
Adrian dengan pasrah mengikuti Retha kesana kemari, berulang kali ia mengiyakan setiap pujian yang keluar dari gadis berbibir mungil itu, meskipun baginya seseorang di poster itu tak menarik sama sekali tapi puja puji manis adalah jalan paling ambuh untuk menjamin kesejahteraannya saat ini.
“Bang, abis ini kita kemana lagi?” Retha menggandeng erat tangan suaminya.
“Terserah kamu aja, maunya kemana?”
“Kemana yah? Kalo nongkrong di cafe sebelah sana boleh? Dulu aku sering duduk-duduk santai bareng Tanesha sama Rifki disana.” Retha menunjuk cafe yang dipenuhi remaja.
“Yakin bareng Tanesha sama Rifki? Nggak bareng si mantan ketos hm?”
“Rae? Aku mana pernah jalan sama dia Bang.” Jawab Retha.
“Masa sih? Kan pernah pacaran.”
“Iya pacaran tapi nggak pernah jalan. Kayak nggak tau aja papa Arka kayak gimana, ketahuan auto dinikahin.” Jawab Retha.
“Untung ketahuan pacarannya sama Abang yah.”
“Ya lumayan untunglah, walaupun aku jadinya nggak bisa nikah sama Kim Taehyung.” Jawab Retha.
“Pengen banget nikah sama Kim Kim itu? Kalo gitu Abang izinin deh sana nikah sama KimKim, palingan dia nya yang nggak mau sama kamu.” Ledek Adrian.
“Ngeselin ih Bang Ian.” Retha menginjak kaki suaminya hingga mengaduh.
“Sakit tau Yang!” keluh Adrian.
“Lebih sakit hati aku, Bang. Boro-boro Kim Taehyung mau nikah sama aku, dia mah aku ada di bawah langit yang sama juga belum tentu tau.”
“Sengaja biar kamu sadar, Yang. Nggak dikit-dikit dibandingin ke dia, padahal udah jelas nggak bisa digapai apalagi dimiliki.” Adrian semakin senang meledeknya.
“Bang Ian ih! Ngeselin! Nggak aku kasih jatah mantap-mantap nih ntar malem.” Ancamnya.
“Ya ampun Yang, ngeri amat ancamannya. Beli poster satu lagi yuk! Ntar Abang bantu pasangin juga deh di kamar.” Bujuknya.
“Tidak menerima bujuk rayu!” ketus Retha.
Tidak menerima bujuk rayu katanya, tapi kenyataan berbading terbalik. Saat ini Retha sedang tertawa riang sambal bersenandung kecil seraya melihat suaminya yang sedang sibuk memasang poster-poster baru yang mereka beli siang tadi.
“Geser ke kanan dikit Bang!” serunya mengarahkan. Adrian menuruti setiap permitaan Retha dengan sabar.
“Udah selesei Yang, sekarang tinggal nerima upah nih. Karena posternya ada lima jadi mainnya juga harus lima kali yah.” Ucap Adrian sambil mengedipkan matanya, menggoda.
“Perhitungan banget jadi suami, Bang. Jangan banyak-banyaklah besok kan harus sekolah.”
“Siap tuan putri, diusahakan.” Jawab Adrian.
“Janji nggak bablas deh Yang.” Adrian langsung menggendong Retha dan membawanya ke ranjang.
Pagi harinya seperti biasa Adrian sudah menyiapkan sarapan. Lelaki itu tampak segar meski bangun lebih dulu dari pada Retha.
“Pagi kesayangannya Abang…” sapanya pada gadis berseragam putih abu yang sedang berusaha mengenakan dasinya sambil berjalan ke meja makan.
"Sini biar Abang bantu.” Adrian meletakan nasi goreng buatannya ke meja dan beralih memakaikan Retha dasi.
“Udah cantik istri Abang. Obatnya udah diminum belum?” tanyanya.
“Udah dong. Kan kata Bang Ian harus rutin tiap hari. Aku udah pasang alarm dong dipakein label minum obat biar nggak lupa.” Jawab Retha.
“Sip. Pokoknya jangan sampe lupa supaya nggak hamil.” Balas Adrian seraya mengusap puncak kepala Retha.
“Siap, Bang.”
Empat hari berturut mereka selalu berolahraga setiap malam, meski siang harinya di sekolah Retha sering mengantuk tapi tak mengurungkan semangat mereka untuk mengulangi kenikmatan baru yang sama-sama menjadi candu untuk keduanya.
“Ret, Bu Lia udah dating, bangun.” Tanesha menggoyangkan bahu sahabatnya.
“Perasaan BTS nggak lagi ada project deh, lo gadang ngapain sih? Akhir-akhir ini mo lor mulu kerjaannya kalo jam terakhir.” Lanjutnya. Setahunya Retha hanya bergadang jika boyband kesayangannya itu comeback dengan lagu baru.
“Ada deh…”
“Apaan? Jangan main rahasia-rahasiaan. Ada drakor baru yang bagus kah sampe lo bela-belain gadang?”
“Pokoknya lebih bagus dari drakor, Nes.”
“Apaan sih?” tanya Tanesha.
“Ada deh…” jawab Retha sambil tersenyum mengingat moment menyenangkan yang tercipta tiap malam.
“Wah gila sih malah senyam senyum sendiri.” Cibir Tanesha.
Tak jauh beda dengan Retha yang sering ketiduran di kelas, Adrian bahkan lebih parah. Ia sampai mendapat omelan dari papa nya karena seminggu terakhir tak memberikan laporan kemajuan penyelidikannya di sekolah.
.
.
.
segini dulu, jangan lupa like, komen sama vote nya😘😘