
Adrian baru kembali dari kamarnya setelah mengambil charger laptop karena benda multifungsi yang selalu menemaninya bekerja mendadak habis baterai. Meskipun acara bimtek pada malam ini sudah selesai namun pihak penyelenggara meminta tiap peserta untuk mengerjakan tugas yang sebelumnya sudah dipaparkan. Hal itu lah yang membuat Adrian kembali ke lobi dan memilih mengerjakannya disana cepat-cepat supaya bisa menelpon Retha dengan leluasa hingga memastikan gadis itu terlelap seperti malam sebelumnya.
“Perasaan tadi cuma pak kepala sama Pak Eko deh. Kok sekarang jadi ada cewek? Jangan-jangan…” Adrian mulai merasakan firasat buruk.
Ck! Adrian berdecak lirih begitu melihat sosok perempuan yang duduk tepat di samping kursinya. “males banget dah kalo udah kayak gini.”
“Hai Pak Haidar…” sapa bu Astri dengan senyumannya.
Adrian hanya mengangguk ramah membalasnya. “Pak Eko ini Charger nya.” Adrian memberikannya pada Pak Eko, wakil kepala sekolah bidang kurikulum.
Sosialisasi dan bimbimbangan teknis untuk akreditasi sekolah itu diikuti oleh tiga orang yang terdiri dari kepala sekolah, guru dan operator untuk memahami apa saja yang harus dipersiapan selama akreditasi nanti. Adrian yang tadinya tak mau ikut dan memilih menghabiskan waktu dengan Retha terpaksa mengiyakan permintaan sekolah untuk menggantikan operator yang katanya tak bisa mengikuti acara tersebut.
“Pak Haidar sudah makan malam belum? Saya beli camilan tadi di jalan, buat nemenin ngerjain tugas nih.” Tawar bu Astri.
“Sudah, bu. Terima kasih tidak perlu repot-repot.” Jawab Adrian seperlunya, ia selalu ingat pesan Retha untuk jaga jarak dengan bu Astri. Ia tak mau kalo sampe Retha misuh-misuh lagi gara-gara tau dirinya berlam-lama dengan bu Astri. Di sekolah saja ia berusaha so sibuk supaya bisa menghindar dari anak kepsek yang selalu menganggunya.
“Udah lah Pak Haidar di terima saja, jauh-jauh bu Astri nyusulin kita kesini loh.” Pak Eko lebih dulu mengambil makanan yang dibawa bu Astri.
“Iya, makasih. Nanti saya makan di kamar saja.” Adrian mengambilnya dan berencana membuangnya saja nanti.
“Sama-sama Pak Haidar tidak perlu sungkan. Oh iya ini berkas yang katanya ketinggalan.” Bu Astri memberikan beberapa tumpukan map itu pada ayahnya sambil mengedipkan mata.
“Terimakasih, Astri. Karena kamu sudah jauh-jauh kesini jadi lanjut aja ikut bimtek yah? Gantiin Pak Eko, tadi istrinya nelpon katanya anaknya panas jadi harus pulang. Bu Eko suka panik kalo anak sakit. Iya kan Pak?” tanya Pak kepala pada wakilnya yang langsung mengangguk dan bahkan langsung pamit pulang.
Kepala sekolah dan Pak Eko memang sudah merencakan hal ini sejak awal, sesuai dengan keinginan Astri tentunya. Anak kepala sekolah itu merasa Adrian selalu menjauh darinya akhir-akhir ini hingga memutuskan bagaimana caranya supaya dirinya dan Adrian bisa lebih dekat. Jadilah sang ayah memaksa Adrian untuk menggantikan operator dan meminta Pak Eko pulang di hari ketiga ini, sehingga Adrian tak punya alasan untuk menjauh dari putrinya kali ini.
“Bu Astri maaf yah saya jadi ngerepotin ibu.” Pamit Pak Eko.
“Nggak apa-apa, Pak. Saya seneng kok bisa bantu-bantu. Pak Eko gimana kalo sebelum pulang fotoin dulu, buat laporan ke Ibu kalo saya tuh beneran tugas nih.” Bu Astri memberikan ponselnya pada Pak Eko. Adrian langsung berdiri menjauh dari bu Astri.
“Pak Haidar mau kemana? Sini foto bareng lah, yang candid kayak kita lagi kerja aja. Sama Ayah juga sebelah ini.” Tak hanya menarik Adrian, bu Astri juga mengajak sang ayah. Sudah tentu dengan kode yang sangat dipahami Pak Eko hanya mengambil gambar bu Astri dan Adrian saja. Putri kepsek itu berfose sambil memegang map menghadap Adrian, sementara lelaki itu terpaksa tersenyum sesuai permintaan kepsek.
“Wah bagus nih. Makasih yah Pak EKo, salam buat anak bapak semoga cepet sembuh.” Ucap Bu Astri.
Tak lama setelah Pak Eko berpamitan, Pak Wahyudi juga ikut pamit.
“Pak Haidar, saya kembali ke kamar dulu. Bapak lanjut ngerjain aja dibantu Astri yah, dia lumayan bisa diandelin kok.”
“Mas, selesai ini bisa temani saya ke Mall terdekat? Mau beli beberapa keperluan soalnya tadi berangkat buru-buru jadi ada yang ketinggalan.” Bu Astri beralasan, padahal semua keperluannya ia bawa dengan lengkap.
“Bu Astri tolong jangan panggil saya seperti itu, tidak nyaman.”
“Mas Haidar nggak usah formal, kita kan nggak lagi di sekolah. Santai aja.” Ucap Bu Astri.
“Tetap saja saya tidak nyaman. Ini lagi selesai, saya lanjut di kamar saja.” Adrian buru-buru mengemasi laptop dan berkas-berkas lainnya.
“Maaf nggak bisa nganter ke Mall, ini udah malem. Bu Astri bisa pesan online saja lebih simple dan mudah.” Lanjutnya kemudian berlalu pergi.
Bu Astri menghembuskan nafasnya kasar, “udah jauh-jauh masih aja dicuekin. Besok lanjut usaha lagi lah, masih sisa dua hari.”
Bu Astri membereskan buku catatannya dan memasukan ke dalam tas, “Eh HP nya Mas Haidar.” Bu atri mengambil benda pipih berwarna hitam yang tertinggal di meja.
“Kesempatan emang selalu datang tepat waktu. Lumayan buat alesan main ke kamarnya.” Bu Astri tersenyum senang.
“Kok Wallpaper nya si Retha sih!” dia langsung kesal melihat gambar Retha yang memenuhi layar ponsel Adrian.
“Aku kira mereka udah nggak ada hubungan apa-apa sejak di panggil ayah, ternyata!!” Bu Astri mencoba membuka kunci ponsel Adrian namun gagal karena benda itu menggunakan finger pin.
“Anak bau kencur aja coba-coba jadi saingan, mesti di kasih paham nih.” Bu Astri segera memposting fotonya dengan Adrian.
Sementara itu di kamar Adrian sedang mencari ponselnya, ia bahkan kembali ke loby untuk mencarinya tapi nihil tak ada hasil.
“Gimana mau ngabarin Retha? Nomornya aja gue kagak hapal.” Adrian menjambak rambutnya sendiri.
“Apa gue pulang dulu? Tapi waktunya nggak bakal cukup, ini udah malem banget.”
Beralih dari Adrian yang sedang kebingungan sendiri di kamar, hal serupa juga terjadi di kamar kepala sekolah. Pria botak itu sedang berusaha menenangkan putrinya yang sangat terobsesi pada Adrian, guru baru yang menurutnya dari kalangan biasa saja bahkan tak layak bersanding dengan Astri.
“Sudah jangan nangisin Pak Haidar terus, kalo dicuekin tinggal cari laki-laki lain saja. Toh latar belakangnya nggak level dengan keluarga kita. Kamu ini anak kepala sekolah, lulusan S2 dari keluarga terpandang.”
“Pokoknya aku nggak mau tau, Ayah. Aku maunya Mas Haidar! Ayah harus cari cara supaya Retha di keluarin aja dari sekolah!”