
...~Happy Reading~...
Kiano baru saja menyelesaikan pekerjaan nya. Hampir enam jam berada di ruang operasi, membuat nya merasa sedikit lelah. Memasuki ruangan pribadi nya, ia langsung meregangkan otot otot tangan dan kepala nya.
Tok ... tok ... tok ...
“Masuk!” jawab Kiano tanpa membalik badan, baru setelah ia mendengar suara pintu terbuka ia membalik badan nya.
Deg!
Seketika itu juga, tubuh nya langsung mematung, terdiam menatap seseorang yang berdiri di ambang pintu ruangan nya. Seseorang yang sudah cukup lama tidak ia temui, mungkin lebih tepat nya ia hindari.
Sejak kejadian beberapa bulan yang lalu di Bali, ia sama sekali tidak pernah lagi menghubungi gadis tersebut.
“H—hay No, apa kabar?” tanya gadis itu sedikit melambaikan tangan nya dengan canggung.
“Fayya, kenapa kamu—“
“Apakah aku mengganggu?” tanya Fayya dengan begitu lembut.
Seperti biasa, gadis itu selalu menatap ke sembarang arah untuk menghindari tatapan mata Kiano. Menggigit bibir bawah nya saat merasakan gugup, sambil meremas benda yang ia pegang.
Kiano hampir tidak bisa mengeluarkan suara, ia hanya bisa menganggukkan kepala nya pelan, “Duduk lah,” ujar Kiano berusaha bersikap biasa.
“Terimakasih,” Fayya tersenyum dan menganggukkan kepala nya, lalu mendekat menuju sebuah sofa yang di tunjuk oleh Kiano.
Cukup lama keduanya terdiam dengan pikiran masing masing. Hingga setelah hampir sepuluh menit akhirnya keduanya mulai membuka suara.
Rindu, mungkin rasa itu masih ada di hati keduanya. Tidak mungkin hilang begitu saja, hanya dalam hitungan bulan. Sedangkan mereka mulai merajut perasaan itu sejak masih kuliah, sudah bertahun tahun lama nya.
“Lady, first,” ujar Kiano mempersilahkan.
“Aku hanya ingin mengapa mu saja,” ucap Fayya lalu ia menghela napas nya berat, “Bagaimana kabar kamu?” tanya Fayya lagi, karena sapaan nya yang pertama tidak di jawab oleh Kiano.
“Baik, bagaimana dengan mu?” kata Kiano balik bertanya.
“Hemmm kurang baik, tapi harus selalu baik,” jawab Fayya tersenyum getir, membuat Kiano yang semua menundukkan kepala nya langsung mendongak dan kembali menatap wajah Fayya.
“Ah iya, sebenarnya tujuan ku datang kemari bukan untuk menemui kamu. Tapi aku mau menghadiri acara seminar yang di adakan di rumah sakit ini sore nanti. So, sebelum acara di mulai, aku putuskan untuk mampir, tidak masalah bukan?” tanya Fayya tersenyum tenang, seperti biasa dan bersikap seolah semuanya baik baik saja.
“Seminar?” Kiano mengerutkan dahinya.
“Iya, Profesor Yordan yang mengundang ku kemari.” Jawab Fayya, “Sepertinya beliau sangat paham tentang jurusan ku, padahal aku sudah hampir tidak berminat di sana,” imbuh nya segera memalingkan wajah.
Profesor Yordan adalah dokter spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif. Dulu, Fayya mengambil jurusan itu, lantaran Kiano yang mengambil jurusan bedah Onkologi, jadilah ia mengambil jurusan Anastesiologi, berharap bisa menjadi rekan kerjasama yang kompak dengan Kiano. Namun, semua itu seolah sirna ketika dirinya menemukan seorang bayi yang terlantar di pinggir jalan dengan keadaan yang sangat memprihatinkan.
Kiano dan Fayya melacak dan terus menyelidiki tentang kasus demi kasus anak jalanan yang terkena gizi buruk. Sejak saat itu, Fayya mengubah alur profesinya menjadi spesialis anak. Dan menetap di Bali.
Fayya tidak berniat untuk menetap di Bali, ia hanya ingin magang saja di sana. Akan tetapi, dirinya terlalu nyaman dan akhirnya ia menetap di sana. Yang mengakibatkan hubungan nya dengan Kiano semakin merenggang dan berakhir dengan penyesalan karena Kiano lebih memilih untuk menyerah.
...~To be continue ......