
...~Happy Reading~...
Lima tahun kemudian ....
“Takaaaa sini gak!” suara Claudia begitu melengking dan menggelegar memenuhi setiap sudut ruangan di rumah yang tidak kecil itu.
“Gak mau! Taka mau sama Oma!” balas anak berumur hampir enam tahun itu yang bersembunyi di dalam kamar dan mengunci nya.
Claudia ... Rasanya ia benar benar pusing menghadapi anak semata wayang nya itu. Setiap hari, selalu memiliki banyak cara untuk membuat tekanan darah nya naik drastis.
Beberapa hari yang lalu, Taka menghancurkan beberapa alat make up Claudia, yang membuat ibu satu anak itu menangis dan marah kepada seluruh isi rumah, termasuk suami nya.
Dan sekarang, ia kembali di buat kesal, lantaran anak nya itu mengambil ponsel nya dan di bawa kabur hanya karena ingin menelfon oma nya. Padahal, Claudia sudah mengatakan bahwa nanti akan di telfon kan, dirinya mash sedikit sibuk dengan tugas kuliah nya yang sedikit lagi hampir selesai.
Bagai pinang di belah dua, wajah Taka memang mirip dengan sang ayah, namun dari segi sifat dan perilaku, Taka mewarisi sikap sang ibu yang sangat begitulah.
“Iya nanti Mamim telfon Oma, siniin dulu HP nya!” kata Claudia masih berusaha mengetuk pintu kamar nya.
Sementara itu, di dalam kamar nya, Taka masih berusaha menghubungi oma nya. Namun sial karena nomor itu tidak bisa terhubung. Bukan hanya Oma, namun juga Opa bahkan sampai om Clayton dan tante Shiena juga ia hubungi, namun tidak ada yang menjawab.
Tentu saja tidak ada yang menjawab, lantaran mereka sedang pergi berlibur bersama, dan mungkin saat ini mereka sedang berada di dalam pesawat, maka dari itu Taka tidak bisa menghubungi nya.
Cklek!
Anak laki laki yang masih duduk di bangku TK itu membuka pintu nya dengan wajah yang di tekuk seperti kain yang tidak di setrika ber abad abad, sangat lusuh. Sedangkan Claudia, wanita itu justru tengah berusaha menahan tawa nya saat melihat anak nya hampir menangis. (Emang ibu lucknat)
“Mau nangis gak?” tanya Claudia menahan tawa nya sambil berjongkok untuk menyamakan tinggi dengan Taka.
“Mereka kemana?” tanya Taka yang masih berusaha menahan tangis nya.
“Kenapa Taka gak di ajak?” tanya anak itu lagi dan kini nafas nya sudah naik turun seolah bendungan di pelupuk matanya tidak bisa di bendung lagi.
“Ya kan Mamim sama Papip gak ikut, jadi kamu gak di ajak! Papi kamu kerja, sibuk terus setiap hari. Mami juga lagi sibuk ngurus skripsi, lagipula kamu juga sudah sekolah Taka, jadi—“
“Mamim jahatttt!” pekik Taka tiba tiba berteriak sambil menangis begitu kencang. Bahkan, Taka sampai mendorong tubuh mama nya sampai hampir terjungkal ke belakang karena posisi Claudia yang hanya duduk berjongkok tanpa berpegangan apapun.
Brukk!
“Aduhhh!” Claudia memekik tertahan, ia menarik napas nya dengan cukup panjang.
Untung anak nya, mungkin kalau anak orang, sudah akan ia lempar sejauh mungkin, batin Claudia.
“Nanti kita jalan jalan sendiri sama Papip, kalau Papip kamu sudah libur. Oke!” kata Claudia sambil berusaha bangkit.
“Gak mau! Taka mau sama Oma, gak mau sama Mami!”
“Ya udah kalau mau ikut Oma kamu, sana ikut sana. Susul sana, terbang sekalian kalau bisa, paling mereka belum jauh, baru terbang se jaman, sana susul!” ucap Claudia yang semakin tidak jelas.
Bagaimana tidak, di saat anak nya menangis dan merajuk, Claudia bukan membujuk nya, justru malah ikut merajuk dan marah hingga membuat anak nya semakin menangis kencang.
“Taka, kok perut Mamim sakit ya?” gumam Claudia tiba tiba sambil memegang perut nya.
“Susul papip aja ke rumah sakit sana. Rumah sakitnya juga gak jauh!” balas Taka ikut memperagakan gaya sang ibu lalu ia kembali masuk ke dalam kamar nya dan membanting pintu.
‘Lah dia marah beneran?’ gumam Claudia dengan wajah tanpa dosa, ‘Biarlah, nanti juga diem sendiri. Ssttt ini kenapa lagi pakai mules di saat yang tidak tepat!’ imbuh Claudia seraya bangkit dan segera pergi ke kamar nya.