
Adrian terbangun dengan senyum merekah di bibirnya. Rintik hujan di luar sana tak membuat hatinya ikut mendung, justru sebaliknya. Keadaan hatinya saat ini sangat-sangat cerah, hari ini adalah cuaca hujan tapi cerah untuk Adrian. Rasanya semesta sedang berrpihak pada dirinya, hingga sengaja menurunkan hujan dipagi hari supaya ia bisa berlama-lama dengan gadis mungil yang meringkuk di pelukannya.
Adrian menaikan selimut Retha yang tersingkap kemudian membelai sayang wajah gadis itu. “Pagi kesayangannya abang…” sapanya begitu Retha membuka mata. Gadis yang sudah tak perawan itu balas manyun.
“Kenapa sih baru bangun udah manyun aja? Masih kurang yang semalem hm?”
“Mau lagi?” Adrian mengecup singkat kening Retha.
“Bang Ian ngeselin ih!” Retha memukul Adrian pelan, lelaki itu kian mendekap erat dirinya.
“Sakit, Yang. Kamu ini pagi-pagi udah KDRT padahal semalem udah dikasih enak-enak.” Ucapan Adrian membuat Retha kian berontak, tak hanya tangan kini kakinya ikut menendang bebas.
“Yang, kaki kamu Yang. Diem, nanti kena asset penerus bangsa.” Adrian mengunci kaki Retha dengan kakinya.
“Ntar kalo ini asset kenapa-kenapa kamu yang rugi, nggak bisa uh ah ah lagi loh.” Ledeknya kemudian.
“Bang Ian!!” Geram Retha.
“Apa sayangnya Abang?” jawab Adrian lembut.
“Sayangnya! Sayangnya! Modus!” ketus Retha.
“Katanya Cuma kenalan, Cuma digesek, kenapa dimasukin?”
“Pokoknya gue, emm” belum selesai bicara Adrian sudah membungkam bibir Retha dengan mulutnya. Gadis itu seketika melotot.
“Gue, emm” lagi-lagi Adrian mengulanginya.
“Bang Ian!” Retha cemberut.
“Aku, sayang. Jangan pake gue. Abang aja dari tadi nggak peke gue lo.” Jelasnya lirih, membuat Retha seketika salting ditatap seperti itu.
“Iya itu gu- eh aku maksudnya. Pokoknya aku sebel sama Bang Ian. Bang Ian tukang bohong, tukang modus! Katanya kenalan eh Taunya…”
“Niatnya iya Cuma mau kenalan aja, Yang. Tapi kebablasan, maaf yah nggak kekontrol. lagian kamu nya juga suka kan? Sampe uh ah nggak berenti-berenti. Ulang lagi coba, Abang seneng banget dengernya.”
“Bang Ian!” teriak Retha seraya menabok dada Adrian. Bisa-bisanya Adrian membahas hal itu dengan santai, Retha seketika jadi malu mengingat malam tadi. Astaga, benarkah dia sampai teriak uh ah karena keenakan? Rasa baru itu memang sulit didefinisikan, yang ia tau rasanya seperti ledakan yang membawanya terbang nyaman. Retha jadi tersipu sendiri, tanpa sadar ia kian meringkuk dalam pelukan Adrian.
“Jadi mau lagi, Yang? Okelah tapi kita main cepet yah, takut telat ke sekolah. Atau hari ini kita ijin aja, kepentingan keluarga?” tangan Adrian mulai mengusap lembut punggung polos Retha.
“Bang Ian jangan mesum deh! Masih pagi! Kita mesti ke sekolah.”
“Yakin mau ke sekolah? Emang bisa?”
“Yakin lah, Bang. Hari ini ulangan matematika. Bang Ian balik ke kamar Abang sana, aku hadap sini deh biar nggak liat Abang ngambil baju.” Ucap Retha seraya berbalik memunggungi Adrian.
“Nggak, Bang. Aku nggak liat, semalem kan aku merem mulu.” Jawabnya bohong.
“Ya udah kalo gitu liat sekarang aja nih? Abang ikhlas.”
“Nggak mau, nggak mau! Mata aku jadi tercemar ntar. Cepetan deh Bang Ian keluar dari sini, aku mau mandi, ntar kita telat ke sekolahnya.”
“Ya ampun ngegemesin banget sih kesayanganya Abang ini…”Adrian mendekap Retha dari belakang, diciumnya Pundak mulus istrinya.
“Ya udah Abang balik ke kamar dulu mau mandi, terus bikinin sarapan buat kamu. Sayangnya Abang mau sarapan apa hm?”
“Apa aja terserah Bang Ian. Aku mau sarapan banyak, rasanya laper banget. Baru hari ini nih aku bangun tidur kelaparan.”
“Wajarlah kan semalem kita abis olahraga. Abang masakin yang enak buat kamu.” Jawab Adrian kemudian berlalu setelah mengecup singkat bibir Retha.
Sejam berlalu, Adrian yang sudah rapi dengan baju olahraganya sudah selesai membuat sarapan untuk istri tercinta. Karena menunggu Retha yang tak kunjung datang, ia memutuskan Kembali ke kamar gadis itu. Berata terkejutnya dia mendapati Retha masih bergulung selimut dan duduk di tepi ranjang.
“Belum mandi?” tanyanya begitu menghampiri Retha.
“Gimana mau mandi Abang? Baru jalan selangkah aja sakit banget.” Keluh Retha.
“Ini tuh gara-gara Bang Ian! Bukannya pegel di kaki aku ilang malah sekarang semua badan aku jadi pegel. Apalagi bagian itu sakit banget, buat jalan aja susah.” Protes Retha.
Adrian berlalu ke kamar mandi dan mengisi bathup dengan air hangat. Ia lantas Kembali dan menggendong Retha ke kamar mandi.
“Bang Ian ngapain? A a aku bisa mandi sendiri.” Ucap Retha gugup kala melihat Adrian malah mengunci kamar mandi setelah meletakannya di bathup penuh busa dengan aroma vanilla. Retha menutup wajahnya dengan telapak tangan saat Adrian membuka pakaiannya dan ikut masuk ke dalam bathup.
“Biar Abang bantu kamu mandi sekalian dipijit lagi supaya badan kamu nggak pada sakit.” Jawab Adrian seraya menggeser Retha supaya duduk di depannya. Tangan terampilnya mulai memberikan sentuhan-sentuhan lembut disana sini.
“Ta ta tapi kan Bang emhhh…” Retha mulai me le guh tak karuan saat sentuhan demi setuhan yang ia dapatkan berkolaborasi dengan terpaan nafas hangat Adrian di lehernya. Ia bahkan menurut saja saat Adrian membuat tubuhnya mengadap dirinya, dengan senang hati menerima setiap hentakan demi hentakan yang membuat ledakan-ledakan kenikmatan Kembali ia rasakan.
“Emmmh emmh te te ter rus Bang emmh…” ucapannya tak jelas di sela-sela nafas yang terengah.
.
.
.
Anu gimana ini yah, maafkan jariku nakal. aku nggak tau apa-apa, sumpah deh🙈🙈
Pokoknya like sama komen deh jangan ketinggalan!