Be My Wife

Be My Wife
RUMAH BARU



"Mulai hari ini, rumah kita. Deket dengan kantor gua." Ucap irham seraya duduk di sofa.


"Iya mas." Jawab elsa sambil meletakkan koper pakaian mereka. 'Aku perempuan tapi kenapa aku yang harus bawa koper? Kejam.' Gerutu elsa dalam hati.


"Di dalam rumah ini gak ada pembantu. Semua pekerjaan dirumah ini lo yang ngerjain.


Fisik lo lengkap jadi gunakan sebaik mungkin." Sambung irham. Elsa hanya mendengar.


"Dalem rumah ini lo bukan istri gua, tapi pembantu gua. Panggil gua tuan, Tapi kalo ada orang lain, panggil sayang, mas atau apa pun yang pantes." Sambung irham lagi.


'Pembantu?' Elsa coba menahan air mata nya yang mulai mengalir. Elsa terduduk lemas di sofa di sebelah irham.


"Lo tidur di kamar pembantu di belakang. Pakaian lo taro dikamar gua, ntar kalo mama sama papa sewaktu-waktu kesini dan tau lo tidur di kamar pembantu bisa berabe." Irham bicara tanpa menoleh ke arah elsa.


Karena tidak ada jawaban dari elsa irham menoleh elsa.


"Hei punya mulut gak sih lo?" Marah irham.


Elsa mengetap gigi menahan diri, mencoba bersabar dengan perlakuan suami nya.


"Paham tuan." Kata elsa pelang sambil menganggukan kepala nya.


"And one more thing, i have something special for you." Irham bangkit dari sofa dan mengambil sesuatu dari dalam koper nya.


"Nih ambil." Irham menyerahkan plastik kepada elsa dengan senyum menyeringai.


Elsa mengeluarkan isi plastik tersebut.


Mata elsa melotot melihat isi plastik tersebut.


"Apa aku harus makai baju ini?" Tanya elsa seakan dengan hadiah yang diberikan irham kepadanya. Baju yang diberi irham memang cantik, tapi baju itu adalah baju pembantu.


"Iya itu pakaian lo mulai hari ini, lo harus pake ini kalo lagi dirumah." Jawab irham santai seraya menyilangkan kaki di atas sofa.


"Sekarang ambilin gua air minum." Perintah irham. Elsa dipaksa untuk beranjak dari sofa.


"With three ice cube please." Sambung irham.


Elsa hanya bisa menggerutu dalam hati seraya berlalu ke arah dapur.


"Dan jangan lupa pake seragam lo." Irham sengaja menambah sakit hati elsa. Dia ingin elsa menyesal karena dulu pernah menggagalkan usaha nya untuk bunuh diri.


Irham beranggapan kalau elsa tidak menyelamatkan nya dulu dia tidak akan pernah merasa menderita karena kepergian bella yang tanpa sebab.


Elsa menarik nafas mencoba bersabar, selama emosinya bisa ditahan dia akan mencoba bersabar.


Elsa masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaian nya dengan baju yang diberikan irham.


Elsa lalu bergegas ke dapur menyiapkan minuman irham, elsa membawa minuman irham di nampan.


"Silahkan diminum tuan." Elsa meletakkan minuman irham di meja. Irham membulat mata melihat penampilan elsa mengenakan baju yang baru diberikan nya.


'Cantik.' Gumam irham dalam hati


"Ada lagi tuan?" Elsa memberi penekanan pada kata tuan. Irham masih merenung elsa dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


Elsa yang menyadari irham masih lekat menatapnya mulai merasa gugup.


"Tuan?" Elsa melambaikan tangan nya di depan wajah irham membuyarkan lamunan irham.


"Ekhem. Siapkan makan siang untuk ku." Irham lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya.


Elsa menghela nafas pelan lalu beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan siang.


Selesai irham membersihkan diri hp irham berdering menandakan adanya panggilan masuk.


"Hallo. Kenapa?" Sigap irham


"Hahahaha. It's not what you're thingking. Lo lagi pada dimana ntar gua nyusul." Elak irham pada sahabatnya.


"Gua lagi di tempat biasa, lu kesini aja. Gua tunggu." Timpal randi. Irham lalu memutuskan sambungan telfon dan bergegas keluar dari kamar.


"Gua mau keluar dulu." Gesa irham


Elsa yang sedang memasak di dapur bergegas mengejar irham yang telah berlari menuju pintu utama dan hendak keluar.


"Tapi..." Elsa coba mengejar irham yang hendak keluar rumah


"Gak ada tapi-tapi. Gua mau keluar dulu dan jangan tunggu gua balik. Mungkin gua balik malem atau bahkan gak balik." Ucap irham lalu bergegas keluar rumah dan mengemudikan mobilnya menjauh dari rumah.


Elsa hanya menatap kepergian irham.


Elsa gimana nasibmu sekarang? Apa hanya karena menyelamatkan orang yang ingin bunuh diri nasibmu jadi seperti ini? Ini gak adil. Tapi aku juga telah menerima nya sebagai suami ku, sesakit apa pun kedepan nya aku harus menerima nya.


Tapi sampai kapan elsa? Sampai kapan?


Mana ada perempuan yang mau tinggal satu rumah dengan laki-laki yang tidak berperasaan?


Memang sifat manusia yang bergelar perempuan itu hatinya akan luluh apabila dihargai, dijagai dan disayangi. Sekeras apapun usahanya untuk menolak rasa cinta akan tumbuh dengan sendirinya dari hari ke hari. Mungkin sekarang dia bukan siapa-siapa bagimu, tapi bukan tak mungkin dia akan jadi seseorang yang berharga bagimu.


Dia akan mendapat tempat spesial dihatimu.


Elsa memejamkan matanya, ya allah kuatkan aku dalam menghadapi semua ini ini adalah ujian Mu untuk menguji kesabaran ku. fikiran dan hati elsa berperang, elsa merasa keputusan yang dia ambil untuk menikahi irham adalah pilihan terbaik nya, namun fikiran nya berkata lain. Fikiran elsa menikah dengan irham hanya akan dijadikan budak irham yang tidak akan pernah dihargai irham.


Elsa kembali kedapur mengerjakan kembali pekerjaan nya yang tadi sempat tertunda.


"Ini gak seperti yang lo bayangin. Gua nikah ama dia cuma karena harta papa gua. Papa akan ngasih seluruh hartanya sama gua kalo gua mau nikah sama gadis itu." Jelas irham pada randi sahabat nya.


"Gila lo. Bisa-bisanya lo nikahin anak orang cuma demi harta!!" Randi seakan tidak percaya dengan apa yang baru dia dengar.


"Gua gak ada pilihan laen. Kalo gua gak nikah ama tub cewek, papa gua bakal ngasih semua hartanya ke panti asuhan." Jawab irham santai sementara randi yang mendengarnya tidak habis fikir dengan apa yang dilakukan papa nya irham.


"Terus bella gimana?" Pancing randi asal. Irham yang mendengar randi menyebut nama bella lantas menoleh ke arah randi.


"Bella? Maksud lo?" Tanya irham kepada randi sahabatnya.


'Aduh, keceplosan lagi.' Randi menggerutu dalam hati.


"Jawab gua." Gesa irham


"Iya iya. Jadi sebelum bella pergi dia sempet bilang sama gua kalo sebenernya dia pergi itu karena belom siap lo ajak nikah. Itu makanya dia dulu pergi karena menurut dia kalo udah nikah dia gak bisa bebas lagi makanya dia pergi. Dia pengen bebas di masa remaja nya." Terang randi pada irham


Irham yang mendengar jawaban randi mengetap gigi nya menahan amarah yang kini mulai mengusai dirinya.


"Kenapa lo gak bilang tentang hal ini dari dulu?" Irham coba mengendalikan dirinya. Dia tidak ingin membuat keributan di tempat ini.


"Gimana gua mau bilang, tiap gua singgung soal bella lo langsung cabut gitu aja. Lagian bella juga pernah bilang kalo dia gak mau lo tau alesan dia pergi." Elak randi. Melihat perubahan pada wajah irham randi jadi merasa bersalah.


"Bella sekarang udah balik ke indo dan dia juga udah denger kabar kalo lo udah nikah."


Randi tidak ingin menutupi lagi tentang bella


"Dimana dia sekarang." Irham sudah tidak bisa menahan untuk tidak bertanya pada randi.


"Ini nomor hp nya. Gua harap apapun keputusan lo itu yang terbaik buat semua orang. Bukan cuma buat lo." Randi mengingatkan sahabatnya.


Terima kasih sudah mau membaca novel saya.


Jangan lupa baca juga DENDAM CINTA novel kedua saya


Terima kasih