
“Sip dah kalo gitu kita jalan-jalan sepuasnya. Gue yang tlaktir deh.” Ucap Rifki seraya merangkul dua perempuan di sisinya. Mereka lantas meninggalkan sekolah, Retha menaiki mobil Tanesha sedangkan Rifki dengan setia mengikuti di belakang dengan motornya.
Sementara itu di ruang kepala sekolah, Adrian berbincang bersama kepala sekolah dan beberapa guru lainnya. Tak banyak hanya orang-orang yang terlibat dalam pengelolaan keuangan sekolah. Cukup lama Adrian mendengarkan tugas-tugas tambahan yang diberikan kepala sekolah padanya terkait keanggotannya sebagai pengelola Bantuan Operasional Sekolah yang lebih di kenal dengan sebutan BOS. Dimana nantinya tim pengelola BOS tersebut bertanggungjawab dalam proses permohonan, pencairan hingga laporan penggunaan dana.
“Bagaimana Pak Haidar siap tidak jadi pengelola BOS?” tanya Pak Wahyudi, kepala sekolah SMA Turangga.
“Pak Haidar pasti mau Pah, kan kerjanya nanti bareng aku. Iya kan, Pak?” Tanya Bu Astri yang juga termasuk pengelola BOS, dia bahkan bertugas sebagai bendaharanya.
“Iya Pak, saya bersedia. Mohon bimbingannya karena saya masih baru disini dan tidak berpengalaman terkait pengelolaan keuangan, tapi saya akan berusaha sebaik mungkin.” Jawab Adrian.
“Tenang aja Pak Haidar, nanti aku bimbing sampe bisa. Pokoknya mudah lah.” Ucap Bu Astri.
“Iya, Pak Haidar bisa belajar bersama Bu Astri dan wakil saya. Hanya saja satu hal yang perlu Pak Haidar ingat, soal keuangan tak perlu guru-guru lain tau, cukup pengelola saja yang tau. Bisa dimengerti?” Pak Wahyudi kembali menegaskan.
“Siap, Pak. Kalo begitu saya permisi.” Pamit Adrian. Bel pulang sekolah sudah berbunyi lima belas menit yang lalu, ia khawatir Retha akan menunggu terlalu lama.
“Iya, silahkan. Pak Haidar bisa mulai mengerjakan tugas tambahannya senin besok yah sepulang sekolah.” Ucap Kepala sekolah.
“Siap, Pak.” Jawab Adrian kemudian kemudian berlalu meninggalkan ruangan.
Keadaan sekolah saat ia keluar sudah sepi. Ia lantas berjalan menuju kelas Retha memastikan apakah gadis itu masih ada disana? Tak ada sama sekali, hingga akhirnya Adrian pergi ke parkiran tapi hasilnya tetap nihil, Retha tak ada di sana.
Adrian semakin bingung harus menjawab apa saat Mamanya menelpon dan berkata sedang berada di rumah Retha serta meminta mereka untuk segera pulang. “Iya Ma, sebentar lagi pulang. Retha masih pengen jalan-jalan dulu. Nanti kita pulang bawain makanan Mama deh.” Adrian menutup telponnya setelah berbohong untuk kesekian kalinya. Definisi bohong demi kebaikan dari pada dirinya kena marah jika ketahuan saat ini menantu kesayangan mamanya entah berada dimana.
Adrian terdiam beberapa menit di dalam mobil, mencoba mencari cara untuk menemukan istri bawelnya hingga terlintas ide cemerlang untuk mendapatkan nomor ponsel gadis itu. Adrian menghubungi wali kelas Retha dan meminta dimasukan ke grup kelas karena ada beberapa hal yang harus ia umumkan. Sekedar basa-basi Adrian memberikan pengumuman singkat lantas mencari kontak Retha di sana. Tak sulit untuk mengetahui nomor mana yang merupakan kontak Retha karena nama kontaknya sangat mencolok, istrinya Kim Taehyung. Adrian ingat betul nama itu beberapa kali diucapkan Retha.
Adrian langsung menghubungi nomor tersebut, sekali coba langsung diangkat dan benar saja itu adalah kontak Retha. Namun naas setelah tau dirinya yang menelpon, langsung dimatikan begitu saja, bahkan chat nya saja hanya dibaca tanpa dibalas.
“Ampun dah ini bocil bikin repot aja!” Gerutunya.
.
.
.
Tinggalin jejak kalian gaes, besok kita lanjut lagi.
Lope lope buat kalian semua.