
Hari ini adalah jadwal terakhir Retha mengikuti ujian sekolah, tak terasa akhirnya hari-hari penguras otak sudah akan berakhir. Gadis itu keluar dari kamar dengan bersenandung riang.
“Papa Ian masak apa? Decil udah lapar ini…” ucap Retha seraya duduk di deapan minibar tempat Adrian menyiapkan sarapan.
“Papa! Papa! Masih pagi udah kumat aja kesayangan Abang ini.” Jawab Adrian.
“Abang nggak masak, sibuk. Tau sendiri kan semalem aja gadang ngerjain ini itu. Hari ini sarapan nasi bebek yang dari mama aja yah?”
“Sarapan apa aja nggak masalah aku, Bang. Yang penting cobain dulu sama Abang.” Jawab Retha.
Adrian mengambilkan nasi dan bebek rica-rica kiriman dari mamanya. “segini cukup?” Retha mengangguk.
Adrian mengambil sedikit dan menyuapkannya ke mulutnya sendiri kemudian memberikannya pada Retha, “nih sarapannya sayang…”
“susunya juga nih.” Imbuhnya seraya memberikan segelas susu vanilla yang sudah lebih dulu ia teguk sendiri. Gara-gara hampir seminggu tiap pagi selalu mencicipi susu vanilla kesukaan Retha lama-kelamaan Adrian mulai terbiasa dengan cairan manis berwarna putih itu.
“Makasih Abang Ian kesayangannya aku.”
“Sama-sama sayang.” Jawab Adrian.
“Nih buat makan di sekolah nanti.” Adrian memasukan nasi dan bebek rica-rica yang baru saja ia hangatkan ke dalam misting. Abang ntar nggak bisa ketemuan buat nyobain makanan kamu. Bawa ini aja, udah Abang cicipin dikit. Abang masukin potongan buah juga nih.”
“Emang Bang Ian sibuk banget yah? Ketemu bentar di aula lah bentar, icip-icip doang terus balik ke kantor lagi nggak apa-apa. Ntar aku nyuruh Rifki lagi ke aula.” Beberapa hari ke belakang Rifki memang mendadak jadi kurir Retha yang special. Bukan gratisan tentunya karena ia mendapat bonus plus plus dari Adrian hasil tukar nota sebelumnya.
“Maaf yah sayangnya Abang, hari ini nggak bisa. Abang juga bakal pulang telat, kamu main dulu ke rumah Tanesha nanti Abang jemput. Nggak apa-apa yah?” ucap Adrian perlahan.
Retha sedikit kecewa mendengarnya, tapi ia berusaha sedikit pengertian saat ini, apalagi melihat suaminya akhir-akhir ini begitu sibuk. “Bener-bener nggak bisa yah Bang?”
“Hm maaf yah.”
“Ya udah nggak apa-apa deh, nanti aku nongkrong bareng Tanesha sama Rifki aja.”
“Good, anak baik.” Puji Adrian.
“Tapi uang jajannya tambahin dong Bang.” Retha menadahkan tangannya, “dari pada Bang Ian tuker nota sama Rifki? Rugi Bang! Dia ngambil komisinya banyak, mending komisinya buat aku aja, ntar kita bagi dua.”
“Dasar kamu tuh kalo soal duit nggak mau rugi.” Ejek Adrian, “gesek kartu bulanan yang Abang kasih aja. Ntar Abang transfer lagi.”
“Siap Abang sayang.” Jawab Retha tak ketinggalan hormat ala upacaranya.
“Yuk siap Pak Haidar!”
Tiba di sekolah Retha langsung menuju ruang ujian. Seperti biasa dia pagi-pagi nebeng Tanesha dari pertigaan hingga sekolah. “Nanti pulang sekolah kita nongkrong tempat biasa. Temenin sampe Pak Haidar bisa jemput gue yah?”
“Siap. Tapi kita ajak si Nina juga yah? Kasihan dia ditinggal mulu sama Rifki gara-gara jalan sama kita.” Jawab Tanesha.
“Sip lah ajak aja. Mau ajak guru privat lo juga boleh. Gue jadi kepo guru privat lo tuh kayak gimana? Sampe bisa bikin lo berpaling dari gue, bikin lo jadi so sibuk banget.” Ucap Retha.
“Jangan bilang kalo dia juga kayak Pak Haidar? Guru di sekolah kita juga?” tebaknya kemudian.
“Ada deh ntar kapan-kapan gue kenalin.” Pungkas Tanesha, “kelas yuk!”
Berbeda dengan Retha yang haha hihi bersama teman-temannya setelah selesai mengerjakan ujian, Adrian justru sedang bersitegang dengan pengelola keluangan. Dia, kepala sekolah, Bu Astri dan Pak Eko berada dalam satu ruangan dengan suasana mencekam. Sejak pagi tadi Adrian terang-terangan ingin megakhiri bisnis dana gelap.
“Jadi bagaimana Pak Wahyudi, Pak Eko, dan Bu Astri? Mau pilih opsi yang mana?” tanya Adrian dengan tenang.
“Apakah Bapak dan Ibu setuju untuk sadar diri, mengakui kesalahan, mengembalikan semua dana yang sudah kalian ambil dan meninggalkan sekolah ini dengan tenang tanpa mencoreng nama baik Bapak dan Ibu?” tegas Adrian sekali lagi.
Bukan tak ingin langsung mengambil jalur hukum tapi Adrian memilih jalur kekeluargaan lebih dulu demi melindungi citra sekolah, karena sekali tersebar kabar korupsi di sekolah tentu akan mempengaruhi berbagai aspek, dari mulai kepercayaan masyarakat yang menurut hingga yang lainnya.
“Apa harus saya laporkan kasus ini ke pihak berwajib saja supaya cepat selesai?” tanya Adrian.
“Selain kehilangan asset kalian juga akan mendekam lumayan lama di penjara.” Ucap Adrian.
Berbeda dengan Bu Astri dan Pak Eko yang terlihat ketakutan, kepala sekolah justru tertawa dengan mudahnya. “sudah selesai bicaranya?”
“Mau lapor polisi?”
“Silahkan! Toh Pak Haidar tidak punya bukti apa-apa terkait dana gelap yang kami ambil. Selain itu jika Pak Haidar lapor polisi saya pastikan Pak Haidar yang akan mendekam di penjara. Lagi pula siapa yang akan percaya pada guru magang seperti anda? Ingat, di rekening anda juga ada aliran dana gelap.”
“Jadi dari pada ribet pake lapor polisi segala lebih baik tutup mulut anda rapat-rapat dan gunakan uang yang ada di rekening anda baik-baik. Mulai besok anda tidak perlu lagi datang ke sekolah. Mulai hari ini guru magang atas nama Adrian Haidar diberhentikan!” ucap kepala sekolah sambil mengebrag meja Adrian, membuat lelaki itu seketika berdiri.
"Baiklah kalo itu pilihan Pak Wahyu. Dari ucapan Bapak yang Panjang lebar dan tidak berguna, bisa saya tarik kesimpulan jika bapak memelilih mendekam di penjara. Untuk Bu Astri dan Pak Eko, kalian saya beri kesempatan kedua. Barangkali diantara kalian ada yang ingin menjadi saksi dan mengakui kesalahan lebih ada maka saya pastikan hukuman kalian lebih ringan.”
“Tidak perlu banyak bicara! Segera angkat kaki dari sini, anda bukan bagian dari SMA Turangga lagi! Ingat, anda sudah diberhentikan!” usir kepala sekolah dengan nada membentak.
“Ok, baiklah. Untuk saat ini saya diberhetikan. Tapi tunggu saja senin nanti Bapak yang akan diberhentikan!”