Be My Wife

Be My Wife
Tutorial



Baru pukul delapan malam saat Adrian tiba di apartemen. Lengan baju tergulung hingga siku dengan dua kancing teratas kemejanya yang terbuka. Sepanjang hidupnya rasanya baru sekarang ia menyelesaikan masalah dengan sangat bertele-tele, mungkin karena minimnya pengalaman dan berbagai pertimbangan yang harus dipikirkan. Setelah dipecat oleh kepala sekolah tak tau diri tadi, Adrian langsung menemui pengacara Turangga Group dan menyelesaikan segala yang ia butuhkan untuk awal pekan besok. Sengaja ia menyelesaikan semuanya mesti harus pulang terlambat, ia ingin memberikan waktu liburnya besok full untuk Retha. Kasihan gadis mungil itu selama seminggu ini menjalani ujian sekolah ditambah lagi rasanya ia kurang memberikan perhatian penuh pada Retha karena terlalu sibuk mengurus misi.


“Sayang, Abang pulang. Abang bawain cemilan buat kamu nih.” Ucapnya begitu masuk, namun keadaan ruang tamu begitu sepi.


“Yang…” panggilnya lagi.


“Kemana sih ini bocil kesayangan gue?” gumamnya sambil berlalu ke dapur untuk meletakan makanan yang ia beli.


Adrian lantas pergi ke kamar. Nampak gadis yang masih mengenakan seragam pramuka itu meringkuk sambil memeluk bantal.


Adrian menghampiri Retha dan membenarkan posisi tidur gadis itu, “jalan kemana aja sih ini bocil? Pasti cape banget yah sampe belum mandi aja udah tidur.”


“Bobo yang nyenyak yah kesayangannya gue. Besok kita jalan-jalan deh.” Adrian mengecup kening Retha kemudian pergi ke kamar mandi. Meskipun matanya sudah ngantuk dan ingin segera memeluk Retha tapi dirinya tipe yang tidak bisa tidur jika tak mandi.


Pagi harinya Retha terbangun lebih dulu. Ia menatap lamat-lamat lelaki yang masih terpejam di hadapannya. Tangan mungilnya bergerak perlahan mengabsen setiap inci wajah suaminya hingga Adrian membuka kedua matanya.


“Eh kok bangun.” Gumamnya lirih.


“Bang Ian pulang jam berapa semalem? Kok aku nggak dibangunin sih?”


“Jam delapan. Mau bangunin kamu nggak tega, padahal Abang bawa martabak keju semalem. Yang toping kejunya sampe tumpah-tumpah loh.”


“Padahal bangunin aja, Bang. Aku tuh nungguin Abang sampe kalaparan tau.” Ucap Retha diiringin suara perutnya yang berbunyi. “Tuh kan cacing aku udah pada demo jam segini.” Lanjutnya sambil tersipu malu.


"Padahal makan aja nggak usah nungguin Abang.”


“Yaudah bangun terus mandi, abis ini Abang buatin sarapan. Terus kita jalan-jalan deh sepuasnya, reward buat yang abis ujian sekolah. Supaya semangat buat ujian praktek besok senin.”


“Kita nggak olahraga dulu Bang? Biar sehat gitu.” Ucap Retha sambil menggigit bibir bawahnya, tapi sial cacing di perutnya tak bisa diajak kompromi, mereka kembali bernyanyi bahkan lebih keras.


“Kayaknya kesayangan Abang sekarang butuhnya makan deh bukan olahraga. Ntar malem aja yah kita olahraganya.” Ledek Adrian.


Selesai sarapan Adrian mengajak Retha jalan-jalan, seharian full mereka habiskan bersama. Hanya saja jalan-jalan kali ini sedikit berbeda karena Retha mengajak Adrian ke area super market untuk membeli aneka kebutuhan dapur dari mulai bahan makanan hingga peralatan masak.


Adrian dengan santai mengikuti kemanapun Retha melangkah sambil mendorong troli, pasalnya gadis itu bilang ingin memasak special untuk dirinya. Katanya sih udah nonton tutorial masak berkali-kali dari mulai resep yang disukai anaknya mama mertua hingga resep yang bikin menantunya papa betah di rumah. Meskipun menurut Retha tutorialnya lumayan aneh tapi karena melihat postingan dari tutorial tersebut sangat ramai dan banyak komentar membuatnya semakin semangat untuk praktek. Karena cara masaknya super ribet, Retha rasa Adrian pasti akan sangat bangga padanya nanti karena berhasil menciptakan makanan yang luar biasa.


“Cari apalagi sih, Yang? Udah muter berapa kali nih belum dapat juga.” Tanya Adrian. “Ini belanjaan kamu udah banyak banget loh.” Lanjutnya.


“Aku nyari corong merah yang ada badaknya. Abang tau nggak?” tanyanya sambil berbalik.


.


.


.


Oke tahan dulu sambil nyari corong merah.


Tinggalin dulu like sama komen sebelum lanjut!