
“Peluk?” Adrian jadi bingung sendiri, tadi marah-marah dan sekarang mendadak minta peluk. “Kamu mau dipeluk Abang?” lanjutnya.
“Ya udah deh kalo nggak mau! Sana tidur diluar apartemen sekalian jangan cuma diluar kamar.” Teriak Retha.
Adrian jadi makin kalang kabut, ini itu serba salah terus dari tadi. “Maaf… maaf abang salah yah sayang. Peluk peluk sini.” Ucapnya lirih sambil merengkuh Retha yang moe ngambeknya masih on.
Tak sampai lima menit si kang misuh-misuh beralih menghadap dirinya dan balas memeluk erat Adrian. Jemari lentiknya meraih bibir Adrian dan mengecupnya dengan lembut. Adrian sampai membelalakan matanya menerima serangan tiba-tiba dari gadis yang seharian ini marah-marah. Tak mau ambil pusing, Adrian menganggap ini adalah jalan terbaik untuk berdamai. Benar kata orang, apa pun masalahnya selesaikan di ranjang maka semua akan selesai dengan enak.
Malam ini Adrian benar-benar dibuat salut oleh Retha yang lebih agresif dari biasanya. Gadis yang biasanya malu-malu meong dan sering menolak meski akhirnya minta nambah malah berinisiatif lebih dulu kali ini.
“Bobonya peluk…” ucapnya tak jelas karena kelelahan setelah berolahraga.
“Iya sayang ini dipeluk.” Jawab Adrian seraya menaikan selimut untuk menutup tubuh urian mereka. “Tau gini gue hajar dari siang deh biar berenti marah-marahnya.” Batin Adrian.
“Sayang, besok pulang sekolah kita ke dokter yah. Periksa decil kesayangan kita ini.” Ucap Adrian sambil mengelus perut Retha. Sampai detik ini rasanya masih tak menyangka jika di perut datar Retha ada calon anaknya.
“Males! Bang Ian aja sana yang ke dokter kan Abang yang bikin aku hamil. Aku kan nggak mau hamil!” Mood Retha kembali anjlok gara-gara ingat dirinya sedang hamil.
“Lepas-lepas! Ini apaan sih peluk-peluk!” Retha menepis tangan Adrian.
Adrian yang sama sekali belum tidur tak bisa menahan tawanya, “ngidam apa pun boleh tapi yang satu itu dilarang!”
“Bang Ian belum tidur?” Retha langsung berusaha melepas pelukannya.
“Udah diem peluk aja. Tinggal bilang decil pengen dipeluk papa apa susahnya sih Ma?” ledek Adrian. “Sini-sini biar papa peluk sampe pagi. Atau mama mau main lagi biar decil makin sehat kalo banyak olahraga hm?” lanjutnya.
“Apaan sih Bang Ian. Pake mama papa segala.” Wajah Retha bersemu merah mendengarnya. Ia bingung dan kesal tapi disini lain sangat senang diperlakukan seperti ini. Ia bahkan memejamkan matanya dan menikmati setiap sentuhan yang kembali mendarat di tubuhnya, matanya yang semula mulai mengantuk kini terbuka lebar dan menyambut gelenyar-gelenyar yang membuat tubuhnya merasa melayang.
“emhh Bang Ian pe lan… pel emhh Bang Ian sakit…” Adrian langsung menghentikan gerakannya.
“Sayang kamu kenapa?”
“Perutnya sakit.” Adrian mulai panik, apalagi melihat kening Retha yang bercucuran keringat dengan terus terisak.
“Sebentar sayang.” Adrian mengecup kening Retha kemudian mengambil pakaian untuk dirinya juga Retha kemudian mengenakannya dengan terburu-buru.
“Kita ke rumah sakit sekarang.” Digendongnya gadis yang masih meringis kesakitan.