Be My Wife

Be My Wife
D kompleks



Jika bukan karena langkahnya yang setengah lari sudah bisa dipastikan Retha akan terlambat masuk kelas, untung saja ia bisa masuk lebih dulu ketimbang gurunya, meskipun nyalibnya di depan kelas. Guru yang bertugas mengajar di jam terakhir itu sampai geleng-geleng melihat sikap Retha. “Bisa-bisanya Pak Haidar kepincut bocah modelan Retha.” Cibirnya.


Pulang sekolah Retha diantar oleh Tanesha. Gadis itu juga main cukup lama di rumah Retha, bedanya kali ini mereka hanya berdua. Si satpam yang biasanya setia ngintil kesana kemari sedang dalam mode patah hati, katanya sementara si Rifki nggak mau ngintil dulu. Namun kenyataannya tak seperti itu, saat Tanesha hendak pulang, Rifki baru saja memarkir motor besarnya.


“Katanya tadi nggak mau kesini pas gue ajakin?” sindir Tanesha.


“Suka-suka gue lah. Mau protes ke Om Arka nih, calon mertua gue mana Ret?” tanyanya pada Retha.


“Calon mertuanya Pak Haidar, Rifki!” tegas Tanesha. “udah pacaran sama Nina masih ngaku-ngaku jadi calon mertua bokapnya Retha.” Ejeknya kemudian.


“Ih udah jangan ribut di depan rumah gue deh. Pada bubar aja sana!” lerai Retha. “Bokap gue katanya ada lembur jadi baliknya malem.” Lanjutnya berbohong. Ia hanya ingin kedua sahabatnya itu segera beranjak pergi karena Adrian sudah dalam perjalanan menuju rumahnya.


Huft! Retha menghembuskan nafas lega saat kedua sahabatnya membubarkan diri. Ia lantas masuk ke dalam rumah dan membantu Freya yang sedanng mengemas makanan untuk dibawa pulang oleh dirinya.


“Jangan banyak-banyak, Ma. Takut nggak abis.” Ucap Retha seraya mencicipi makanan yang sedang di tata oleh Freya.


“Biarin buat stok. Kamu kan nggak bisa masak.”


“Bisa, Ma. Masak mie.” Jawab Retha, gadis itu segera meninggalkan dapur setelah mendengar bunyi klakson.


“Bang Ian...” teriak Retha, “Lah kok malah Papa sih...” lanjutnya lesu, saat melihat yang datang ternyata Arka.


“Kenapa wajahnya ditekuk gitu? Kecewa karena yang datang Papa bukan suami kamu?” tanya Arka. “katanya mau mandiri? Baru juga dua hari kok udah pulang?”


“Pulang kesini dulu soalnya Bang Ian ada ekskul, ntar juga di jemput.” Jawab Retha. “Nah itu Bang Ian datang. Retha mau pulang yah, Pa.” Pamitnya kemudian menghampiri Adrian.


“Yuk pulang, Bang.” Ajaknya.


“Ntar, gue mau nyapa bokap lo dulu.”


Alih-alih sekedar menyapa, keduanya malah tertahan disana karena Freya mengajak mereka untuk makam malam bersama dan pulang setelah selesai. Tak lupa mertuanya itu membekalinya banyak makanan saat pulang.


Sampai apartemen, Adrian memasukan makanan yang diberikan Freya ke dalam lemari es. Sementara Retha sudah masuk kamar lebih dulu. Saat Adrian menyusul ke kamar, Retha sudah tiduran santai dengan piama pink bergambar panda yang unyu-unyu.


“Jangan dulu tidur, tungguin gue mandi sebentar. Abis itu kita belajar biar lo pinter.” Ucap Adrian sebelum berlalu ke kamar mandi.


Ardian membuang handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut ke sembarang arah dan menghampiri Retha. “Kalo belajar di rumah sama gue nggak bakal lelah, lo pasti seneng deh.” Tanpa ba bi bu Adrian mencium lembut bibir Retha. Menyesapnya perlahan hingga kelamaan gadis itu mulai membalasnya meski gerakannya begitu kaku.


Adrian mulai memperdalam ciumannya. Semakin dalam lu ma tan yang ia berikan membuat Retha tak mampu mengimbanginya, gadis itu justru pasrah dan cenderung menikmati rasa baru yang ia terima.


“Sayangnya gue...” Adrian membelai sayang rambut Retha. Gadis itu sudah terengah padahal Adrian hanya menciumnya, belum apa-apa.


“Gue udah selesai materi pertama pelajaran kita. Sekarang giliran lo praktekin apa yang udah gue ajarin barusan. “


Retha menggigit bibir bawahnya sambil menatap Adrian, “malu Bang.”


“Ya ampun gemesnya bocil gue.” Adrian makin menggusak rambut Retha.


“Ya udah sini bobo aja. Gue kasih vitamin D.” Lanjutnya.


“Apaan lagi vitamin D Bang? Banyak banget vitaminnya. Sebenernya Bang Ian nih guru olahraga apa sales vitamin sih?”


“Suka-suka lo deh mau nganggap apa. Gini...” Adrian menarik Retha ke dalam pelukannya. “Di peluk, dicium, di puk puk punggungnya. Nyaman kan?” ucapnya setelah memeluk, mencium dan terus menepuk-nepuk pelan punggung Retha. “ini namanya vitamin D kompleks.”


"Iya, nyaman sih Bang. Tapi besok-besok kalo belajar di kamar Bang Ian aja yah, kalo udah selesai baru kita pindah kesini." Ucap Retha pelan.


"Emangnya kenapa?"


"Nggak enak aja, Bang. Gue berasa selingkuh di depan suami. Liat tuh suami gue ngeliatin." Retha menunjuk poster poster Kim Taehyung yang di pasang di dinding.


"Retha!!" kesal Adrian. Disaat sedang nyaman-nyaman dipelukan pun gadis itu masih sempat-sempatnya mengingat gambar nggak penting.


"Bang! Bang Ian mau kemana? kok malah kabur!" Retha beranjak menyusul Adrian yang pergi lebih ini. Lelaki itu bahkan menutup kasar pintu kamar Retha saat keluar.


"Bang gimana ini nggak jadi prakteknya?"


"Bang!!"


"Wah ngambek nih sales vitamin gue." gumam Retha sambil berjalan ke kamar Adrian.