Be My Wife

Be My Wife
Nggak bares



“Siap Pak Hai.” Balas Retha.


Adrian tak menanggapi, ia tau jika ditanggapi berdebat dengan Retha tak akan ada habisnya. Ia memilih mengambil sayuran dan mencucinya.


Retha kembali mengiris aneka bawang dan teman-temannya. Sesekali matanya melirik Adrian yang sedang mencuci sayuran. Matanya menelisik dari ujung kali hingga ujung kepala dengan bibir yang menahan senyum. “anak-anak bisa pada histeris kalo liat Pak Haidar cuma pake kaos sama celana pendek ditambah clemek pink, mana nyuci sayuran pula, udah fix kayak suami idaman.” Batinnya.


“Ma!” teriaknya saat pisau yang ia gunakan mengenai jari telunjuknya.


“Lo kenapa?” Adrian meninggalkan sayuran yang ia cuci di wastafel dan menghampiri Retha. Telunjuk gadis itu berdarah.


“Gue bilang juga apa! biar gue aja!” Adrian meng ulum jari telunjuk Retha, gadis itu terisak menahan sakit. “Ngeyel banget kalo dibilangin!”


“Bang...”


“Nggak apa-apa, cuma kegores dikit. Bentar gue ambil plester.” Adrian membawa Retha ke meja makan dan meminta gadis itu untuk duduk.


“Lo tunggu disini aja, biar gue yang masak.” Ucap Adrian setelah memasangkan perban di jari telunjuk Retha. Bukan plester berobat merah biasa karena rupanya gadis itu memiliki alergi plester, kulitnya akan gatal-gatal jika terkena plester secara langsung, alhasil harus diperban.


Retha hanya memperhatikan Adrian memasak dari meja makan. “Pak Haidar masak aja ganteng.” Batinnya.


“Kenapa ngeliatin terus? Gue ganteng yah?” ledek Adrian saat meletakan masakannya di meja makan.


“Pedenya Bapak Haidar!” Cibir Retha.


“Udah sih akuin aja kalo guru olahraga lo ini ganteng, toh udah jadi laki lo.”


“Biasa aja ah, gantengan juga suami gue. Eh Kim Taehyung maksudnya.” Ralat Retha cepat.


“Gantengan dia tapi kagak bisa dimiliki kan? Udah stop halu mending makan dulu supaya otak lo ini waras. Nggak mikirin siapa barusan namanya?”


“Kim Taehyung, Bang.”


“Bodo amat lah. Aaa...” Adrian memberikan satu suapan pada Retha.


“Gue bisa makan sendiri, Bang.” Tolak Retha.


“Tapi kan yang sakit tangan kiri, Bang. Masih bisa makan sendiri.”


“Reret!”


“Iya, Bang. Aaa...” Retha menerima suapan demi suapan dari Adrian. Sesekali ia memasukan makanan ke mulutnya sendiri menggunakan sendok yang sama.


“Enak nggak masakan gue?” tanya Adrian.


Retha mengangguk. “Enak Bang. Besok pagi mau nasi goreng yah, Bang. Tapi pengen yang kayak buatan Mama.”


“Ngelunjak deh.” Adrian mencubit gemas pipi Retha. “Gue bikinin, asal lo jangan deket-deket sama Rifki lagi. Gue nggak suka!”


“Kenapa emang? Gue, Rifki sama Tanesha udah temenan dari kelas sepuluh Bang, susah lah kalo nggak boleh deket-deket.”


“Temenan boleh tapi nggak pake acara rangkul-rangkul segala!” tegas Adrian.


“Nggak usah tanya kenapa lagi! Pokoknya nggak boleh!” selanya sebelum Retha berucap.


Setelah makan malam, Retha main ke kamar Adrian. Dia melihat-lihat ruangan kamar kecil yang terlihat luas dengan penataan barang-barang yang lumayan banyak namun super rapi sampai Retha betah tiduran di ranjang yang ukurannya lebih kecil dibandingkan ranjang di kamarnya.


“Mau tidur disini?” tanya Adrian setelah menyelesaikan pekerjaannya. Nyatanya file yang dikirim Agus belum sepenuhnya selesai ia periksa, namun melihat Retha rebahan santai di ranjangnya membuat fokusnya hilang, apalagi kadang gadis itu tersenyum sendiri sambil menatap ponselnya.


“Nggak lah. Gue balik kamar deh udah jam sembilan.” Retha beranjak pergi.


“Kirain mau tidur disini, gue udah bela-belain udahan kerjanya.” Ledek Adrian.


“Menang banyak ntar Bang Ian. Balik kamar lah, kan udah beli guling tadi. Bang Ian dua, gue dua.”


Sampai di kamar, Retha menata bantal guling di tiap sisinya. Dia berulang kali memeluk bantal gulingnya ke kanan dan ke kiri tapi matanya masih saja terjaga. “Kok nggak bisa tidur yah?” ucapnya lirih.


Hal serupa juga terjadi di kamar sebelah. Sudah pukul dua belas kurang lima belas menit, Adrian masih belum juga terpejam. “Nggak beres nih.” Gumamnya, “kayaknya mesti ngungsi nih ke kamar bocil.”