
Baru bangun tidur Retha sudah tidak dalam mood yang baik. Ia melempar ponselnya ke Kasur setelah mencoba menghubungi Adrian namun tak aktif. Semalam setelah puas menangis, ia beranjak mengambil ponsel yang sebelumnya ia buang dan menelpon Adrian dengan niat akan mencerahami suaminya habis-habisan namun sayang hanya terbuhung tanpa jawaban sama sekali. Bahkan pagi ini lebih parah, nomornya sudah tak aktif sementara bu Astri makin menggila memposting foto Adrian yang sedang sarapan.
“Awas aja ntar Bang Ian kalo pulang!” gerutunya yang kemudian berlalu ke kamar mandi untuk bersiap-siap sekolah.
Selesai mengenakan seragam Retha kini mengikat dasinya. Ia menghembuskan nafas kasar, bahkan saat mengikat dasi saja ia mengingat Adrian, lelaki yang biasa memakaikan dirinya dasi sebelum sarapan.
“Ah bodo amat susah banget dah ini dasi! Nggak Cuma Bang Ian, dasi aja pagi-pagi udah ngajak perang!” ucapnya seraya mengambil tas dan membiarkan dasinya belum terpasang rapi.
“Pagi tunangannya Pak Haidar.” Sapa Tanesha dan Rifki kompak. Dua sahabatnya itu sudah duduk di meja makan Bersama Arka, Sakha dan mama Freya yang sibuk mengambilkan sarapan untuk mereka. Semenjak ikut video call kemarin dan Adrian menitipkan Retha dengan iming-iming akan ditelaktir setelah dia selesai tugas membuat Rifki dan Tanesha makin semangat menjaga Retha. Selain karena telaktiran, mereka juga berharap nilai pelajaran olahraganya akan bagus, apalagi Tanesha yang hanya bisa olahraga renang dan lari saja.
“Tumben kalian berdua kesini? Nebeng sarapan yah?” ledek Retha.
“Dalam rangka mengawal tunangan bapak Haidar dong, Ret. Biar nilai olahraganya bagus.” Jawab Tanesha.
“Kalo gue Cuma ikut-ikutan, dipaksa Tanesha.” Sambung Rifki.
“Udah nanti disambung lagi ngobrolnya, sekarang sarapan dulu.” Sela mama Freya. “Itu dasi kamu yang rapi sayang, benerin.” Lanjutnya pada Retha.
“Males, Ma. Dasinya ngeselin ngajak ribut.”
“Mana ada dasi ngajak ribut, aneh-aneh aja kamu tuh.” Ucap Freya seraya mengisi piring Retha.
Selesai sarapan Rifki dan Tanesha keluar lebih dulu, “kita tunggu di depan yah.” Ucap Tanesha yang kemdian menyalami Arka dan Freya sebelum pergi.
“Jangan lama, Ret. Ntar gue mesti jemput ayang beb dulu.” Sambung Rifki.
Melihat Retha yang hanya mengaduk-ngaduk makanan tanpa memakannya dari tadi membuat Arka berpindah duduk di samping putrinya. “Mau papa suapin apa gimana? Dari tadi Cuma diaduk-aduk aja.”
Retha hanya menghela nafas dalam, “males Pa. nggak laper.” Jawabnya seraya meletakan sendok.
“Ngomong sama Papa, kamu kenapa?” tanya Arka.
“Iya bener, nggak biasanya anak mama sarapannya dikit. Apa masakan mama nggak seenak masakan suami kamu?” sambung Freya, “tapi kemaren kamu sarapannya abis.” Lanjutnya.
“Bukan, Ma. Masakan mama paling enak kok.” Jawab Retha.
“Lagi kesel aja, Pa. Bang Ian dari semalem nggak bisa dihubungin, ditelpon nggak diangkat, eh barusan bangun tidur aku coba telpon lagi malah nggak aktif.” Lanjutnya pada Arka.
“Mungkin Adrian sibuk jadi nggak sempat angkat telpon kamu, atau HP nya lowbat makanya sekarang nggak aktif. Sekarang kamu sekolah aja, nanti juga dia pasti telpon. Papa aja kadang lupa ngabarin mama kalo kerjaan lagi urgent banget.” Arka berusaha menenangkan putrinya.
“Gitu yah, Pa? tapi…” Retha menahan ucapanya, ingin mengadu perihal foto yang diupload bu Astri tapi rasanya akan lebih cocok kalo dia mengadu langsung pada mama Mei saja supaya suaminya langsung mendapat hukuman dari sang ibu.
“Tapi apa?”
“Nggak apa-apa, Pa. Aku sekolah dulu deh.” Pamit Retha.
Baru saja keluar dari rumah Tanesha yang duduk di kursi belakang sudah berteriak supaya Retha cepat masuk.
“Gue lah, cepetan masuk. Udah telat nih, kasian bebeb gue nunggu lama.” Seru Rifki dari depan seraya membuka pintu dari dalam.
“Pantesan nggak ada motor lo.” Jawab Retha.
“Noh temen lo noh yang maksa kita berangkat bareng-bareng, padahal tadinya gue udah janji mau jemput Nina. Malah jadi supir dadakan.” Ucap Rifki.
Rifki langsung melajukan mobil Tanesha ke rumah Nina. “Lo berdua nggak usah ikut tunggu disini aja, gue mau nemuin calon mertua dulu.” Seru Rifki setelah sampai di rumah Nina.
Gadis imut itu keluar dari rumah sambil mengandeng tangan Rifki, “Kirain kita mau naik motor Beb. Mobil kamu samaan kayak punya Kak Nesha, Beb.” Ucap Nina.
Rifki hanya tersenyum kemudian menahan tangan Nina yang hendak membuka pintu depan, “lo dibelakang sama Tanesha, Beb. Di depan ada Retha, dia suka mabok kalo duduk di belakang.”
“Hai ayangnya Rifki…” seru Tanesha begitu Rifki membukakan pintu untuk Nina.
“Na, sorry yah gue di depan. Kalo di belakang suka mabok.” Sambung Retha.
“Iya nggak apa-apa Kak.” Jawab Nina seraya duduk di samping Tanesha. Ia berusaha bersikap biasa saja meskipun sudah untuk kesekian kalianya Rifki selalu mengutamakan Retha. Ia sudah senang sekali akan berangkat berdua saja untuk pertama kalinya eh malah duo cewek yang selalu ada di sekitar pacarnya ikut juga.
Sampai di sekolah Retha dan Tanesha langsung menuju kelas sementara Rifki mengantar pacarnya lebih dulu ke kelas sepuluh.
“Nanti kita ketemu istirahat kedua yah, Beb. Istirahat pertama gue nemenin Retha.”
“Kak Rifki… Kakak kenapa selalu ngutamain Kak Retha terus sih? Pacar Kakak tuh gue apa Retha?”
“Lo lah, Nina. Lo kenapa sih? Udah masuk kelas sana.” Ucap Rifki yang langsung berlalu pergi tanpa menunggu jawaban Nina karena bel masuk sudah berbunyi.
Sepanjang hari di sekolah Retha sama sekali tak semangat, meskipun sudah mencoba berpikir positif seperti yang disarankan Papa Arka tetap saja ia panas melihat postingan foto-foto suaminya di IG bu Astri.
“Udah sih nggak usah dipantengin terus itu medsos bu Astri. Makan dulu nih, tadi pagi lo sarapan Cuma diaduk-aduk terus di sekolah juga nggak makan.” Rifki mengambil kentang goreng dan berusaha menyuapkannya pada Retha. mereka sedang nongkrong di sebuah cafe. Awalnya Rifki hanya ingin pergi Bersama Nina tapi melihat Retha yang tak bersemangat membuatnya mengajak serta Retha.
“Apaan sih.” Retha menepis tangan Rifki, “bisa-bisanya di depan Nina lo mau nyuapin gue.” Lanjutnya seraya menabok tangan Rifki.
“Kasih hukuman nih cowok lo, Na.” lanjutnya pada Nina.
“Gue duluan deh.” Pamitnya.
“Mau kemana gue anterin?” Rifki masih saja mengejarnya.
“Nyusulin Pak Haidar, lo mau ikut?” tanya Retha. “Mau pulang lah.” Lanjutnya menjawab sendiri.
“Nggak usah khawatir, gue nggak apa-apa. Lo temenin Nina aja, bisa-bisanya di depan Nina lo malah merhatiin gue. Nggak mikir apa gimana sakit atinya dia? Kalo gue jadi Nina udah gue bejek-bejek deh lo, Ki.” Ucap Retha sebelum pergi. Ia tau betul bagaimana perasaan gadis itu, meskipun di depan terlihat biasa saja masalah hati siapa yang tau?
Sepanjang perjalan ia terus kepikiran Adrian, “Wah nggak bisa nih gue tekanan batin kayak gini. Apa gue susulin beneran aja yah?”