngerasa aneh aja, tumben hari ini Nina nggak nyamperin kita? Biasanya kan biar pun pulang sore itu bocah selalu nunggu Rifki.”


Retha menaikan kedua bahunya sedikit, “sibuk kali.” Jawabnya asal.


Sementara itu di kantor polisi Adrian baru saja selesai memberikan kesaksian. Ia menyerahkan bukti-bukti tambahan supaya bisa menyeret Bu Astri ke penjara, meskipun hal itu sedikit sulit karena kepala sekolah melimpahkan semua kesalahan Bu Astri pada Pak Eko dan guru tersebut hanya pasrah menerima setiap tuduhan. Padahal Adrian sudah memintanya untuk berkata jujur supaya hukumannya bisa lebih ringan dan setiap orang yang terlibat mendapat ganjaran yang setimpal, tapi entah kenapa Pak Eko sulit sekali diajak bekerjasama.


“Pak Haidar! Jangan berusaha terlalu keras, percuma.” Ucap Bu Astri yang datang ke kantor polisi untuk menjenguk ayahnya.


Adrian tertawa mendengarnya, “mungkin ibu yang sebentar lagi masuk penjara.”


“Pak Adrian tinggal pilih saja mau cabut kasus ini dan Bapak bisa bebas menikmati kepolosan siswi bapak, atau malah mau melanjutkan kasus ini dan kita bersama-sama mendekam di penjara?” ucap Bu Astri sambil mengeluarkan benda pipih yang sangat Adrian kenali.


“Ternyata Bu Astri benar-benar pencuri professional yah. Selain mencuri uang sekolah juga mencuri HP saya. Benar-benar handal.” Sindir Adrian. “Apa saya laporin sekarang aja nih kasus pencurian HP, mumpung malingnya lagi pegang barang bukti.” Lanjutnya.


“Terserah Pak Haidar mau ngomong apa. Tadinya mau langsung saya balikin tapi untung nggak jadi. Ternyata isinya luar bisa, penuh manfaat. Susah payah loh lo saya bongkar sandinya tanpa reset.” Ucap Bu Astri sambil membuka ponsel yang bukan miliknya di depan pemiliknya sendiri tanpa malu.


“Kalo Bapak mau lapor kasus pencurian HP tinggal laporan saja, nanti sekalian saya balas laporin bapak.” Jawab Bu Astri begitu enteng.


“Saya dengan pencurian HP yang mungkin hukumannya nggak seberapa dan Bapak dengan kasus pelecehan seksual?” Bu Astri memperlihatkan isi galeri Adrian yang penuh gambar Retha. Yang paling mencolok adalah saat gadis itu berada di pelukan Adrian dengan bahu terbuka tanpa busana.


“Bisa dapat bonus juga siswa kesayangan Bapak itu dikeluarkan dari sekolah.” Imbuhnya.


“Terus Yayasan Turangga juga bisa langsung ancur kalo saya kasih berita ini ke wartawan, termasuk saham Turangga Group juga bisa mendadak anjlog.” Ancamnya.


“Jadi Bapak Adrian Haidar mau pilih opsi yang mana?” imbuhnya dengan senyum penuh kemenangan, merasa yakin jika Adrian tak akan bisa berkutik kali ini.