Be My Wife

Be My Wife
Saling tolong



“Lo mau tinggal di apartemen apa rumah aja? Biar gue kontak temen langsung supaya di urus, ntar kita kesana tinggal pilih-pilih beres deh.”


“Terserah Bang Ian aja mau rumah atau apartemen gue nggak masalah, yang penting suami gue di bawa.” Jawab Retha yang sibuk mencopot poster-posternya dari dinding dan menggulungnya dengan sangat hati-hati.


Adrian hanya mencibir tanpa suara di tempat duduknya, bisa-bisanya ia menikahi bocah yang tak menganggapnya sebagai suami malah mengakui gambar-gambar tak bernyawa itu sebagai suaminya.


“Butuh bantuan nggak? Biar cepet.” Tak sabar melihat Retha membereskan barang-barang unfaedah itu begitu lama membuatnya geram.


“Kayak gini doang lama amat! Gambar kagak usah lo ajak ngomong, kagak bakal ngejawab.” Cibirnya, gemas sendiri dia melihat Retha yang ngoceh segala puji pada setiap foto yang ia ambil.


“Nih tinggal cabut-cabut beres deh!” Adrian mengambil kasar poto card yang di gantung dengan jepitan baju mini. Entah apa namanya yang jelas benda itu mirip jepitan baju.


“Pelan-pelan dong Bang! Ntar rusak fotonya. Bang Ian duduk aja sana, foto mahal nih.” Ucapnya sambil mengelus foto yang dilempar asal oleh Adrian ke dalam kotak.


“Emang semahal apa? Goceng?” Tebak Adrian.


“Nol nya tambahin dua lagi. Yang jutaan juga ada, ini tuh susah dapatnya Bang. Udah Bang Ian duduk aja nggak usah banyak komen jadi makin lama beres-beresnya.”


“Kayak gitu doang sampe jutaan?”


“Iya Bang, limited tau.”


“Mau aja dibohongin kang foto lo. Tinggal lo beli kertas foto deh ntar gue cetakin yang banyak. Nggak usah beli! Buang-buang uang doang.”


“Nggak gitu konsepnya Bang Ian!”


Setelah selesai membereskan barang-barang yang akan di bawa, keduanya keluar kamar dengan membawa koper. Hanya dua buah koper berisi berang-barang urgent saja, sisanya akan dibawa kemudian hari.


“Wah pengatin baru bener-bener mau pindahan nih?” Tanya Shaka.


“Brisik! So nanya-nanya padahal lo seneng kan gue cabut dari rumah.” Ucap Retha.


“Kalian beneran mau tinggal sendiri? Barang-barangnya nggak usah di bawa dulu, nanti saja kalo sudah dapat rumah. Nanti Mama sama Papa ikut nganterin kalian pindahan.” Ucap Freya. Saat sarapan tadi mereka memang sudah membicarakan perihal pindah rumah. Awalnya Freya tentu menentang keputusan yang diambil keduanya mengingat Retha yang belum bisa mengurus rumah, jangankan mengurus rumah, mengurus dirinya sendiri saja kadang masih kerepotan. Membawa air minum ke kamarnya saja sering lupa kalo bukan Freya yang menyiapkan. Namun akhirnya ia memberi izin dengan syarat mereka harus sering-sering main ke rumah, atau dirinya yang akan sering berkunjung.


“Bawa sekalian aja Ma, biar nggak bolak-balik. Lagian rumahnya udah dapat kok, temen Bang Ian yang nyariin. Iya kan Bang?”


“Iya.” Jawab Adrian.


“Nanti kalo Retha udah dapat pilihan yang pas, Retha kabarin mama deh supaya mama bisa main ke rumah kita.” Ucap Retha.


“Iya. Baik-baik sama suami kamu. Kalo kamu butuh apa-apa atau perlu bantuan tinggal telpon Mama atau Papa.”


“Iya siap, Ma.” Jawab Retha.


“Telpon gue juga, Karet.” Sambung Shaka.


“Males lah.” Jawab Retha namun sikapnya bertentangan dengan yang ia ucapkan, karena saat ini dirinya tengah memeluk Shaka dengan menahan tangis. “Lo kalo ada apa-apa kasih tau gue.” Ucapnya lirih. Meski sering terlibat adu mulut dan saling ejek tapi keduanya begitu perhatian dengan caranya masing-masing.


Retha memeluk mamanya lama sebelum masuk ke mobil, hal yang sama juga ia lakukan pada Arka. “Retha berangkat yah. Mama jangan nangis lah kayak aku mau pergi jauh aja.”


Freya tak berucap apa-apa, wanita itu hanya memeluk erat putrinya sekali lagi.


“Siap Pa.”


Retha berdadah ria sampai ia mobil yang dikendarai suaminya menjauh dari rumah. “Kenapa tadi gue jadi pengen mewek yah, Bang?”


“Mana gue tau.”


“Rasanya kayak yang mau pergi jauh aja, padahal tiap hari ke rumah Mama kan juga bisa. Aneh deh...”


“Mungkin karena lo nggak pernah jauh dari orang tua.”


“Gitu yah? Kalo Bang Ian sedih nggak mau pisah rumah sama Mama Mei?”


“Nggak, biasa aja. Lagian gue udah biasa tinggal sendiri.”


“Oh gitu.”


Sampai di tempat yang mereka tuju, Adrian meminta Retha untuk turun dan memastikan apa ia suka dengan pilihannya. Menurut Adrian apartemen yang akan mereka tempati sangat strategis. “gimana menurut lo?”


“Nggak masalah, keliatannya nyaman. Tapi kita lihat ke dalam dulu Bang.”


“Oke.” Keduanya lantas masuk.


Retha cukup suka dengan unit apartemen pilihan Adrian, tak terlalu luas dan sesuai keinginannya ada dua kamar.


“Bang, gue mau kamar yang ini boleh?” Retha memilih kamar utama.


“Ya, boleh. Kalo gitu gue kamar yang satunya.” Mengalah Adrian akan menempati kamar tamu yang lebih kecil dibanding kamar utama.


Seharian itu mereka habiskan untuk membereskan hunian. Meski keadaan apartemen yang lengkap dengan furniturnya itu sudah rapi, tapi menempelkan barang-barang unfaedah milik Retha lumayan menyita waktu. Ditambah lagi keinginan Retha untuk mengantur ulang barang-barang di dalam sana juga membuat Adrian lelah geser-geser barang kesana kemari.


“Udah sip, Bang. Kalo kayak gini kan nyaman, pas lah.” Ucap Retha seraya duduk di sofa yang baru saja digeser oleh Adrian.


“Gimana nggak pas dari tadi gue gasar geser puluhan kali. Cape, gue mau tidur yah. Lo cape juga kan?”


“Iya cape banget Bang.” Jawab Retha, padahal dia hanya memberikan istruksi saja sejak tadi. Kecuali menata stok makanan mereka ke dalam lemari es, itu pun acak-acakan. “Gue juga mau bobo cepet lah. Berasa remek ini badan.” Imbuhnya seraya melangkah ke kamarnya.


“Loh Bang Ian kok kesini? Kamar Abang kan di sebelah.” Ucap Retha saat Adrian merebahkan diri di sampingnya.


“Kamar gue belum diberesin. Nggak ada guling juga disana, jadi gue tidur disini aja.” Ucapnya seraya memeluk Retha.


“Modus nih Bang Ian.”


“Bukan modus, Retha. Ini namanya saling tolong, lo kan juga nggak ada guling jadi mending peluk gue aja kayak semalem. Dari pada lo nggak bisa tidur, mau?”


“Sekarang tidur bareng aja dulu kayak gini, besok kita beli guling biar bisa tidur di kamar masing-masing.”


“Iya deh.”


“Good, anak pinter.” Puji Adrian seraya mengelus kepala Retha, “gue seneng nih kalo lo nurut gini, manis.”