
...~Happy Reading~...
“Kanker darah, sudah memasuki stadium akhir. Tiga tahun yang lalu, gadis itu datang dan memeriksakan dirinya sendiri. Tidak ada yang mengetahui nya, bahkan ia juga meminta agar kami tidak memberitahu keluarga nya. Awal nya semua berjalan baik, berbagai kemo dan pengobatan kami lakukan, akan tetapi beberapa bulan yang lalu, kami terpaksa menghentikan pengobatan karena dia hamil.”
“Saat Claudia mengatakan tentang kehamilan nya, saat itu juga kami sudah mendapatkan pendonor yang cocok untuk nya. Kami sudah menyarankan untuk segera operasi, namun ia menolak karena kehamilan nya. Dia tahu, bila kita melakukan operasi, maka janin yang ia kandung akan gugur. “
“Dia wanita yang sangat kuat, ceria dan pemberani. Namun di balik semua itu, dirinya sangat rapuh dan hancur.” Jelas seorang dokter wanita yang tengah menatap kosong pada ruangan di depan nya.
Dokter Farah, setelah sekian lama wanita itu mengundurkan diri dari Nolan Hospital, kini akhirnya Kiano kembali bertemu dengan wanita itu. Dan kini, dirinya tengah berada di Pranata Hospital, tempat dimana selama ini Claudia periksa.
Kiano memejamkan matana dengan begitu erat, menarik napas nya panjang saat mengetahui semua fakta yang amat teramat sangat menyakitkan untuk nya.
Memang beberapa bulan terakhir ini, tepat nya sejak dokter Farah mengundurkan diri, Claudia sudah tidak pernah mengajak Kiano untuk periksa kandungan. Claudia selalu pergi sendiri, selain itu memang jadwal check up Claudia selalu berbenturan dengan jadwal operasi Kiano.
Bukan tanpa sebab, semua itu Claudia lakukan agar Kiano tidak mengikuti nya dan tahu tentang keadaan nya.
Entah berapa kali ia melihat wajah istrinya yang pucat, Kiano pikir itu adalah efek kehamilan. Namun ternyata kini dirinya sudah tahu jawaban nya. Sungguh, ia merasa sangat tidak berguna saat baru mengetahui bahwa istrinya memiliki penyakit yang semengerikan itu.
“Lalu, bagaimana pendonor itu? Apakah bisa istri ku melakukan operasi sekarang?” tanya Kiano sambil menarik napas nya panjang.
“Maaf No, orang itu sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Dan kami belum menemukan pendonor lagi,” jawab dokter Farah menundukkan kepala nya dengan sedih.
“Kiano!” pekik dua wanita itu bersamaan.
“Far, bilang sama aku, dia gak akan kenapa napa kan? Istri ku baik baik saja kan? Iya, dia pasti baik baik saja!” ucap Kiano yang kini sudah mulai meneteskan air mata nya menatap sahabat nya dengan begitu lekat.
“Kenapa kamu tidak mengatakan padaku sejak awal hah! Kenapa Far, kenapa!” Bentak Kiano yang sudah sangat frustasi.
“Claudia yang melarang ku No! Aku gak bisa bilang sama kamu. Kamu tahu kan janji seorang dokter, menjaga identitas pasien itu nomor satu dan—“
“Tapi aku suami nya Far, aku suami nya!” gumam Kiano lirih tertahan.
“Kamu memang suami nya No, tapi buktinya dia masih belum bisa yakin pada mu. Dan jika di bandingkan dengan keluarga nya, orang tuanya, posisi mu masih kalah jauh. Orang tua Claudia hingga saat ini belum ada yang tahu, apalagi kamu! Apa kamu sudah mencintai nya hem? Benarkah kamu seorang suami?” tanya Farah terus melontarkan kata kata yang begitu menohok di hati Kiano, tak lupa Farah juga melirik ke arah gadis yang sejak tadi terdiam tak jauh dari tempat mereka berdebat.
“Malu kamu No, malu! Kalau memang kamu suami nya, harusnya kamu lebih peka terhadap nya, harusnya kamu bisa merasaka perbedaan tentang dirinya!” imbuh Farah memekik.
Farah berniat untuk makan malam bersama seseorang di restauran yang sama dengan Kiano, namun saat hendak masuk ia tak sengaja melihat kedatangan Kiano yang panik sambil menggendong Claudia akan tetapi juga ada Fayya di belakang nya.
Maka dari itu, Farah langsung mengajak Kiano agar membawa Claudia ke Pranata Hospital karena selama ini, sejak awal memang pengobatan Claudia ada di sana.
...~To be continue .......