Be My Wife

Be My Wife
PERJODOHAN 2



Dimas yang baru pulang dari menginap dirumah teman nya terkejut melihat ada sedan mewah terparkir di halaman rumah nya


'Mobil siapa ini? Nggak biasanya abi kedatangan tamu orang kaya?' batin dimas


"Assalamualaikum." Sapa dimas sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


Semua yang ada diruang tamu terkejut dan langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Waalaikumsalam." Jawab mereka serentak


"Dimas. Baru pulang kamu nak? Kemarilah, tamu nya sudah datang." Ajak abi ramah. Dimas hanya mengangguk akur. "Ini dimas, putraku satu-satunya." Lanjut abi. Dimas tersenyum ramah sambil mengangguk sopan.


Dimas memilih duduk disamping abinya. Dia hanya memasang telinga bersiap mendengarkan obrolan mereka selanjutnya.


"Jadi bagaimana ini gung? Niat kami menjodohkan putra tunggal kami dengan putrimu, kamu terima atau kamu tolak?" Tanya irfan sekali lagi pada agung teman baik nya.


"Kalau saya mau saja menerimanya, tapi semua saya serahkan pada elsa, karena elsa sendiri yang akan menjalani nya." Jawab agung tenang. "Bagaimana nak? Kamu mau menerimanya?" Tanya abi pada elsa yang sedari tadi hanya mampu menundukkan pandangannya.


Perlahan elsa mengangkat wajahnya, menatap wajah irham dia melihat yang telah menatapnya sedari tadi dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. 'Laki-laki ini?' gumam elsa.


"Maaf sebelumnya jika saya lancang, tapi bolehkah saya berbicara berdua terlebih dahulu sebelum elsa menjawab pertanyaan bapak?" Irham yang sedari tadi diam kali ini angkat bicara.


Abi yang mendengar perkataan irham tampak berfikir sebentar. "Ya, tentu silahkan." Jawab abi. "Tapi jangan lama-lam ya." Pesan abi pada irham. irham hanya mengangguk akur.


"Terima kasih pak, saya akan berbicara dengan elsa diluar saja." Pamit irham sopan kemudian berlalu menuju teras rumah di ikuti elsa di belakang nya.


"*Marry me." ucap irham tanpa menatap wajah elsa setelah dia berada di teras rumah.


"Apa." Elsa mengerutkan dahi dan sedikit mundur kebelakang.


"Aku akan mendapatkan semua harta papa kalau aku menikah denganmu. So marry me." Kata irham mengulabgi katanya. Elsa menatap wajah dingin irham, namun segera dia menundukkan pandangannya.


"Tidak, aku tidak bisa....." Jawab elsa dengan mata yang telah berkaca-kaca.


"Kau harus mau, ini akan menyelesaikan semuanya." Potong irham cepat sambil melihat ke arah elsa yang masih menundukkan pandangannya.


Elsa memberanikan diri mengangkat wajahnya dan langsung menatap mata irham.


"Selesaikan urusanmu, kamu fikir aku ini apa? Seenaknya saja berbicara tentang pernikahan? Pernikahan itu hanya sekali, dan aku tidak mau nanti aku menyelsalinya" Jawab elsa kesal dengan nada yang sedikit meninggi.


"Tebus kesalahanmu padaku, jika tidak karena kau aku tidak akan menderita sampai sekarang. Aku pasti sudah tenang berada di surga sekarang." Tegas irham dengan tatapan tajam matanya menikam mata elsa.


Elsa menggeleng tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. " Seharusnya kamu berterima kasih padaku karena aku telah menyelamatkan hidupmu. Kamu fikir dengan kamu bunuh diri itu menyelesaikan masalah?" Air mata elsa jatuh tanpa diminta mengingat kejadian itu.


**Pagi itu elsa berangkat bekerja dengan tergesa-gesa karena dia bangun kesiangan.


Elsa mengambil jalan pintas melewati jembatan lama yang sudah tidak diapakai untuk memangkas waktu. Pada saat menyebrangi jembatan elsa melihat seorang laki-laki berdiri di tepi jembatan dengan tatapan kosong dan wajah putus asa.


Tanpa fikir panjang elsa berlari ke arah orang itu kemudian menariknya hingga keduanya terjatuh di jembatan.


"Apa-apaan kamu? Kenapa kamu berdiri disitu? kamu mau bunuh diri hah?" Marah elsa pada orang itu.


Elsa yang mendengar tiba-tiba merasakan panas di hatinya, elsa mendekat ke arah irham. PLAAKKK elsa menampar pipi kanan irham. Irham ternganga dengan tamparan elsa di pipinya. "Apa kamu fikir dengan bunuh diri masalahmu terselesaikan? Kamu hanya akan memalukan keluargamu karena kamu bunuh diri hanya karena cinta." Ucap elsa dengan emosi yang masih belum bisa dia kendalikan.


"Tau apa kamu soal cinta, kamu bilang begitu karena kamu belum pernah merasakan apa yang sedang aku rasakan sekarang." Jawab irham sambil memegang pipinya yang baru saja ditampar elsa.


"Aku mungkin tidak pernah merasakan apa yang kamu rasakan, tapi aku tidak suka melihat orang yang menyia-nyiakan hidupnya. Masih ada banyak hal yang lebih penting yang bisa kamu lakukan, gunakanlah hidupmu untuk hal yang lebih bergua." Jawab elsa dengan berusaha mengendelikan emosi nya.


"Apa kamu tidak memikirkan keluargamu? Bagaimana kalau mereka tau bahwa anak nya bunuh diri hanya karena cinta? Mereka pasti sangat kecewa denganmu." Terang elsa mencoba mengingatkan irham agar dia mengurungkan niat nya untuk bunuh diri.


Irham yang mendengar elsa tiba-tiba teringat akan kedua orang tuanya. Irham mencermati setiap kata yang baru saja di ucapkan elsa. Tanpa memperdulikan elsa, irham langsung berlari ke arah mobilnya yang terparkir di sebrang jembatan. "Hei, mau kemana kamu?" Teriak elsa pada irham yang berlalu begit saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Bukan urusanmu." Balas irham. Irham langsung menancap gas pergi meninggalkan elsa yang masih berada di jembatan.


"Huffft, masih ada saja orang yang mau bunuh diri karena cinta." Gumam elsa kesal***.


"Just do it. Lakukan saja seperti yang aku katakan atau aku akan menghancurkan keluargamu berkeping-keping tanpa sisa." Ancam irham dengan tatapan tajam matanya seperti serigala yang sedang mengincar buruannya.


"Tidak, jangan ganggu keluargaku. Mereka tidak bersalah." Ucap elsa dengan sedikit memohon. "Baiklah aku akan menikah denganmu asal jangan pernah kamu ganggu keluargaku." Lanjut elsa. Elsa sangat menyayangi keluarganya, dia tidak mau terjadi apa-apa dengan keluarganya.


Irham tersenyum penuh kemenangan.


"Oke aku setuju, ayo masuk ke dalam." Balas irham dingin. Elsa menyekat air matanya kemudian berjalan mengekori irham masuk ke dalam rumah.


Elsa kembali duduk di samping umi dan irham kembali ke posisi duduk nya semula


"Kamu kenapa nak?" Tanya umi setelah melihat elsa seperti habis menangis.


"Elsa gak papa mi." Jawab elsa sambil tersenyum ke arah umi.


"Jadi bagaimana nak? Apa kamu menerima perjodohan ini?" Abi bersuara setelah sekian lama dia terdiam.


Elsa menarik nafas dalam dan menghembuskan pelan. "Iya bi, elsa terima." Jawab elsa kemudian dengan senyum manis merekah di wajahnya yang sayu.


"Alhamdulillah." jawab irfan lega setelah mendengar jawaban elsa. "Terima kasih elsa karena mau menerima perjodohan ini. Saya harap elsa mau membimbing irham untuk menjadi lebih baik lagi." Ucap irfan pasti dengan wajah yang terlihat bahagia.


"Jadi kapan kita akan menikahkan anak-anak kita gung?" Sambung irfan bertanya kepada agung.


"Kalau saya terserah mereka saja fan, toh mereka kan sudah saling setuju. Betul kan umi?" Jawab agung sambil menatap istrinya.


Umi hanya menjawab dengan anggukan kepala sambil tersenyum.


"Baiklah kalau begitu acara resepsi kita adakan minggu depan saja dirumah saya, bagaimana? " Tanya irfan pada elsa dan irham.


"Irham ikut papa aja." Jawab irham dingin dengan muka tanpa ekspresi. Irfan menoleh elsa, elsa hanya menganggukan kepala tanda setuju. Namun dalam hatinya siapa yang tau.


Terima kasih sudah mau membaca novel saya.


Jangan lupa baca juga DENDAM CINTA novel kedua saya


Terima kasih