
“Bang kasih info dong besok pengumuman kelulusannya jam berapa?” tanya Retha sebelum tidur.
“Jam berapa yah? Abang nggak bisa ngasih tau, pokoknya besok aja. Sekarang tidur yah.”
“Kasih tau ngapa Bang! Supaya aku nunggunya nggak lama. Kalo misal pengumumannya siang yah aku ke sekolahnya siangan dikit. Soalnya sekarang kalo ke sekolah lama-lama nggak asik, nggak belajar terus nggak ada Abang juga.” Retha sedikit cemberut. Akhir-akhir ini setelah serangkaian ujian telah berlalu memang tak pernah ada kegiatan penting yang ia lakukan di sekolah, hanya sekedar main-main saja sambil menunggu tanggal kelulusan. Siswa-siswa yang lain bahkan ada yang tak datang ke sekolah sama sekali, tapi Retha tetap berangkat katanya lumayan dapat uang jajan dari pada di rumah terus lumayan gabut. Jika dulu ia suka sekali menghabiskan waktu di rumah untuk sekedar nonton konser online atau scroll medsos demi memantau suami impiannya kini selalu berada dekat dengan Papanya decil adalah hal yang paling menyenangkan, makanya lebih baik sekolah dan pulangnya mampir ke kantor.
“Masa sama istri sendiri nggak mau ngasih tau sih! Nggak bakal aku kasih…”
“Kasih apa? Jatah olahraga?” tebak Adrian, “Kan semenjak tau kamu hamil kita emang libur olahraganya. Udah bobo nya kasihan decil udah jam segini mama nya belum tidur juga.” Adrian menunjuk jam dinding yang mengarah pada angka Sembilan.
“Baru juga jam Sembilan Bang!”
“Katanya istri Abang yang pinter ini mau nurut? Malam ini harus istirahat lebih awal, besok kan mau kelulusan terus mau party-party juga… jadi harus banyakin istirahat dari sekarang, takutnya besok kecapean.” Adrian mengelus perut Retha dan mengecup kening gadis itu.
Retha mencebikan bibirnya tak setuju, namun kemudian ia mengecup pipi Adrian dan meringkuk dipelukan guru olahraganya.
Adrian membelai sayang kepala Retha, “gemes banget sih mama nya decil, coba aja lagi nggak ada decil.. udah gue gas ini.” Batinnya yang kemudian hanya bisa memeluk Retha erat-erat. Semenjak dokter menyarankan untuk puasa selama tiga bulan pertama kehamilan, Adrian benar-benar tak menyentuh Retha sama sekali. Bahkan aneka vitamin dan susu cokelat pun tak pernah ia lakukan karena takut kebablasan seperti terakhir kali. Meskipun ujung-ujungnya solo karir tapi tak masalah baginya asal Retha dan decil selalu sehat.
Pagi harinya Retha berangkat sekolah dengan membawa pilok aneka warna yang sudah ia beli kemarin bersama Adrian. Meskipun sekolah melarang acara corat coret seragam setelah pengumaman kelulusan dengan alasan bajunya bisa lebih bermanfaat jika nantinya disumbangkan pada orang-orang yang memerlukan namun tetap saja para siswa melanggarnya dengan alasan moment penting sekali seumur hidup, toh masih ada sisa seragam yang lain yang bisa mereka sumbangkan.
“Bawa nggak pesenan kita, Ret?” tanya Rifki dan Tanesha kompak.
“Aman.” Retha, “tuh sama Pak Haidar.” Lanjutnya seraya menunjuk Adrian yang sedang mengeluarkan paper bag besar dari bagasi.
“Nih!” Adrian memberikan paper bag yang ia bawa pada Rifki. “Jangan berlebihan ntar.” Lanjutnya sebelum pergi ke ruang guru untuk mengikuti rapat kelulusan sebelum diumumkan.
Sama seperti siswa siswa yang lain, Retha dan teman-temannya mulai ketar ketir karena sampai sore pengumuman kelulusan belum juga dibuka. Padahal acara formal kelulusan sudah selesai digelar dua jam yang lalu. Dari mulai perwakilan Yayasan, kepala sekolah sampai guru pun sudah memberikan anekan nasihat untuk calon lulusan. Dari pesan supaya jadi generasi 4.0 yang mumpuni dan mampu bersaing, hingga nasihat untuk tak merayakan kelulusan secara berlebihan seperti konvoy dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat negative.
Retha dan teman-temannya berulang kali mereload website sekolah di ponselnya guna mengetahui hasil kelulusan yang bisa dilihat dengan memasukan nomor induk setiap siswa.
“Cek woy cek sekarang gue udah bisa nih. Lulus…” teriak salah satu siswa sambil memamerkan layar ponselnya.
“Gue lulus…
“Lulus…
“Kita lulus…” aneka teriakan terus bergema satu persatu hingga akhirnya mereka dikumpulkan di lapang utama oleh wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.
Mereka diminta baris sesuai kelasnya masing-masing kemudian setiap siswa diberi smoke bomb warna warni. Mereka berjalan pelan hingga membentuk lingkaran dengan kepulan asap warna warni dengan diiringin lagu sampai jumpa milik Endank Soekamti yang membuat mereka satu persatu mulai terenyuh dan saling memeluk.
“Ternyata benar kata Pak Haidar dengan memfasilitasi apa yang mereka inginkan kita jadi bisa mencegah mereka melakukan hal-hal negative. Coba kalo tadi setelah seremonial kelulusan anak diperbolehkan pulang dan memeriksa kelulusan mereka masing-masing diluar pasti tak akan sekondisional ini." ucap salah satu guru.
Adrian hanya tersenyum samar kemudian turun untuk menghampiri Retha, ia mulai khawatir karena gadis itu berlari kesana kemari.
Para siswa langsung mengelilingi Adrian dan meminta foto bersama saat dirinya tiba di lapangan. Retha yang semula sibuk dengan teman-teman sekelasnya mulai cemberut dan berjalan menghampiri Adrian. “Foto-foto kita lanjut ntar malem aja guys. Jangan lupa pada datang yah!” ucapnya sebelum pergi.
“Pak Haidar!” teriaknya sambil membelah kerumunan para siswi. Sontak mereka semua menatap heran padanya.
“Kita tau kok kalo Pak Haidar tuh tunangan lo, Ret. Tapi jangan pelit-pelit lah, Pak Haidar juga kan guru kita. Masa foto doang nggak boleh sih?” protes salah satu siswa.
“Tau nih baru juga tunangan belum jadi istrinya tapi udah posesif banget.” Sambung yang lainnya.
“Foto boleh aja tapi jangan pegang-pegang lah. Anak gue kagak rela kalo bapaknya di gre pe gre pe cewek lain.” Ucap Retha.
“Anak?”
“Yups, anak gue sama Pak Haidar.” Jawab Retha. “Pokoknya ntar malem jangan lupa pada datang. Party sepuasnya dalam rangka kelulusan sama syukuran nikahan gue.”
“Nikah? Anak? Ini apaan sih kita nggak ngerti!” gumam para siswa.
“Paling juga ngarang si Retha. Udah lah yang penting party aja.” Ucap yang lain.
“Lo pada kalo gue serius dianggapnya bercanda. Terserah deh yang penting pada datang aja.” Ucap Retha.
Tak yakin dengan omongan Retha para siswa beralih menatap Adrian, “emangnya beneran pak udah nikah sama Retha? Ini hoax kan pak?”
Adrian hanya tersenyum ramah, “nanti malam saja Bapak jawabnya. Jangan lupa pada datang yah, kita kumpul bareng dulu sebelum kalian berpencar demi masa depan dan kesuksesan masing-masing.” Ucapnya kemudian berlalu bersama Retha.
“Ini pasti hoax nih! Nggak mungkin kan Retha sama Pak Haidar udah nikah?”
“Ya nggak mungkin lah. Kalo beneran pasti Retha udah dikeluarin dari sekolah.”
“Paling dia ngada-ngada biar kita berenti deketin Pak Haidar.”
“Pokoknya pantang mundur sebelum janur kuning melengkung. Pak Haidar masih milik bersama guys tenang aja.” Ucap para fans fanatic Adrian saling menyemangati diri.