
...~Happy Reading~...
“Aku akan memberikan yang lebih dari ini,”
“A—apakah akan sakit seperti watu itu?” tanya Claudia dengan mata mengerjap takut.
Meskipun ia tidak mengingat dengan jelas apa yang ia lalui bersama Kiano saat itu. Namun, ketika pagi harinya, ia sangat ingat bagaimana rasanya. Terlebih saat dirinya harus berlari karena takut Kiano akan terbangun. Belum lagi saat ia ke sekolah, ia harus memanjat pagar dan terjatuh.
Membayangkan akan rasa sakit di area selatan nya, membuat nya sedikit ngeri. Padahal semalam ia sangat ingin merasakan malam panas lagi, namun entah mengapa kini tiba tiba rasa ingin nya itu lenyap ketika membayangkan kembali rasa sakit nya kala itu.
“Maafkan aku jika dulu sudah menyakiti kamu,” ucap Kiano kembali membelai wajah Claudia, “Tapi kali ini aku akan melakukan nya perlahan.”
Claudia menelan saliva nya, ia kembali memejamkan matanya saat merasakan tangan Kiano kembali berjelajah dan mulai menurunkan resleting gaun belakang nya, membuat Claudia harus mengangkat tubuh nya sedikit ke atas hingga mengakibatkan kedua bukit nya semakin terpampang tepat di wajah Kiano.
Laki laki itu tersenyum tipis, matanya terus menatap pada wajah Claudia yang ternyata semakin menggemaskan jika sedang seperti itu.
Katakanlah dirinya bodoh. Menyia nyiakan gadis seperti Claudia. Namun, kali ini dirinya sadar, benar benar sadar, bahwa yang harus ia pikirkan saat ini hanya Claudia dan bayi nya, bukan gadis lain, termasuk fayya.
Terlebih saat dirinya berlaku manis kepada Claudia, seketika itu juga rasa pusing, mules dan mual yang ia rasakan sebelumnya, seolah sirna begitu saja. Membuat nya sadar, bahwa memang inilah jalan hidup nya.
Setiap kali dirinya menyakiti perasaan Claudia, bukan kakak ipar nya atau ayah mertuanya yang akan memberikan nya hukuman. Namun anak nya sendiri yang selalu sigap menjadi garda terdepan bagi ibu nya.
Glek!
Kiano menelan saliva nya dengan sulit, saat melihat tubuh istri nya yang sudah terekspos tepat di bawah kungkungan nya. Dua bukit keramat yang sebelum nya hanya bisa di rasakan oleh tangan nya, kini bisa ia lihat dan nikmati pemandangan nya.
Ahhh!
“Kakak ssttt!” Claudia semakin menggigit bibir bawah nya, saat Kiano semakin memberikan kenikmatan yang bertubi tubi.
Memanjakan tubuh nya dengan sangat baik hanya dengan menggunakan tangan dan mulut nya, sudah membuat Claudia semakin pusing bukan kepalang, ia merasa seperti melihat ribuan kembang api yang meledak di atas kepala nya.
“Apa kamu siap?” tanya Kiano, sambil perlahan mulai melepaskan pakaian nya satu persatu.
Ya, sejak tadi hanya Claudia saja yang naked, namun Kiano masih utuh dengan pakaian lengkap. Dan kini, hanya hitungan detik, laki laki itu juga sudah ikut naked. Membuat Claudia kembali harus menelan saliva nya, merasa ngeri dengan pemandangan yang ia lihat tepat di depan matanya.
Kembali lagi di tegaskan, saat itu dirinya mabuk. Tidak begitu jelas merasakan apalagi melihat bentuk dan wujud benda yang kini sudah membuat nya hamil. Jadilah ia terkejut ketika melihat wujud asli dari benda tersebut.
“kakak serius? Y—yakin?” tanya Claudia semakin menelan Saliva nya.
“Apakah kamu ragu, hem?” kata Kiano balik bertanya sambil terus memainkan keduanya agar berkenalan terlebih dulu.
“B—bukan, hanya saja, aaahhh!” Claudia langsung memejamkan matanya lagi dan menggigit bibir bawah nya, saat sesuatu berusaha memasuki nya.
“Hanya saja apa?” tanya Kiano lagi dan semakin menggoda istri nya.
“H—hanya saja, apakah itu akan muat nanti nya? C—Clau takut,” gumam nya lirih hingga membuat Kiano semakin tak kuasa menahan untuk tidak tertawa.
“Kalau tidak muat, kau tidak mungkin mengandung anak ku sekarang,” jawab Kiano seraya berbisik di telinga Claudia.
...~To be continue .....
...Udah stop dulu, stop dulu. Mumpung panas, gantung jemuran dulu kuy 🙈🤣🤣🤣🤣...