
“Gara-gara lo, gue jadi dijemur gini!” gerutu Windi. Dua gadis itu berdiri di depan tiang bendera dengan posisi tangan hormat. Keduanya jadi tontonan gratis di tengah terik matahari siang itu.
Retha hanya melirik pada Windi yang berdiri tepat di sampingnya, no coment. Rasanya malas sekali menangapi ocehan gadis itu. Kini ia sedikit menyesal telah terpancing emosi yang membuat dirinya menjalani proses pembuatan ikan asin, dijemur.
Ditambah lagi pemandangan tak menyenangkan saat dirinya melewati ruang guru kala mengikuti Pak Samsul ke ruang BK, Adrian sedang tertawa renyah dengan Bu Astri. Bahkan saat tau dirinya rebut dan dihukum hormat bendera saja lelaki itu tampak tak peduli, membuat kasak kusuk kebenaran akan ucapan Windi di kelas tadi makin mencuat. Para siswi seolah merdeka karena mengira hubungan Retha dan guru idaman mereka sudah berakhir.
Hukuman keduanya baru berakhir bersamaan dengan nyaringnya bel sekolah diiringi salah satu lagu wajib nasional setelahhnya. Retha langsung berjalan ke tepi lapang, menghampiri Tanesha dan Rifki yang sudah menunggu dirinya dengan tas milik Retha yang tak lupa mereka bawakan.
“Gila Berasa jadi ikan asin gue!” gerutu Retha. Ia lantas duduk di tepi lapang dengan kaki yang diluruskan, ia memijit pelan kakinya yang terasa pegal. “berasa mau copoti ini kaki.”
“Segala kerasa lo, Ra. Udah kayak nenek-nenek aja!” ledek Rifki, “sini biar gue pijitin! Lagian ngapain sih si Windi lo layanin!”
“Tau tuh! Mana gue kena jambak juga.” Timpal Tanesha yang kini ikut duduk di samping Retha. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Retha. “geger otak nih gue, Ret.”
“Ah lebay.” Retha mengedikkan bahunya. “Satu lagi Rif, enak banget dah. Kayaknya lo bakat deh jadi tukang pijit.” Retha menunjuk kakinya yang satu lagi.
“Siap laksanakan tuan putri.” Jawab Rifki.
“Sekalian sama kaki gue juga, Rif.” Tanesha ikut-ikutkan meluruskan kakinya.
“Males!” tolak Rifki.
“Pilih-pilih lo jadi temen nggak adil.” Cibir Tanesha.
“Kak Rifki…” Rifki seketika menengok ke belakang. Nina si adik kelas dating dengan air mineral di tangannya. Gadis itu menghampiri mereka dan memberikan air itu pada Retha.
“Diminum kak, pasti haus banget dari tadi hormat bendera.” Ucap Nina.
Retha menerima air mineral itu kemudian meneguknya, “makasih yah. Peka banget Nina nggak kayak cowoknya nih nggak peka.”
“Lah ini gue kurang peka gimana, Ret? Gue pijitin gini kok.” Protes Rifki. “btw makasih beb udah bawain air buat Retha.” Lanjutnya pada Nina.
“Sama-sama, Kak. Temen kak Rifki juga temen aku, jadi udah sewajarnya aku juga baik sama Kak Retha. Jawab Nina.
“Uh jadi makin lope-lope gue sama lo, beb.” Nina langsung blushing malu-malu mendengarnya.
“Gue pengen muntah dengernya.” Ejek Tanesha.
“Sorry aja iri sama lo, Rif. Gue juga punya kali cemceman yang lebih lebih dah. Abis ini gue mau jalan sama dia.” Jawab Tanesha.
“Kalo lo mau jalan terus Retha pulang sama siapa?” tanya Rifki.
“Beb, gimana kalo lo pulang naik taksi aja? Gue mau nganterin Retha.” Lanjutnya pada Nina. Gadis itu hanya terdiam, bingung harus menjawab apa. Mau setuju rasanya menyakitkan secara dia pacarnya tapi Retha yang selalu lebih utama. Jika tidak setuju takut juga Rifki akan menjauh secara dari awal jadian Rifki sudah memberitahu jika dia menyayangi Retha, dan salah dirinya sendiri karena berani mencintai laki-laki yang jelas-jelas hatinya masih milik perempuan lain.
“Hm gimana yah Kak….” Pada akhirnya ia hanya bergumam.
“Gue di jemput Daddy Ardi, udah pada jalan aja sana kalian.” Sela Retha, berbohong.
“Beneran?” tanya Rifki dan Retha mengangguk. “Ya udah gue duluan.” Pamit RIfki yang kemudian berlalu dengan Nina.
“Beneran di jemput Daddy Ardi, Ret?” tanya Tanesha.
“Iya.”
“Sorry yah hari ini nggak bisa nganterin lo, abis gue udah ada janji duluan sama orang. Lagian biasanya lo kan bareng Pak Haidar terus.” Tanesha merasa tak enak hati. “Apa jangan-jangan yang diomongin Windi tadi beneran yah? Lo sama Pak Haidar End?”
“Kagaklah, gue kan istrinya.” Retha tergelak sendiri.
“Masih aja error lo, padahal udah liat Pak Haidar sama Bu Astri terus.” Ucap Tanesha. “gue harap kedepannya lo lebih tenang, Ret. Jangan emosian, dikit-dikit ribut. Kan baru minggu lalu lo ribut sama Windi eh sekarang ribut lagi.”
“Abis ngeselin, Nes. Itu bibir minta di sol biar nggak lemes!”
“Udah tau tuh anak lemes banget malah lo yalanin. Padahal biarin aja ntar juga kena karma.” Ucap Tanesha.
“Nungguin hukum karma dari Tuhan kelamaan, makanya gue turun tangan sendiri. Lumayan puas ngejambak itu anak, kalo bisa pengen gue Tarik sampe rontok rambutnya.” Retha tersenyum puas.
“Sadis banget dah gue jadi takut.” Ucap Tanesha penuh dramatisir. “gue duluan yah.” Pamitnya.
Retha mengacungkan jempol membalas ucapan Tanesha. Ia belum ingin pulang, rasa lelahnya setelah dijemur dua jam masih terasa. Retha memilih bersantai sejenak di tepi lapang hingga kehadiran Rae yang tiba-tiba duduk di sampingnya membuat dirinya sedikit terusik. Namun anehnya lelaki itu kali ini tak berucap apa pun. Rae hanya duduk diam sambil menatapnya sesekali dengan senyuman meneduhkan. Senyuman yang dulu selalu membuat Retha ikut tersenyum setiap kali melihatnya. Retha mengabaikannya dan menganggap Rae tak ada, dia memilih mengeluarkan ponsel dan memainkannya.
Sementara itu Adrian yang sedari tadi mengamati Retha dari ruang guru hampir saja melempar ponselnya. Tadi saja ia sudah ketar ketir melihat Rifki memijat kaki Retha dan sialnya gadis itu terlihat sangat menikmati. Kini Ia benar-benar kesal setengah mam pus, si kesayangan tak membalas pesan padahal sedari tadi memegang ponsel, malah duduk santai dengan mantan ketua OSIS.