Be My Wife

Be My Wife
Rumah sakit



“Retha! Retha!” ucap para siswa yang berkerumun sambil memandang gadis yang terjatuh di antara mereka.


“Ret, lo nggak apa-apa kan?” seru Rifki yang baru saja membelah kerumunan.


“Nggak apa-apa! Nggak apa!” kesal Retha, “bantuin gue bangun lah! Heran deh tiap ada yang jatuh bukannya cepet nolongin malah pada nonton doang.” Gerutunya.


“Iya-iya sini gue bantu bangun. Bawel banget dah, jatuh sendiri malah marah-marah.” Balas Rifki. “kan udah gue bilangin nggak usah khawatir eh-“


“Kamu berani yah ngebentak tunangan saya.” belum selesei bicara, Adrian sudah berjongkok di hadapan Rifki. Guru olahraganya itu sudah melingkarkan tangan dibahu Retha, bersiap menggendong gadis itu.


“Abang…”


“Kita ke rumah sakit sekarang!” ucapnya seraya menggendong Retha membelah kerumunan.


Retha lumayan malu di gendong di depan umum seperti ini, ia berusaha turun namun dekapan suaminya terlalu erat. “Diem, Yang.”


“Aku nggak apa-apa Bang, sumpah. Aku bisa jalan sendiri, paling juga kesleo dikit. Biar aku jelasin ke polisi yang nangkap Abang.” Cerocos Retha, “Pak Polisi, aku bisa jelasin semuanya.” Lanjutnya pada dua petugas yang berada di dekat Adrian.


“Jangan banyak gerak nanti kamu kenapa-kenapa.” Tegas Adrian, “nurut! Ada anak kita disana.” Lanjutnya berucap lirih sambil menunjuk perut Retha dengan tatapannya.


“Saya tidak akan kabur. Jika Bapak tidak percaya, bisa ikuti saya ke rumah sakit.” Imbuhnya pada petugas polisi yang terus mengikutinya. Petugas yang awalnya sedikit keberatan karena Adrian meminta waktu untuk menolong siswanya yang terjatuh lebih dulu akhirnya bersedia memberikan kelonggaran.


“Rifki, kamu bantu bapak bawa mobil.” Pintanya pada Rifki yang langsung dijawab cepat.


“Siap, Pak.”


“Aku juga ikut Pak, takut Retha kenapa-kenapa. Ntar kalo bapak ke kantor polisi Retha nggak ada temennya.” Sambung Tanesha.


“Iya boleh.”


Rifki segera mengambil mobil Adrian dan membawa mereka ke rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan Retha terus muntah-muntah tanpa henti. Adrian semakin khawatir karena gadis itu sampai tak bisa bicara sama sekali.


“Rifki, bisa lebih cepat? Retha muntah-muntah terus. Kamu parkir di selatan yah biar deket.” Ucap Adrian sambil memijit leher belakang gadis yang sedang muntah.


Tiba di rumah sakit, Adrian langsung menggendong Retha ke poli kandungan dengan panik.


“Pak Haidar! UGD belok kanan tadi, kenapa bapak malah ke kiri?” ucap Rifki memberitahu arah, karena Adrian justru menuju poli kandungan.


“Hih Pak Haidar nggak bisa banget dibilangin!” Gerutunya karena Adrian tak menggubris.


“Panik kali, Rif. Udah lah kita ikutin aja.” Balas Tanesha dengan nafas tersengal karena berlari menyusul mereka.


Sampai poli kandungan dua bocah berseragam putih abu itu duduk diantara deretan ibu-ibu berperut bulat besar. Tak lama Retha dan Adrian keluar dari dalam ruang dokter. Retha terlihat menggerutu sementara Pak Haidar terlihat pasrah menerima omelan dari gadis yang bahkan sepuluh menit lalu masih muntah-muntah tak berdaya.


“Udah dibilangin aku nggak apa-apa juga! Bang Ian nih ngenyel banget dah.”


“Ya ampun mama Retha udah yah marahnya, sayang.” Tanesha dan Rifki sampai mengorek telinganya, khawatir mereka salah dengar. Guru mereka baru saja menyebut Retha dengan panggilan Mama, ditambah lagi kini tangannya mengelus perut datar Retha.


“Anaknya Papa… kasih tau Mama yah, jangan marah-marah terus. Papa kan Cuma khawatir kalian kenapa-kenapa. Abis tadi kamu jatuh terus muntah-muntah juga.” Ucap Adrian penuh penekanan. Ibu-ibu yang sedang mengantri di depan poli kandungan reflek menganga, iri dengan perlakuan lembut yang diterima gadis berseragam sekolah di sekitar mereka.


“Iya, iya mama Retha… ampun, Papa yang salah. Maafin yah… tadi panik takut kamu sama anak kita kenapa-kenapa.” bujuk Adrian lirih.


Jika ibu-ibu masih menganga karena ini, Tanesha dan Rifki justru menatap Retha dengan penuh tanya. “Mama Retha? Anaknya Papa?” tanya Tanesha lirih.


“Anak kita?" Rifki menirukan ucapan Adrian, "gue nggak ngerti sumpah.” Sambungnya, bingung.


“Biasa aja ngeliatinnya. Kan gue udah jujur sama kalian dari lama, emang dasar aja lo pada kagak percaya.” Ucap Retha.


“Serius Ret!” ucap Tanesha.


“Serius pake banget. Diperut gue udah ada anaknya Pak Haidar.” Jawab Retha dengan mengelus perutnya.


“Wah gila sih ini parah…” seru Rifki.


“Biasa aja sih kagetnya. Kayak yang shock banget dah.” Ledek Retha.


“Gimana bisa biasa aja, Ret? Lo hamil anak guru lo sendiri? Gue kira lo bercanda woy. Ah sumpah deh…” Tanesha menggelengkan kepalanya.


“Berhubung kalian berdua udah tau, bapak harap kalian bisa tutup mulut. Inget! Nggak ada yang boleh tau sampe Retha lulus. Ngerti?” ucap Adrian. Meski masih sedikit bingung tapi Rifki dan Tanesha mengangguk.


“Kalo gitu Bapak titip Retha, anterin pulang. Bapak mau ke kantor polisi.” Lanjutnya.


“Mari, Pak. Bapak bisa bawa saya sekarang.” Ucapnya pada petugas kepolisian.


“Aku ikut Abang aja.” Retha memegangi tangan Adrian.


“Pulang aja yah. Nanti Abang juga pulang kok.” Jawab Adrian.


“Nggak mau! Aku mau ikut aja. Titik. Lagian kan aku bisa jadi saksi biar Abang nggak dipenjara.”


“Kamu nggak ikut juga Abang nggak bakal dipenjara, sayang. Janji deh nanti pulang tepat waktu.” Bujuk Adrian tapi Retha malah memasang wajah sedih, “Ya udah, iya, iya. Boleh ikut.” Imbuhnya.


“Kita-kita juga ikut Pak, nemenin Retha.” Timpal Tanesha.


“Setuju.” Sambung Retha.


Adrian menghela nafas Panjang, “Ya sudahlah terserah kalian saja. Mau ke kantor polisi kok kayak orang mau piknik, semua pada ikut.”


.


.


.


Aku double up tapi tinggalin like sama komennya dulu yah para kesayangan😘😘