
Selesai sholat subuh elsa sempat termenung, kejadian yang baru saja terjadi mengganggu fikiran nya. Setelah kejadian itu irham hanya diam tanpa berucap sepatah kata pun.
Pintu kamar di buka perlahan, dia mencari kelibat suami nya yang sedari tadi tidak terlihat. Elsa mencari keberadaan irham di dalam rumah namun nihil. Elsa keluar rumah mencari irham namun juga tidak ada. Karena tidak berhasil menemukan irham, elsa memilih keliling taman di halaman belakang rumah. Matanya menatap kosong kehalaman belakang rumah, elsa melamun. Membayangkan kehidupan yang akan dijalani nya setelah menikah.
"Pagi-pagi kok udah ngelamun. Ntar kesambet loh." Tegur irfan yang sedari tadi memperhatikan menantu nya melamun.
"Eh papa. Gak kok pa elsa gak ngelamun. Elsa cuma menikmati udara pagi." Elak elsa
"Pasti mikirin irham. Baru juga ditinggal bentar udah kepikiran." Goda irfan yang membuat wajah elsa merona.
"Tuh kan bener. Irham lagi jogging bentar lagi dia juga pulang." Elsa hanya menganggukkan kepala nya sambil tersenyum malu.
"Tu dia." Tunjuk irfan pada irham yang baru saja memasuki halaman belakang rumah nya.
Elsa melihat suami nya yang basah mandi keringat, nampak jelas dada bidang irham dengan perut sixpack miliknya.
Irham menghampiri papa dan istri nya.
"Assalamualaikum." Sapa irham.
"Waalaikumsalam." Jawabnya serentak.
"Ngobrolin apa sih kayak nya seru banget." Tanya irham yang kini berdiri di samping elsa.
"Gak ngomongin apa-apa kok. Elsa ini pagi pagi kok udah ngelamun?" Terang irfan. Elsa yang mendengar nama nya disebut hanya tersenyum malu.
"Masa baru kamu tinggal jogging aja dia udah kangen." Elsa menyembunyikan wajah nya yang kini telah merah merona.
Secepat kilat irham mendaratkan tangan nya di bahu elsa dan menarik tubuh elsa merapat dengan nya. Degub jantung elsa tak beraturan di buatnya.
'Ah kenapa aku lagi yang kena sih.' rungut elsa dalam hati.
"Kangen aku?" bisik irham pelan sambil tersenyum menatap mata elsa.
Elsa mencoba melepaskan rangkulan irham, namun tidak berhasil.
"Malu mas ada papa." Jawab elsa dengan suara yang bergetar karena malu.
Irfan yang melihat kelakuan putra nya hanya menggeleng.
"Mas lepasin, malu diliatin papa." Rayu elsa coba menyadarkan irham yang merangkul nya erat.
"Biarin aja papa liat, papa kan udah punya mama." Jawab irham santai.
Wajah elsa merona merah mendengar jawaban suami nya.
"Ya udah papa masuk dulu kalo gitu. Takut ganggu." Goda irfan pada menantunya.
Elsa yang mendengar nya berdecak kesal karena papa nya mendukung irham.
Irham masih merangkul erat tubuh elsa, entah mengapa dia merasa nyaman ketika berada di dalam dekapan elsa.
"Mas gak kerja?" Elsa coba memulai percakapan. Irham tidak menjawab dia hanya memerhatikan wajah istrinya. Elsa yang merasa tidak nyaman dengan tatapan irham segera mengalikan pandangan nya.
Tiba-tiba irham menarik elsa kedalam pelukkannya. Elsa terperanjak kaget dengan perlakuan suami nya. Wajah elsa mendarat di dada bidang milik irham. Detak jantung irham yang berdegup kencang mampu dia dengar.
Elsa meronta mencoba melepaskan pelukan irham, namun semakin elsa menolak sekamin di eratkan pelukan irham.
Elsa akhirnya merelakan tubuh nya di peluk suami nya, irham yang merasa elsa tidak lagi menolak tubuh nya tersenyum karena berhasil mengerjai elsa.
Dan sekali lagi elsa merelakan nya.
"Mas nanti telat masuk kerja loh." Kata-kata elsa membuyarkan lamunan irham.
Irham melonggarkan pelukan nya kemudian menatap wajah istri nya. 'She's damn cute. Just like a doll.' Wajah kedua nya sudah memerah.
Elsa merapikan pakaian nya dan irham bergegas masuk ke dalam rumah. Elsa hanya mengekori irham masuk ke dalam rumah.
Irham masuk ke kamar madi dan membersihkan dirinya yang basah bermandi keringat setelah jogging tadi. Elsa hanya menunggu di dalam kamar.Tidak sampai 5 menit irham keluar dengan pakaian lengkap.
Irham mengajak elsa untuk sarapan bersama dengan kedua orang tua nya.
"Pa irham udah mutusin kalo kita akan tinggal dirumah sendiri." Ucap irham pada papa nya.
"Kenapa harus pindah rumah? Apa karena perempuan ini kamu sekarang mau ninggalin mama sama papa?" Siska tidak terima dengan apa yang baru saja di ucapkan irham.
"Bukan ma, ini keputusan irham sendiri. Irham cuma mau hidup mandiri dan tidak merepotkan mama sama papa nanti nya. Lagian irham kan juga butuh privasi." Jelas irham. Elsa menghentikan kunyahan nya ketika mendengar kata privasi. Dia melirik ke arah irham namun irham tidak menggubris nya.
"Ya sudah. Bagus kalo kamu punya pemikiran seperti itu." Irfan merasa bangga pada putra nya.
"Gak bisa dong pa, nanti siapa yang ngurus keseharian irham. Mama gak percaya sama perempuan ini." Siska merasa kesal karena suami nya menuruti permintaan anak semata wayang nya itu.
"Mama gak usah khawatir, elsa ada. papa percaya kalo elsa bisa merawat putra kita dengan baik." Elsa hanya mengangguk tanpa berusara. Dia lebih memilih menghabiskan sarapan nya.
"Kenapa mas nggak bilang dulu sama aku kalo kita mau pindah rumah?" Tanya elsa pada suami nya yang sedang menyiapkan pakaian nya.
"Diem dan cepet beresin pakaian lo." Tegas irham.
"Elsa mau kasih tau umi sama abi kalo kita mau pindah." Kata erlsa pelan sambil mengeluarkan hp nya dan bersiap menelfon.
Irham menoleh ke arah elsa dan langsung menyambar hp elsa dan mematikan nya sebelum tersambung.
"Gak perlu. Mereka gak perlu tau kita pindah kemana." Kata irham santai. "Lo tau apa itu menderita? Lo nggak tau. I'll teach you what is it." Ucap irham sambil terus menyiapkan pakaian nya.
Elsa menatap punggung suami nya.
"Mau kamu apa sih mas? Kenapa kamu bersikap seperti ini sama aku? Aku udah coba sabar sama semua perlakuan kamu ke aku. Aku tau aku yang udah bikin kamu menderita karena aku nyelametin kamu dulu. Tapi orang tua aku gak ada hubungan nya sama ini. Aku cuma gak mau abi sama umi khawatir sama aku." Elsa mengeluarkan isi hati nya dengan air mata yang kini mulai mengalir.
"Cepet beresin pakaian lo. Gua tunggu di luar." Ucap irham seraya berjalan keluar kamar nya.
Elsa menarik ujung baju irham
"Mas irham benci lah aku semau dan sepuas kamu, aku terima. Tapi jangan pernah benci orang tua aku karena mereka tidak ada hubungan nya dengan ini." Kata elsa ditengah isak tangis nya lalu mengemas pakaian nya.
"Gua nikah ama lo karena harta papa. Jangan salah tafsirkan apa yang gua lakuin ke elo. Sampai kapan pun elo itu orang yang buat hidup gua menderita." Irham melanjut kan langkah nya meninggalkan kamar nya.
Elsa yang mengemas pakaian nya terduduk lemas mendengar ucapan suaminya, Hati nya terluka. Elsa hanya bisa menangis meratapi hidupnya.
To be continue.....
Terima kasih sudah mau membaca novel saya.
Jangan lupa baca juga DENDAM CINTA novel kedua saya
Terima kasih