Bad Pregnancy

Bad Pregnancy
Warna baru



...~Happy Reading~...


Setelah mencari keberadaan Claudia di semua tempat dan tidak mendapatkan hilal. Kini akhirnya Kiano bisa bernafas dengan lega saat menemukan istrinya yang sedang menikmati ice cream di depan sofa sambil menonton sebuah kartun.


Lelah dirinya mencari ke sana kemari, karena khawatir dengan kasus yang menimpa istrinya. Namun ternyata yang di khawatirkan justru malah sedang asik tertawa terbahak bahak karena menonton kartun.


'Benar benar lebih ajaib dari Kaila!' gumam Kiano langsung bernafas dengan lega.


Grepp!


"Kakak!" pekik Claudia terkejut saat tiba tiba mendapatkan pelukan dari suami nya, "Kok kakak tahu Clau disini?" tanya nya.


"Kenapa kamu pulang kesini gak ngabarin aku? Dan kenapa gak pulang aja ke rumah?" Kiano menatap Claudia dengan begitu intens, mencoba mengamati wajah Claudia dengan seksama.


"Kalau nanti Clau pulang ke rumah, jadi ketahuan dong kalau Claudi bolos. Kata kakak kan gak boleh bolos, makanya Claudi pulang ke rumah Ayah biar gak ketahuan, eh malah ternyata ketauan juga!" jawab Claudia polos sambil memanyunkan bibir nya.


Dan seketika itu juga Kiano langsung speechless. Ia benar benar tidak melihat adanya raut kesedihan di wajah Claudia. Setelah mendapatkan tamparan dan viral nya kasus dia karena fitnah. Wanita itu sama sekali tidak terlihat sedih atau trauma.


"Wajah kamu—" tangan Kiano terulur untuk menyentuh kedua pipi Claudia yang nampak memerah. Dan Kiano yakin bahwa itu karena hasil cetakan tangan dari orang tua Andrew Browen.


"Oh, tadi Claudi nyobain blush on nya Bunda, bagus gak sih kalau pipi Claudi kaya gini? Nanti—"


Belum sempat Claudia menyelesaikan penjelasan nya yang berdusta, Kiano segera membungkam bibir itu dengan bibir nya. Kiano tahu bahwa Claudia berbohong, dan mungkin Claudia belum sadar bahwa dirinya kembali viral setelah mendapatkan tamparan keras dari orang tua Andrew.


Di video itu memang hanya terlihat satu tamparan. Namun, wajah Claudia memerah kanan dan kiri. Membuat Kiano yakin bahwa Claudia mendapatkan dua kali tamparan, namun ia bingung mengapa Claudia memilih untuk berbohong pada nya.


Ia langsung mengambil nafas sebanyak mungkin saat berhasil melepaskan diri dari ciuman maut suami nya.


"Ke kamar aja yuk!" ajak Claudia seketika membuat Kiano kembali tercengang.


Ia pikir, Claudia melepaskan ciuman nya dengan paksa karena akan marah atau kembali merajuk. Akan tetapi, wanita itu justru mengajak nya pindah tempat.


Kiano tersenyum dan menggelengkan kepala nya dengan pelan. Sungguh, dia tidak menyangka bisa memiliki istri serandom itu. Akan tetapi, Kiano akui, sejak menikah dengan Claudia, hidup nya semakin berwarna dan sedikit bahagia.


"Ayo kak, ke kamar aja. Tapi gendong!" rengek Claudia dengan merentangkan kedua tangan, meminta agar Kiano menggendong nya dan membawa ke dalam kamar.


"Mau ngapain ke kamar?" tanya Kiano berpura pura.


"Dede bayi kecil, maun ngajakin Papip nya main," jawab Claudia setengah berbisik hingga membuat Kiano hampir tergelak karena nya.


"Apakah tidak ada panggilan lain selain Papip?" tanya Kiano yang merasa sedikit aneh dengan panggilan tersebut, "Bisa ayah, Papa, atau—"


"No!" Claudia langsung menggelengkan kepala nya dengan cepat, "Sudah ada Ayah Stive dan papa Kaisar. Jadi Papip Kiano, let's go to room!" imbuh Claudia di sertai pekikan kecil, sangat persis seperti anak kecil yang meminta sesuatu pada orang tua nya.


Kiano kembali tersenyum dan menganggukkan kepala nya. Namun, baru saja dirinya hendak menggendong Claudia dan membawa nya ke dalam kamar, tiba tiba sebuah suara bariton menghentikan langkah kaki nya.


...~To be continue... ...