Be My Wife

Be My Wife
Nggak bisa tidur



“Gue pengen pulang, Bang.” Ucap Retha begitu keluarganya meninggalkan rumah Adrian. Dia duduk di ruang tamu bersama Adrian, sementara Meirani dan Rangga sedang mengantar besan mereka ke depan. Tadi ia sudah mendapat ceramah panjang lebar dari Arka gara-gara heboh sendiri saat selesai akad nikah. Jadilah ia kesal dan tak ikut mengantarkan mereka ke depan.


“Besok gue anterin lo pulang, sekarang tidur disini dulu.”


“Tapi gue pengennya pulang sekarang, Bang.” Jawabnya murung. “Mama sama Papa kok tega ninggalin gue disini.” Lanjutnya.


“Kan kita udah nikah, lo istri gue sekarang.”


“Iya kan nikahnya udah, Bang. Harusnya gue boleh pulang dong! Kenapa semua pada seenaknya aja sih!” protes Retha.


“Lo kira kita lagi main nikah-nikahan? Selesai nikah terus pulang ke rumah masing-masing gitu?”


“Ya, kan Bang Ian yang tadi bilang anggap aja kita nikah bohongan biar enjoy.”


“Iya tapi nggak gitu konsepnya, Aretha! Pokoknya kita jalanin aja lah, jangan dibawa serius. Gue puyeng jadinya kalo lo nanya-nanya mulu.” Ucap Adrian.


“Kalian itu baru juga sah udah ribut lagi.” Sindir Meirani yang baru saja masuk. “Pada tidur gih katanya tadi Retha takut telat kalo tidur kemaleman, besok kan sekolah.” Lanjutnya.


“Tapi Retha pengen pulang, Ma.” Jawabnya lirih. “Baju sekolah sama buku-buku Retha kan semuanya di rumah. Besok Retha bisa dihukum guru kalo nggak bawa buku.” Lanjutnya beralasan.


“Jadi Retha pulang dulu aja yah, Ma? Besok pulang sekolah main kesini lagi deh, janji.”


“Soal itu bisa diatur nggak usah ambil pusing, sekarang Retha istirahat saja. Besok pagi buku sama baju sekolahnya udah ada deh pas Retha bangun.” Ucap Meirani.


“Bener kata Mama, sekarang lo tidur aja. Besok pulang sekolah ke rumah lo, gue janji.” Bujuk Ardian.


“Beneran yah, Bang? Awas aja kalo bohong!”


“Iya, bener. Udah yuk tidur.” Ajaknya kemudian.


“Oke deh kalo gitu. Ma, Retha tidur dulu yah.” Pamitnya pada Meirani.


Retha diikuti Adrian berjalan ke kamar tamu yang tadi menjadi tempat diskusi mereka. “Kalo lo butuh apa-apa tinggal bilang aja ke gue.” Ucap Adrian yang berdiri di depan pintu.


“Kok kalian disini? Ian, ajak Retha ke kamar kamu. Apa kalian mau tidur di kamar tamu?” tanya Meirani yang kebetulan lewat untuk pergi ke kamarnya.


“Retha tidur disini aja nggak apa-apa, Ma.” Jawab Retha.


“Iya nggak apa-apa tapi apa-apaan! Kalian itu sudah menikah masa mau pisah kamar? Tidur di kamar Adrian.” Ucapnya tak terbantahkan.


“Ma, Retha masih sekolah.” Ucap Adrian.


“Iya terus kenapa kalo Retha masih sekolah? Dia istri kamu!”


“Tapi Retha nggak biasa tidur bareng orang lain Ma. Retha tidur disini aja.”


“Kalian ini kenapa sih pada malu-malu kayak gini? tadi aja tiduran dipangkuan biasa aja. Kemaren-kemaren kamu rebahan bareng Ian di ruang tamu juga biasa aja. Udahlah Mama juga pernah muda, nggak usah pada malu-malu gitu.” Ledeknya pada Retha.


“Mama udah pengen punya cucu.” Lanjutnya pada Adrian.


“Ya ampun Mama!” Adrian sedikit meninggikan suaranya. “Ke kamar gue ayo! Percuma disini terus nggak bakal ada habisnya.” Lanjutnya seraya menarik Retha, membawa gadis itu ke kamarnya.


Retha duduk di atas ranjang sambil mengedarkan pandagannya di kamar luas dengan nuasa putih bersih. Super rapi jika dibandingkan dengan kamar adiknya, Shaka. Dinding kamarnya nyaris tanpa hiasan apapun, hanya hiasan ornamen tali yang cukup unik.


“Lo nggak usah canggung, anggap aja kamar sendiri. Gue nggak akan macem-macem, nggak usah takut.” Ucap Adrian. “Lo bisa tidur di situ, gue tidur di lantai nggak apa-apa.” Lanjutnya.


“Kenapa Bang Ian mesti tidur di lantai? Disini aja lah, kasurnya luas kok. Ntar kita kasih batas pake bantal guling aja nih.” Retha beranjak naik dan memposisikan bantal guling di tengah-tengah sebagai batas.


“Nah kayak gini, beres deh. Bang Ian sebelah sana. Gue kalo Mama Papa ke luar kota suka tidur sama Shaka juga kayak gini, jadi gue anggap aja sekarang lagi tidur sama Shaka.” Lanjutnya menunjuk area kosong di samping bantal guling.


“Lo nggak takut gue apa-apain?”


“Nggak, kan Bang Ian nggak suka sama bocil kayak gue.”


“Iya juga sih.” Jawab Adrian kemudian merebahkan diri di samping Retha.


Keduanya terdiam sebentar, tak lama Retha berbalik menghadap Adrian dan memeluk bantal guling yang ia gunakan sebagai batas. “Nggak bisa tidur kalo nggak meluk guling.” Ucapnya lirih.


“Ya udah lo peluk aja nggak apa-apa. Gue nggak bakal ngelewatin batas kok.” Jawab Adrian.


“Bang Ian...” panggil Retha lirih.


“Apa?” Adrian menjawabnya tanpa melihat wajah Retha. Pandangannya lurus ke langit-langit putih di atasnya.


“Jangan bilang lo pengen pulang lagi? Sorry kagak bisa kalo sekarang, besok pulang sekolah baru gue anterin.”


“Sorry udah buat lo jadi nikah mendadak kayak gini. Jujur gue juga nggak siap, tapi mau gimana lagi kita terlanjur kejebak gini. Tapi tenang aja, gue pasti jagain lo kok.”


“Lo setuju nggak kalo misal kita tinggal di rumah sendiri? Jadi adil, nggak di rumah gue atau pun rumah lo.”


“Heh bocil!”


“Retha!” tak ada jawaban, Adrian menengok ke sampingnya.


“Malah mo lor! Katanya nggak bisa tidur sama orang lain. Dasar!” cibirnya.


Adrian menyelimuti Retha kemudian berusaha memejamkan matanya, namun sudah beberapa jam berlalu matanya tak juga terpejam. Keberadaan orang baru di ranjangnya membuat dia sama sekali tak bisa terlelap seperti biasanya, terlebih sosok yang sedang memeluk guling itu terlihat begitu menggemaskan dibawah cahaya lampu yang temaram.


“Malah jadi gue yang nggak bisa tidur!” gerutunya sambil menghembuskan nafas panjang.