
...~Happy Reading~...
“Bukankah hari ini jadwal nya untuk periksa?” tanya Kiano saat sedang menikmati sarapan pagi nya.
“Hemm,” Claudia menganggukkan kepala nya sambil mengunyah makanan, “Nanti pulang sekolah, Claudi ke rumah sakit.”
“Nanti biar aku yang jemput,” kata Kiano yang langsung di tolak mentah mentah oleh Claudia.
“Clau masih mau mampir ke toko buku sama Hani. Kalau kakak jemput Claudi, nanti dia tahu kalau Claudi sudah menikah!” kata nya sambil menggelengkan kepala.
“Kamu memanggil ku kakak, jadi anggap saja aku kakak mu!” ucap Kiano memberikan usul namun lagi lagi Claudia menggelengkan kepala nya.
“Dia tahu kakak Claudi Cuma kak Clayton. Jadi pasti nanti dia banyak tanya, makanya lebih baik gak usah aja, Claudi bisa naik taksi kok,” jawab nya berusaha meyakinkan suami nya.
Saat tengah menikmati sarapan nya, tiba tiba Claudia mendorong kursi yang di duduki nya dengan cukup kencang hingga membuat Kian terkejut.
“Ada apa?” tanya Kiano.
“Pengen pipis hehe sama sedikit mual!” jawab Claudia seraya menutup mulut nya, lalu ia segera berlari menuju toilet yang berada tak jauh dari meja makan nya.
Brakkk!
“Astaga, non Claudi!” pekik mbak Niken saat melihat tubuh Claudia terjatuh menubruk pintu kamar mandi, “Non, astaga.”
Tak berapa lama, Kiano juga datang sambil berlari saat mendengar suara gebrakan pintu itu. Dan betapa terkejut nya ia saat melihat istrinya sudah terkulai lemas di pangkuan pembantu rumah tangga nya dengan keadaan yang sangat mengenaskan.
Seragam sekolah nya yang berwarna putih abu abu, kini sudah tak terlihat putih lagi, melainkan merah karena darah yang keluar dari hidung nya.
“Clau, hey bangun, Claudi,” Kiano berusaha menepuk nepuk wajah istri nya, “Clau ... “
Sementara itu, mbak Niken yang melihat keadaan Claudia hanya bisa menangis dan kembali mengingat kembali perkataan yang di ucapkan oleh Claudia beberapa saat yang lalu.
‘Jangan katakan apapun.’
Mbak Niken semakin kuat mencengkram ujung baju nya, dada nya kian terasa sesak dan air mata nya semakin tak terbendung lagi.
Sementara itu, Kiano yang sudah tiba di rumah sakit, langsung mengangkat tubuh istri nya dan membawanya ke ruang penanganan.
“Kenapa?” tanya dokter Farah yang secara kebetulan melihat kedatangan Kiano dengan sangat panik.
“A—aku tidak tahu, tolong periksa dia. T—tolong ... “ ucap Kiano dengan suara bergetar hebat.
Untuk pertama kalinya, setelah bertahun tahun ia mengenal sosok dokter Kiano. Farah akui, bahwa ini adalah kali pertama ia melihat wajah kalem dan lembut seorang Kiano berubah menjadi panik bahkan sampai hampir meneteskan air matanya.
“Kamu tunggu di luar saja,” ujar dokter Farah yang langsung di balas anggukkan setuju oleh Kiano.
Ia terus berjalan mondar mandi dengan perasaan yang tidak tenang. Ia kembali berfikir dan mencoba menebak apa yang terjadi pada istri nya.
Hanya beberapa detik setelah ia melihat istrinya yang begitu ceria dan penuh semangat, namun tiba tiba ambruk dan tak sadarkan diri.
Bukan, ini bukan salah pintu. Jika Claudia hanya menabrak pintu, tentu saja wanita itu tidak akan langsung pingsan. Separah apapun, kecuali Claudia berlari maraton.
Sedangkan tadi Claudia hanya berlari kecil, apa iya bisa langsung pingsan dan mengeluarkan darah segitu banyak nya? Batin Kiano semakin frustasi saat menunggu dokter keluar dari ruang penanganan.
...~To be continue ......