Be My Wife

Be My Wife
Double tangkap



“Nggak adil! Nggak adil!” Adrian sedikit menaikan suaranya. “yang nggak adil itu kalo korupsi bareng-bareng tapi yang satu masih berkeliaran.” Sindirnya.


“Ehm!” Retha mengacungkan tangan, hingga ketiga orang dewasa disana menatap padanya. “Ini masih lama nggak? Aku lagi praktek shalat jenazah, lapar juga.”


“Pak sebaiknya Retha dibiarkan kembali ke kelas saja. Biarkan masalah ini kita selesaikan bertiga saja, toh dia tadi tak menjawab, pasti dia juga kaget melihat wajahnya disalah gunakan seperti itu.” Ucap Adrian.


“Iya, Pak Soleh. Sumpah aku kaget banget, kok bisa ada foto kayak gitu. Harus dihukum tuh orang yang bikin foto kayak gitu.” Jawab Retha sambil melirik kesal pada Adrian yang mengambil foto telanjang bahunya diam-diam.


“Iya, saya juga setuju. Kamu bisa bilang ke orang tua kamu supaya kita bisa tuntut orang yang sudah mengedit foto senonoh ini.” Imbuh Adrian.


“Edit! Edit dari mana! Ini asli bukan editan, saya sudah periksa keasliannya pak Soleh.” Sela Bu Astri.


“Zaman sekarang banyak tukang edit yang pro Pak Soleh. Saya tidak mungkin melakukan hal seperti itu dengan Retha, terlebih dia tunangan saya.” Jelas Adrian berbohong, setidaknya sampai Retha lulus ia ingin gadis itu bisa menikmati masa-masa terakhir sekolahnya dengan tenang. Sementara Retha hanya komat kamit menirukan ucapan Adrian tanpa suara karena bu Astri terus-terusan tak terima jika foto itu dianggap editan.


“Saya udah telpon polisi dan melaporkan kasus ini pagi tadi. Tuh pas banget mereka datang.” Ucap Bu Astri. “Pak sebelah sini pelaku pelecehan seksual nya.” Seru bu Astri.


Satu orang polisi menghampiri Bu Astri, “dengan saudari Astri?”


“Iya, Pak. Saya yang melapor kasus pelecehan seksual di sekolah kami pagi tadi.” Jawabnya dengan penuh keyakinan.


“Anda ditangkap dengan tuduhan korupsi dana sekolah.” Ucap pak polisi.


“Pak, sebentar. Bapak pasti salah orang, yang harusnya ditangkap dia!” bu Astri menunjuk Adrian yang melipat kedua tangannya di depan dada dengan santai. “pedofil dia tuh, ngelecehin siswi disini.” Teriaknya.


"Pak! Lepasin! Saya nggak salah. Bapak salah tangkap.” Bu Astri terus berteriak meski polisi sudah membawanya keluar dari ruang guru.


Tanesha dan Rifki yang berada di depan ruangan terlihat bingung. Akhir-akhir ini di sekolah mereka jadi banyak drama, satu persatu gurunya ditangkap polisi.


“Bu Astri kenapa Ret?” tanya Tanesha begitu Retha keluar.


“Nggak tau, bodo amat lah. Kantin yuk gue lapar nih.” Ucap Retha, “Anak gue juga lapar nih disini.” Retha mengelus perutnya.


“Buset dah anak.” Cibir Rifki.


“Makin nggak waras aja ini temen kita, Rif.” Sambung Tanesha. “Pasti itu anaknya Taehyung yah, Ret?” Gue juga lagi hamil anaknya mas Bright nih.” Imbuhnya tak kalah gila sambil mengelus perutnya sendiri.


“Nggak ada yang waras emang gue punya temen.” Rifki menghela nafas panjang melihat kedua sahabatnya mengelus perut masing-masing.


“Rif, malah cosplay jadi batu lo!” teriak Retha yang sudah berjalan lebih dulu. “Gue tunggu di kantin, bawain kotak bekal gue yah.” Lanjutnya.


Retha dan Tanesha sudah berada di kantin. Tanesha sudah mulai menikmati makanan yang ia pesan sementara Retha masih menunggu bekal miliknya.


“Ini si Rifki lama banget sih! Jangan-janngan dia nggak bisa ngeles nih jadi ketahan di masjid.” Gumam Retha, mengingat kelasnya masih praktek PAI saat ini.


“Tau nih lama banget. Lo makan yang ada aja ngapa, Ret. Ribet banget.” Balas Tanesha.


“Buset dah halu loh makin gila, Ret. Emang itu bekal udah dicicipin Taehyung apa?” ledek Tanesha.


Retha hanya menghela nafas Panjang, ia sudah sangat lapar sekarang. Gara-gara drama cilok ditambah drama bu Astri di ruang kepsek tadi, ia jadi tak sempat makan. Padahal sudah rencana mau sarapan bekal sebelum mulai praktek, eh belum apa-apa sudah dipanggil ke ruang guru.


“Woy, hot news! Hot news.” Ucap Rifki dengan nafas tersengal karena berlari ke kantin. Tangan kanannya membawa bekal milik Retha yang baru saja ia letakan di meja.


“B aja ngapa, Rif. Kayak abis dikejar set an aja lo.” Ejek Tanesha.


“Gila, sekolah kita bener-bener luar biasa hari ini. Dulu pak kepsek, tadi bu Astri, eh sekarang Pak Haidar di tangkap polisi.” Ucap Rifki.


“Siapa?” tanya Retha.


“Pak Haidar, Ret. Tunangan lo.” Jelas Rifki. “Ini sekolah apa sarang criminal sih? Besok kira-kira siapa lagi yah?”


Retha langsung beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja dengan berlari.


“Ret, lo mau kemana woy!” Rifki segera menyusulnya bersama Tanesha.


“Pak Haidar bilang nggak apa-apa, lo disuruh tenang aja.” Ucap Rifki setelah berhasil menyamai Langkah kaki Retha. Salah satu alasan ia lama tiba ke kantin tadi adalah karena Adrian menahannya dan meminta menenangkan Retha supaya tak panik.


“Tenang-tenang pala lo! Laki gue bisa dipenjara gara-gara foto itu. Gue mesti jelasin nih.” Jawab Retha. “Bu Astri bener-bener dah tuh orang apa mak lampir sih!” Umpatnya kemudian.


Retha berusaha membelah kerumunan anak-anak di parkiran, berusaha menyusul Adrian yang terlihat hampir memasuki mobil polisi.


“Bang Ian!” Teriak Retha.


“Pak polisi jangan tangkap Bang Ian. Saya korbannya, bisa menjelaskan semua.”


“Minggir kek kasih jalan!” teriaknya lagi hingga terjatuh diantara banyak siswa yang berkerumun.


“Reth! Retha!!” seketika siswa yang tadinya berkerumun untuk melihat kepergian Adrian jadi berbalik mengerumuni Retha yang terjatuh di tengah-tengah mereka.


.


.


.


gimana-gimana? aku adil kan🤭 nggak cuma Bu Astri yang ditangkap, Bang Ian juga😎😎


jangan lupa tinggalkan like sama komentarnya😘😘😘