Be My Wife

Be My Wife
Lovely Boss



Emh....


Emhh...


“Oh terus sayang... fas ter baby...” Lea men de sah dengan nafas terengah di sebuah kamar yang dipenuhi puluhan cahaya lilin kecil remang-remang.


“Kau suka seperti ini sayang?”


“Hm i like it. More than please.” Ucapnya tanpa membuka mata. Kedua tangannya me re mat kepala Refan yang tengah berada di antara kaki yang ia renggangkan. Permainan lincah lidah Refan berhasil membuatnya menggelinjang tak karuan. Membuatnya melupakan kekesalannya karena sang tunangan terus mengabaikannya di hari yang menurutnya paling spesial, hari kelahiran


“Perintah diterima Nona.” Ucapnya sambil menyeringgai. “Gue harap lo nggak nyesel, Lea. Lo yang minta yah!” lanjutnya.


“Just do it baby!” jawab Lea dengan penuh keyakinan.


“Lo yakin bakal kita lanjutin disini? Kalo tunangan lo datang gimana?”


Ck! Lea berdecak keras. Ia lantas duduk dan tersenyum kecut. “Ridwan maksud lo? Dia lebih mentingin game si a lan itu dari pada gue.”


“Ini udah lewat dari janji temu gue sama dia. Seperti biasa dia pasti nggak datang. Gue seneng lo ada disini, kita lanjutin. Biar gue yang ambil alih dari sini.” Lea mengedipkan matanya dengan genit. Kedua tangannya perlahan melepas pakaian yang dikenakan Refan.


“Lo emang cewek paling pengertian, Lea. Be go aja si Ridwan punya tunangan kayak lo malah lebih pentingin game nya.” Refan me ma gut habis bibir tebal Lea. Tangannya kembali aktif kesana kemari memberi sentuhan-sentuhan melenakan untuk gadis itu.


“Emh... kalo bukan karena dia anak orang kaya gue juga ogah. Siapa yang mau tunangan sama orang kayak dia? Ganteng tapi dingin, nggak ada perhatiannya sama sekali.”


“Fas ter baby... Emhh... emhh...”


Ridwan, lelaki dua puluh tujuh tahun itu hanya tersenyum samar kemudian berlalu meninggalkan kamar tunangannya. Buket mawar putih besar yang hendak ia berikan pada Lea berakhir di tangan petugas front office yang berjaga malam itu.


Ridwan kembali ke rumahnya dengan bersenandung senang alih-alih bersedih karena mendapati tunangannya berselingkuh. Sejak awal ia memang sama sekali tak berminat untuk berurusan dengan yang namanya cinta, ia hanya ingin fokus menjadi profesional gamers. Tapi sang mami terus menjodoh-jodohkan dirinya dengan rekan-rekan bisnis sang suami karena merasa was-was Ridwan terus jomblo sementara kakaknya sudah memiliki dua orang anak.


“Ya ampun Mami!” Ridwan terlonjak kaget karena begitu membuka pintu Mami Jesi berdiri di depan pintu dengan baju putih dan wajah mengenakan masker dengan warna senada sedang lampu rumah mereka di matikan. “Bikin jantungan aja!”


“Gimana? Lea suka nggak sama kado yang kamu kasih?” tanya Mami Jesi.


“Hm.” Ridwan hanya berdehem pelan kemudian berjalan melewati maminya.


“Hm hm ham hem aja terus! Kalo mami nanya dijawab yang bener!”


“Jangan bilang kalo kamu nggak nemuin Lea?” tebak Mami Jesi karena putranya memang sering kali mangkir untuk bertemu calon istrinya. Sejak awal perjodohan hingga berhasil sampai tunangan, putranya memang teramat cuek. Mami Jesi merasa beruntung karena Lea selama ini bisa menghadapi Ridwan dengan sabar, tak pernah marah meski Ridwan terus mengabaikannya. Mami Jesi berharap gadis yang dimatanya begitu polos dan lugu itu bisa meluluhkan Ridwan hingga akhirnya tumbuh benih-benih cinta diantara keduanya.


Hei hei para kesayangan😘😘


yuk gabung di karya baru aku LOVELY BOSS


aku tunggu disana yah🤗🤗