
“Ma, Bang Ian turunin aja di depan.” Ucap Retha sinis sembari menatap Adrian yang duduk di kursi belakang dari spion. Saat kelaur dari rumah sakit tadi Retha bertemu dengan Freya yang hendak melihatnya ke UGD. Freya sudah panik setengah mati tapi mendapati keadaan anaknya yang sedang memarahi Adrian justru membuatnya kasihan pada lelaki tinggi itu. Bukan tanpa alasan dirinya khawatir berlebihan pasalnya Meirani sudah mengabari perkara kehamilan putrinya. Ia ikut senang mendengarnya, bahkan setelah mendengar Retha masuk rumah sakit saja, dirinya langsung mengabari besannya. Respon Meirani tentu tak kalah heboh dengan dirinya, ia takut terjadi hal yang tak diinginkan pada calon cucunya. Keduanya lantas naik ke mobil Freya karena Adrian tak membawa mobil saat ke rumah sakit tadi, untuk menghindari macet lelaki itu memilih naik ojeg.
“Retha, kamu bisa diem dulu nggak sayang? Apa nggak cape dari tadi marah-marah terus? Nggak kasihan apa sama suami kamu? Kupingnya pasti udah panas dengan kamu ngoceh terus. Mama aja dengernya cape.” Jawab Freya dari balik kemudi. Wanita itu mendadak jadi supir pribadi untuk anak dan mantunya gara-gara Retha yang tak mau duduk di samping Adrian, padahal sebelumnya lelaki itu sudah bersiap mengambil alih kemudi.
“Biarin aja, Ma. Mau panas atau sampe gosong juga telinganya aku nggak peduli. Biar Bang Ian mikir udah bikin aku hamil. Sebel!” timpal Retha.
“Yah maaf sayang, kan diluar kendali. Sampe sekarang aja Abang masih mikir ini kok bisa sampe kayak gini.” Sambung Adrian.
“Kok bisa! Kok bisa aja terus sampe lebaran kucing!” ketus Retha. Keduanya terus adu mulut tiada henti. Retha dengan aneka kekesalannya karena hamil sementara Adrian berulang kali meminta maaf. Freya sampai bingung sebenernya apa yang terjadi dengan putri dan menantunya, terakhir Meirani bilang mereka sangat Bahagia dengan calon buah hati mereka, tapi kenapa yang ia lihat kali ini justru sebaliknya?
“Adrian yang sabar yah, mungkin bawaan calon anak kalian nih Retha jadi seneng marah-marah terus.” Ucap Freya. “Mama udah siapin mobil baru buat kamu, kata Bu Mei kamu pengen mobil baru kan?” lanjutnya. Adrian hanya diam di belakang sana.
“Kalo Retha pengen apa dari Mama? Ntar mama beliin.” Imbuhnya pada Retha.
“Ma!” Retha malah berteriak tak suka. “Heran deh semua pada bikin kesel aja.” Lanjutnya seraya keluar setelah mobil berhenti di depan rumah.
“Ya ampun kenapa Mama jadi ikutan kena semprot.” Gumam Freya, “Istri kamu ini hamilnya luar biasanya yah, Ian. Padahal dulu mama pas hamil Retha nggak pernah marah-marah, nggak ngidam juga karena yang ngidam papanya, tapi kok Retha gini banget. Yang sabar yah…” ucapnya, prihatin membayangkan nasib Adrian kedepannya.
“Iya, Ma. Aku susul Retha dulu.” Jawab Adrian.
“Ngapain sih Bang Ian ikut masuk? Sana pulang.” Ketus Retha saat suaminya ikut masuk ke rumah Mama Freya. Dari rumah sakit sampai rumah saja dirinya terus kena ceramah Panjang lebar Retha yang isinya merasa di bodohi dan dirugikan oleh Adrian. Semua ini diluar rencana mereka, katanya aman nyatanya berhadiah.
“Retha nggak boleh gitu! Masa suami diusir.” Ucap Freya. “Masuk aja, Ian.” Lanjutnya pada Adrian.
“Suami ngeselin! Jahat!” Retha berlalu masuk rumah dan mengunci diri di kamar, tak mengizinkan siapa pun masuk. Adrian yang sejak tadi berdiri di depan pintu sambil terus minta maaf saja tidak digubris.
Kedatangan Meirani yang berusaha menemui Retha juga gagal. “Kalian ini kenapa, ribut? Katanya tadi Retha sakit? Mama buru-buru ke rumah sakit katanya udah dibawa pulang. Kenapa sekarang malah perang dunia gini? Kamu deket-deket sama anak kepsek lagi?” cerocos Meirani.
“Iya saya juga jadi bingung ini. Terakhir nggak kayak gini bu Frey. Jelasin ke mama, Ian! Bisa-bisanya Retha sampe ngunci diri kayak gitu? Kalo sampe cucu mama kenapa-kenapa gimana?” tanya Meirani.
Adrian tak punya pilihan lain kali ini, ia juga takut istri dan calon anaknya kenapa-kenapa di dalam sana. Dua bulan menikah baru kali ini Retha ngambeknya awet.
“Retha nggak mau hamil, Ma. Yang kemaren-kemaren bilang ke Mama itu Cuma bohongan soalnya Mama keliatan ngarep banget terus Retha juga kata mama kayak orang hamil, itu bocah malah malah manfaatin keadaan pura-pura ngidam eh taunya hamil beneran.” Jelas Adrian sambil menjambak rambutnya sendiri.
“Aku nggak ngerti kenapa bisa hamil, padahal Retha selalu rutin minum pil KB nya. Bahkan selalu aku ingetin tiap pagi.” Lanjutnya.
Meirani setengah kesal mendengar kenyataan dirinya dibohongi, tapi kasihan juga memikirkan keadaan anak dan menantunya, mereka pasti shock berat. Disisi lain ia juga senang karena meskipun dibohongi nyatanya Retha benar-benar hamil.
“Ehm… Pil KB itu 99% bisa mencegah kehamilan, tapi kalo Tuhan udah berkehendak yah bisa jadi 1% yang tidak mungkin malah terwujud.” Jelas Meirani. Ia tak mau jujur perkara pil KB yang ditukar, bisa-bisa ia juga kena sasaran kemarahan Retha seperti anaknya.
“Mungkin Pil KB nya jelek juga tuh kualitasnya, kalo nggak kamu salah beli.” Lanjutnya meyakinkan.
“Lagian jadi anak berani-beraninya bohongin orang tua, jadi selamat menikmati aja akibatnya. Mama nggak mau tau pokoknya Retha sama calon cucu mama harus selalu sehat dan Bahagia.” Tegas Meirani.
.
.
.
biasalah guys📢📢📢📢
like komen sebelum lanjutttt